Menggoyang Kekukuhan Bahasa Indonesia

Peresensi: Ahmad Farid Yahya *
Jawa Pos, 6 Des 2020

Novel ini menyajikan kerumitan bahasa dengan tujuan membuat bahasa Indonesia berkelindan dengan bahasa daerah.

MEMBACA novel Burung Kayu serupa anak bayi belajar bahasa. Novel ini menyajikan kerumitan bahasa, di mana bahasa Mentawai berkelindan dengan bahasa Indonesia baku dalam rangkaian kalimat-paragrafnya. Tanpa catatan kaki, tanpa glosarium. Serupa anak kecil yang mulai memahami kosakata baru, satu per satu. Continue reading “Menggoyang Kekukuhan Bahasa Indonesia”

CERMIN BURAM KEPENYAIRAN BANTEN

Niduparas Erlang *

Melihat perkembangan penulis-penulis muda Banten, khususnya Serang, agaknya kita mesti pula menengok—tepatnya tak bisa terlepas dari—karya-karya mereka yang banyak bertebaran mewarnai media massa cetak, seperti koran atau tabloid lokal. Dan sepatutnya kita berbangga akan berlahirannya penulis-penulis muda sebagai regenerasi penulis yang tua-tua—yang konon sudah mulai sakit-sakitan. Continue reading “CERMIN BURAM KEPENYAIRAN BANTEN”

Yang Kuliah, Lalu Berdiskusi

Faisal Fathur

Universitas sebagai tempat bergumulnya pemikiran mestilah jadi tempat paling ideal bagi siapapun pegiat akademis untuk berkembang. Bukan semata-mata lekas mengejar gelar, lalu lulus menjadi makelar. Namun lebih berupaya memanfaatkan ruang-ruang pemikiran semasa kuliah demi menajamkan penalaran. Siapapun yang menempa ilmu di universitas seyogyanya sadar akan fungsi dirinya bisa berada di sana. Mahasiswa, juga tentu mafhum bahwa persoalan dialektika tak melulu mesti hadir di ruang kelas. Continue reading “Yang Kuliah, Lalu Berdiskusi”