Andai Saut Situmorang Dipenjara

Muhammad Al-Fayyadl

Andai Saut Situmorang dipenjara, hanya karena ulah kecilnya mengatakan “bajingan!” dalam polemik buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, maka kita akan kehilangan seorang kritikus yang kreatif memainkan “politik performatif” dalam pergaulan sastra Indonesia kontemporer. “Politik performatif”, seperti dianalisis Judith Butler dalam Excitable Speech, adalah suatu politik yang mempermainkan bahasa untuk bereaksi atas perilaku orang lain, dan menjadikan bahasa suatu tindakan politik itu sendiri. Continue reading “Andai Saut Situmorang Dipenjara”

Mencari Tokoh Bagi Roman

Iwan Simatupang

Tokoh yang bagaimana saja bisa tampil dalam roman. Terserah teknik pengarang, mana didulukan. Tokoh dulu, baru menyusul cerita bersama persoalan gaya. Atau, sebaliknya.

Seorang Giraudoux memilih yang sebaliknya. Cari dulu gayanya, idenya menyusul kemudian, kata dia. Dengan ide antara lain maksudnya tokohnya, tokoh-tokohnya. Sedangkan Proust bertahun-tahun mencari tokohnya dulu. Sekali ketemu, tokohnya itu (walau ini dirinya sendiri) tak mudah lagi meninggalkannya. Hasilnya, A la Recherche du Temps Perdu,  berjilid-jilid. Dan berapa banyak pengarang atau calon pengarang lainnya, yang keburu mati tanpa kunjung menemu tokohnya, gayanya? Continue reading “Mencari Tokoh Bagi Roman”

Mengapa Konfrontasi

Soedjatmoko

Sudah beberapa lama dunia kesusastra­an kita mempersoalkan, apakah kita berada di dalam krisis kesusastraan ataukah tidak. Munculnya pertanyaan ini sebenarnya sudah menandakan adanya krisis. Pertanyaan terse­but tidak dapat dikesampingkan begitu saja dengan menunjukkan arus yang terus-mene­rus diciptakan dalam karya sastra yang telah mengisi lembaran majalah kesusastraan dan kebudayaan kita. Continue reading “Mengapa Konfrontasi”

Bahasa »