Surat Kepada Luqman 2

Kavellania Nona Pamela

Aku ingin bertanya pada awal surat keduaku ini padamu. Apa kabarmu hari ini Luqman? Maksudku apa kabarnya setelah kau membaca suratku kemarin? Ternyata kau masih saja membisu dan aku pun juga membisu. Kita sama-sama membisu bukan, Luqman? Padahal kerinduan telah dingin menyelimuti diriku sebesar minus derajat sekian. Dingin sekali Luqman, hingga aku membeku dan tak lagi menemukan mantel hangat pada kerinduan itu. Sampai kapan kau akan membiarkanku membeku seperti ini, menyiksaku dengan sayatan rindu pada lembar kisah yang telah memudar dulu. Continue reading “Surat Kepada Luqman 2”

Surat Kepada Luqman 1

Kavellania Nona Pamela

Luqman, telah kuterima dan kubaca puisimu dengan untaian kata yang mampu menyihir hatiku menjadi rapuh, serapuh tongkat yang menyebabkan Sulaiman menghembuskan napas terakhirnya akibat termakan rayap. Untung saja aku bukan tongkat, aku masih mampu bertahan dalam kerapuhanku karena setiap bait pada puisi itu tersimpan secuil kehangatan selayak mantel pada musim dingin di Negeri Sakura. Tahukah Luqman, kehangatan itu telah membuaiku ke dalam harapan, padahal begitu takutnya aku memiliki harapan yang nantinya akan membuatku tersayat kembali karena kamu. Continue reading “Surat Kepada Luqman 1”

Kepekatan Malam Tak Berujung

Kavellania Nona Pamela

Salah satu coffe shop di bilangan Kemang begitu ramai. Maklum saja ini malam Minggu sehingga lumayan banyak pengunjung yang datang. Pada salah satu sudut ruangan Amara hanya duduk sendirian, sibuk berinternet dengan laptop. Biasanya jika malam Minggu seperti ini Reihan selalu datang dari Purwekerto ke Jakarta untuk menemaninya menghabiskan malam minggu. Tiga bulan yang lalu Reihan disuruh memegang bisnis keluarganya, maka dari itu Reihan yang tadinya tinggal di Jakarta dan satu kantor dengan Amara, pindah ke Purwekerto. Continue reading “Kepekatan Malam Tak Berujung”

Ilusi

Kavellania Nona Pamela

“Kenapa belum tidur?” Tanya Kudo pada jendela chatting di YM.

Vella melirik jam pada dinding berwarna biru. Pukul setengah dua belas malam. Ia mendesah pelan, menahan semua rasa sakitnya. Ia tahu persis alasan mengapa belum juga pergi ke alam mimpi. Kali ini ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat, degub jantungnya tak stabil menahan perihnya sayatan itu. Tapi tetap saja air matanya enggan untuk keluar padahal ia tidak sedang menahan tangis. Mungkin kemarau telah datang pada matanya atas kejadian ini. Continue reading “Ilusi”