LINUS DAN PARIYEM

R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto
Majalah Tempo, 9 Agu 1999

LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Continue reading “LINUS DAN PARIYEM”

Tapol 007: Cerita Tentang Seorang Kawan

Yos Rizal Suriaji, Kurie Suditomo, Evieta Fadjar, LN Idayanie
– Majalah Tempo, 8 Mei 2006

Mereka berbicara tentang seseorang, juga tentang sebuah masa yang jauh.
Oey Hay Djoen datang ke Tempo, Rabu lalu, dengan ditopang sepotong tongkat. U-sianya 77 tahun. Tapi suaranya masih lantang-. Ingatannya pada masa lalu masih jernih. Oey a-dalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat dan anggota MPR/DPR GR dari Partai Komunis Indonesia. Ia dikarantina sejak 1969 sampai 1979. Ia menempati Unit 3 Wanayasa. Oey adalah tahanan politik (tapol) berbaju nomor 001. Continue reading “Tapol 007: Cerita Tentang Seorang Kawan”

Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung

Seno Joko Suyono, Nurdin Kalim, L.N. Idayanie, Evieta Fajar, Suseno
http://majalah.tempointeraktif.com/

Peristiwa itu masih melekat di benak Herman Lantang, 65 tahun. “Man, entar turunnya bareng gue. Lu, gue tunggu di sini,” kata Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie beristirahat di sebuah ceruk. Ia menggigil kedinginan. Udara Gunung Semeru sangat menusuk waktu itu,16 Desember 1969. Dari Ranu Kumbolo, sebuah danau di Gunung Semeru, Herman Lantang, Aristides Katoppo, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Freddy Lasut, Rudi Badil, Abdurachman, dan Wiyana bergerak menuju Arcopodo yang terletak pada ketinggian 3.200 meter di atas permukaan laut?pos terakhir sebelum puncak. Continue reading “Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung”

Energi Baru Achdiat

Nurdin Kalim, L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sastrawan angkatan Pujangga Baru, Achdiat Kartamihardja, ramah melayani puluhan penggemar yang antre meminta tanda tangan. Jari-jarinya yang sudah tampak keriput bergetar saat menorehkan pulpen di buku Manifesto Khalifatullah, Rabu sore pekan lalu, dalam acara peluncuran buku terbarunya itu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya sangat bahagia bisa datang lagi ke sini,” ujar kakek yang 43 tahun terakhir menetap di Canberra, Australia, itu dengan sumringah. Continue reading “Energi Baru Achdiat”

Warisan Sang Pembuka Pintu

L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada nama Jawa untuk menandai ruangan itu. Ya, Artati, artinya manis, sama dengan Zoet dalam bahasa Belanda. Sesungguhnya, Artati adalah nama samaran Zoetmulder untuk dua tulisannya, De Strijd om het Paradijs dan Literatuur over den Islam. Dulu, seratus hari setelah Zoet meninggal, nama itu diabadikan di ruangan itu. Ruangan bagian dari Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta. Continue reading “Warisan Sang Pembuka Pintu”