Taufiq Ismail: Sistem Pendidikan Sastra Kita Keliru

Pewawancara: Oka Rusmini, Gus Martin
http://www.balipost.co.id/2003/3/23

Di tengah hiruk-pikuk perkembangannya, ternyata sastra Indonesia sesungguhnya masih terasa asing dan sendiri. Kesunyian inilah yang membuat Taufiq Ismail merasa harus turun ke daerah-daerah, sekolah-sekolah, universitas, untuk memperkenalkan kembali karya sastra Indonesia di mata pelajar, bertahun-tahun tanpa lelah. Akhirnya, perjuangan sastrawan ini mendapat perhatian dari Universitas Negeri Yogyakarta. Continue reading “Taufiq Ismail: Sistem Pendidikan Sastra Kita Keliru”

Oka Rusmini Makin Menjadi

Sunaryono Basuki Ks
suarakarya-online.com

Sejak terbitnya novel Tarian Bumi sebagai cerber Harian Republika, Oka Rusmini menjadi daya tarik sastra Indonesia. Kerenanya Taufiq Ismail dengan Horison Sastra Indonesia memasukkan nukilan novel ini di dalam Kitab Nukilan Novel, Horison Sastra jilid ke III.

Dia mewakili 41 novelis Indonesia yang karyanya dicuplik di dalam buku ini, bersamaan dengan Panji Tisna dan Putu Wijaya. Namun, Tarian Bumi bukanlah novel pertamanya. Saat dia masih duduk di bangku SMA, dai menulis novel berjudul Gurat-Gurat, di muat sebagai cerber di Bali Post tempat dia kemudian bekerja sebagai redaktur. Continue reading “Oka Rusmini Makin Menjadi”

Sipleg

Oka Rusmini**
http://www.jawapos.com/

LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serbaingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Continue reading “Sipleg”

Puisi-Puisi Oka Rusmini

http://www.jawapos.com/
MISA

Di sebuah caf?. Kau duduk terdiam. Segelas wine. Sepiring roti. Juga kentang dan sedikit keju dingin. Kau tak bicara. Matamu yang biru, lengkap dengan laut dan ombak. Menyiram tubuhku yang dingin, mungkin mendekati layu.

Di luar hujan. Tak biasanya hujan di kota ini. Kupesan secangkir kopi, setangkup roti, juga separuh steak. Aku tidak ingin memakannya. Aku hanya senang duduk diam sambil memandang wajahmu yang bersih. Harum susu dan keju di tubuhmu menyentuh kulitku. aku menggigil. Continue reading “Puisi-Puisi Oka Rusmini”