Perlawanan Itu Indah

Hikmat Darmawan *
Kompas, 5 Des 2010

GAGASANNYA adalah perlawanan. Sesuatu yang nyaris ditinggalkan karena capek dan putus asa. Sebermula, kartun memang mengandung politik. Teknik menggambar kartun ala Barat lahir dari rahim Renaissance. Kitab pertama yang tercatat dalam sejarah seni adalah karya Mosini dari Italia, Diverse Figures (1646). Teknik yang seolah ”hanya cara menggambar” ini didasari oleh sebuah gagasan yang sebetulnya politis. Continue reading “Perlawanan Itu Indah”

Keseriusan dan Kebermainan

Hikmat Darmawan
Republika, 1997

Bisakah yang sakral, atau religiusitas, mengendarai humor dalam menemui manusia modern?

Milan Kundera, dalam Testament Betrayed, malah menegaskan bahwa humor adalah antitesa manusia modern atas agama. Humor, kelakar, olok-olok, memang mampu membuyar segala yang serius, menjungkir segala yang luhung, serta mencairkan yang serba tabu – dan kita tahu, agama kadung amat kental mengandung “segala yang serius”, “…yang luhung” dan “…serba tabu”. Continue reading “Keseriusan dan Kebermainan”

100 TAHUN Sutan Takdir Alisjahbana

Hikmat Darmawan
Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008

Sutan Takdir Alisjahbana punya sumbangan tak langsung dan langsung pada pemikiran Islam di Indonesia. Seumur hidup tak mau diam, menggugat, mencari ‘yang jelas’.

Pada siang seusai hujan itu, di Desa Tugu, Cisarua, Dian Sastro membacakan puisi Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berjudul Aku dan Tuhanku. Rumput basah dan langit mendung, dan suara muda Dian membacakan pernyataan-pernyataan filosofis STA. Continue reading “100 TAHUN Sutan Takdir Alisjahbana”

Mo Yan dan ?Posmodernisme Kampung?

Hikmat Darmawan
http://www.ruangbaca.com/

Karya-karyanya bermula dari rasa lapar. Canggih, sekaligus kampungan.
Kau harus mencicipi kepahitan hidup. Baru setelah itulah kau bisa menulis.
(Mo Yan, wawancara)

Kenzaburo Oe, pemenang Nobel Sastra 1994, haqul yakin bahwa Mo Yan adalah pengarang Cina yang pantas memenangi Nobel Sastra. Apakah Mo Yan lebih pantas daripada Gao Xinjian, pemenang Nobel Sastra 2000? The Economist (2001) setidaknya meragukan apakah Gao cukup mewakili perkembangan mutakhir sastra Cina. Continue reading “Mo Yan dan ?Posmodernisme Kampung?”