Tag Archives: Hamid Jabbar

Puisi-Puisi Hamid Jabbar

LAPANGAN RUMPUT, SISA EMBUN DAN MASA KANAK-KANAK

Lapangan rumput, sisa embun dan masa kanak-
kanak menggelinding bagai bola, serangga tak
bernama, impian-impian dan entah apa-apa.
Menggelinding bagai bola, sebuah lomba tentang
bahagia, gol dan sukses, tetapi yang terjaring adalah
nasib dan bukan tidak apa-apa. Peluit tidak
berbunyi, aturan-aturan dibuat dan dimakan,

SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR

: KESERIUSAN YANG TAK KENAL LELAH
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hamid Jabbar, Super Hilang (Balai Pustaka, 1998), xii + 397 halaman
Puisi bukanlah caci-maki. Ia juga tidak sekadar ungkapan perasaan melankolis remaja yang cengeng. Seperti juga ragam karya sastra lainnya, sangat mungkin puisi dimanfaatkan sebagai alat untuk mengungkapkan kegelisahan penyair ketika ia mesti ber-hadapan dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan atau manakala ia merindui cinta ilahiah. Oleh karena itu, di tangan penyair, puisi dapat menjadi semacam potret kehidupan atau ekspresi subjektif penyairnya sendiri.

In Memoriam: Si “Superhilang…” Kini Telah Tiada

Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya. Hamid Jabbar meninggal saat mengisi Pentas Orasi Seni dan Budaya di Universitas Islam Negeri (UIN–dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu malam (29-5), bersama Jamal D. Rahman, Putu Wijaya, Frans Magnis Suseno, dan Frangky Sahilatua. Acara itu sendiri merupakan rangkaian Dies Natalis ke-2 UIN.

Hamid Jabbar, Meninggal ketika Berpuisi

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

”SANG waktu masih saja berlagu mengalir tertib tanpa sedikit pun merasa ragu. Aku pun mengalir di dalamnya. Kadang-kadang terasa lewat dan terjepit di sela-sela sang waktu, tersendat-sendat, kemudian terhuyung-huyung seakan menggelinding dari ”kutub-ingat” lewat titik pusat kebingungan…