Memahami Jarak dan Aroma Ajal

Taufiq Ismail
GATRA, Edisi 30, 4 Juni 2004

HAMID Jabbar, 55 tahun, wafat ketika sedang baca puisi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), Ciputat, Sabtu malam, 23.00, 29 Mei 2004, di depan mahasiswa, dosen, dan tamu yang memadati aula dalam acara dies natalis perguruan tinggi itu. Dua larik puisi terbarunya itu dibaca dari layar Communicator 9210i, berbunyi: Walaupun Indonesia menangis/ mari kita tetap menyanyi// Continue reading “Memahami Jarak dan Aroma Ajal”

SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR

: KESERIUSAN YANG TAK KENAL LELAH

Maman S. Mahayana *

Hamid Jabbar, Super Hilang (Balai Pustaka, 1998), xii + 397 halaman
Puisi bukanlah caci-maki. Ia juga tidak sekadar ungkapan perasaan melankolis remaja yang cengeng. Seperti juga ragam karya sastra lainnya, sangat mungkin puisi dimanfaatkan sebagai alat untuk mengungkapkan kegelisahan penyair ketika ia mesti ber-hadapan dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan atau manakala ia merindui cinta ilahiah. Continue reading “SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR”

In Memoriam: Si “Superhilang…” Kini Telah Tiada

Isbedy Stiawan Z.S.
lampungpost.com

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya. Hamid Jabbar meninggal saat mengisi Pentas Orasi Seni dan Budaya di Universitas Islam Negeri (UIN–dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu malam (29-5), bersama Jamal D. Rahman, Putu Wijaya, Frans Magnis Suseno, dan Frangky Sahilatua. Acara itu sendiri merupakan rangkaian Dies Natalis ke-2 UIN. Continue reading “In Memoriam: Si “Superhilang…” Kini Telah Tiada”