“Love You Till The End”, Novel Ringan tentang Cinta Lesbian

Mila Novita
Sinar Harapan, 28 Maret 2009

Sebagian orang percaya bahwa apa yang tertuang di karya fiksi sesungguhnya menggambarkan realitas dalam masyarakat. Ketika realitas terlalu tabu untuk diungkapkan secara nonfiksi, fiksi pun menjadi pilihan.

Begitulah Mery DT, seorang penulis yang baru pertama kali menerbitkan novelnya, ketika mengangkat isu lesbian. Judulnya terasa “sangat Inggris”, Love You Till The End. Continue reading ““Love You Till The End”, Novel Ringan tentang Cinta Lesbian”

Masriyah Amva, Pesantren, dan Sastra

Mila Novita
Sinar Harapan, 7 Feb 2009

“Sejak kecil orang pesantren sudah dekat sekali dengan puisi, nazam. Orang menghafal nama-nama nabi atau nama-nama Allah dengan nazam sehingga otomatis akan mudah dihafal. Di pesantren, orang belajar kitab, bahkan gramatikal bahasa Arab juga dengan rumus-rumus sastrawi. Mengapa? Karena pesantren (sejak-red) zaman dahulu tidak boleh mengabaikan keindahan,” ujar Masriyah Amva di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Rabu (4/2). Continue reading “Masriyah Amva, Pesantren, dan Sastra”

Kepahlawanan Karl May

Mila Novita
Sinar Harapan, 4 April 2009

Seorang siswa SMU di Surabaya membaca novel setebal 600 halaman dalam satu malam. Sebagian dari kita mungkin terkagum-kagum. Namun, jika mengetahui novel itu adalah Winnetou, empat karya terakhir Karl May, kita menjadi maklum.

Novel yang berisi petualangan seorang laki-laki Jerman yang dikenal sebagai Old Shatterland dengan sahabat Indiannya, Winnetou, itu membuat pembacanya, termasuk remaja, tidak terhenti membaca di tengah jalan. Continue reading “Kepahlawanan Karl May”

Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia

Mila Novita
sinarharapan.co.id

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Begitu Pramoedya Ananta Toer (atau akrab disapa Pram) berpesan dalam Rumah Kaca, salah satu buku dari tetralogi roman Pulau Buru yang diwariskannya untuk Indonesia.

Tulisan Pram memang membuat ia tidak hilang dari sejarah, meskipun pada 30 April tiga tahun lalu jasadnya dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta. Ia sastrawan terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Ia juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berulang kali dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel, meski tidak pernah “sukses” membawa penghargaan itu pulang ke negerinya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia”

Lari dari Blora, Berkenalan dengan Masyarakat Samin

Mila Novita
http://www.sinarharapan.co.id/

Keharmonisan kehidupan masyarakat Samin di Pati tiba-tiba terusik. Seorang peneliti dari LSM asing, Chintya (Annika Kuyper) dan seorang guru sekolah dasar dari kota, Ramadian (Iswar Kelana), dianggap penyebabnya. Mereka tidak mengacau, namun perubahan yang mereka bawa mengusik warga.

Ramadian ingin membuat anak-anak Samin berpendidikan, sementara Chintya ingin masyarakat Samin dikenal dunia. Namun, niat mereka itu dianggap merusak kebiasaan orang-orang Samin yang tidak mengenal sekolah. Bagi mereka, hidup harmonis, tanpa iri hati dan saling curiga sudah menjadi kunci kehidupan. Continue reading “Lari dari Blora, Berkenalan dengan Masyarakat Samin”