Melirik Sajak “Perjalanan” Charles Baudelaire

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=480

Aku tak pernah mengukur suhu tubuhku dengan alat ukur. Namun dapatlah terasa, sebab telah akrab membawaku kemana pun pergi. Hampir beberapa hari ini aku tidak menulis, hanya perbaiki tulisan lama yang belum tegak berkaki-kaki kefitrohan sebagai hasil cipta.

Betapa kejiwaan tiada lepas kondisi badan, pun tidak bisa diabaikan jalinan pencernaan, yang membentuk karakter menentukan tapak-tapak langkah bathin pula yang wadak. Continue reading “Melirik Sajak “Perjalanan” Charles Baudelaire”

BAYI-BAYI BESAR SASTRA INDONESIA

Nurel Javissyarqi

Bermula dari sms kawan Fahrudin: “Rel, Geladak Sastra #3 diskusi dg tema GAIRAH MENULIS MENEMBUS KORAN. Kamu jd pembicara ya? Nanti sama Bandung Mawardi dr Solo.” Lalu aku telpon: “Den, tema itu kan tidak cocok denganku?” Dijawablah: “Makanya dibenturkan.” Lantas aku timpali: “Ok kalau begitu.” Tak berselang lama sms lagi: “Gaweo tulisan Rel, temane Gairah Menulis Menembus Koran.” Dan dari status facebook ini, aku coba menuangkan. Continue reading “BAYI-BAYI BESAR SASTRA INDONESIA”

KEMBANG JATI JENGENE OPO? OPO

(Bunga jati namanya apa? Apa)
Nurel Javissyarqi

Kaca benggala menyerupai udara padat sebening kaca tebal lawas, memantulkan sifat nun sanggup ditembusi cahaya. Para terpelajar berkata; ilmu filsafat melalui garba bertanya. Kini aku tampilkan sekuntum bunga pertanyaan adalah kembang pohon jati. Siapa bertanya akan balik tanya kepada penanya. Inikah masa-masa tepat mempertanyakan jati diri?

Jika dipurbakan bolehlah dinamai pohon keabadian, letak mustika insan dalam diri. Siapa tertunduk kelihatan, yang mendongak tidak mampu meresapi kesadaran. Melafali fitroh teremban, lelaku takdir sudah digariskan alam pribadi di luar pun yang melingkupi. Continue reading “KEMBANG JATI JENGENE OPO? OPO”

MASA-MASA TERTOLAK KARYANYA SENDIRI

Nurel Javissyarqi

Kala lesatan ruang-waktu bagai jepretan kamera atau film-film pendek banyak editing, sempoyongan memasuki lorong sakral terlampau purba. Teks usang tak mau dijamah kejelian kekinian, kehendaknya ke tubuh-tubuh lama mengerami kenangan.

Di mana tertolak karya sendiri, tak jua menyusup meski melewati kekhusyukan. Keluar-masuk tidak memberi apa-apa. Namun pada tempat sepantasnya, kesembuhan menyampaikan salam berseri-serasi seolah tiada kesadaran memasuki kembali. Continue reading “MASA-MASA TERTOLAK KARYANYA SENDIRI”

Bahasa »