Tag Archives: Kuswaidi Syafi’ie

Bahasa Ruhani

Kuswaidi Syafi’ie
kabarbangsa.com

Bahasa merupakan sarana bagi berlangsungnya transformasi pemahaman dari “orang pertama tunggal” kepada komunikannya atau sebaliknya. Dilukiskan bahwa ketika kerja bahasa berlangsung, di situ sesungguhnya terbentang jarak yang sedang diatasi di antara dua kutub atau lebih. Bahasa tampil sebagai aktualisasi dan perayaan terhadap “kebersamaan di antara aku-engkau” dalam pemahamannya yang luas dan majmuk.

Surat Terbuka untuk M Fadjroel Rachman Dkk

Kuswaidi Syafi’ie*
Media Indonesia, 19 Agust 2007

DI dalam tulisanmu yang berjudul ‘Membela Manusia, Merayakan Kebebasan’ (Media Indonesia, 29 Juli 2007), Anda mengandaikan tidak ada tujuan dan ukuran apa pun di luar kehidupan manusia dan kemanusiaan. Saya pun jauh-jauh hari sudah memahami ungkapan demikian, tepatnya 20 tahun yang silam ketika saya mempelajari kitab Manthiq di sebuah pesantren. Adagium Al-insanu miqyasu kulli syayin dikumandangkan dengan lantang oleh filsafat subjektivisme.

Ketika Waktu Jadi Beku*

Tentang ?Sepuluh Tahun Kemudian?-nya Hadjid Hamzah

Kuswaidi Syafi’ie*
http://www.kr.co.id/

Cinta tulis Sutrimo Edy Noor dalam salah satu sajaknya, membuat segalanya mungkin. Dan pasti bahwa kalimat sang penyair dari pesisir utara Jawa itu bukanlah merupakan jalinan idiom-idiom yang kosong: kalimat itu ingin mendedahkan tentang betapa dahsyatnya kekuatan yang terkandung di dalam cinta itu sehingga ia sanggup merobek berbagai keangkuhan apapun yang selainnya. Karenanya, baju kemungkinan senantiasa menjadi kehormatan yang disandangnya.

Puisi-Puisi Kuswaidi Syafi’ie

http://sastrakarta.multiply.com
TARIAN DI BUKIT CINTA 1

Untuk sementara
Aku menyebutmu Efa
Meski aku tahu
Itu bukan namamu

Bukan apa-apa Adik
Di luar amat banyak cincong dan hardik
Hingga angin seperti tak bertuan

Puisi-Puisi Kuswaidi Syafi’ie

http://sastrakarta.multiply.com
SUFI DAN FILOSOF

“apa kabar hari-harimu?”
tanya sufi pada filosof
di senja hari yang murung

“aku melesat dari bukit ke samudra
dari sungai ke awan
dari pohon-pohon ke batuan,”