Tag Archives: Oky Sanjaya

Sajak-Sajak Oky Sanjaya, Ahmad Musabbih, Widya Karima

[Sajak-sajak ini secara berurut adalah juara I, II, dan III Batu Bedil Award yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus dalam rangkaian Festival Teluk Semaka].
http://www.lampungpost.com/

Pukau Kampung Semaka
Oky Sanjaya

baru semalam aku pulang
subuh mulai menyulut tubuhku
namun siapa yang tak lekas pukau

Sajak-Sajak Oky Sanjaya

http://www.lampungpost.com/
Juru Selamat Pertama
(percepatan)

kau, mungkin, baru saja selesai mandi. “Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu. membersihkan tempat tidurku. Bantal guling bau pesing” Dan aku, mungkin, baru saja menyelesaikan administrasi. “Anda harus mendaftar jika ingin masuk penjara. Jika anda ada uang, bisa kami percepat”. Anda tahu, sebelum masuk penjara saja, kami harus mengantri. Dua jam, mungkin, dari anda mandi sampai mengentri data lagi.

Sajak-Sajak Oky Sanjaya

http://www.lampungpost.com/
Rumah di Atas Kertas

rumah yang akan kita bangun kelak, dinda, adalah rumah yang dibangun di atas
sebidang kertas. Tanpa halaman, tanpa garis bantu kata-kata. Tanpa penjaga,
tukang kebun, dan perempuan renta. Hanya ada kau dan aku. Hanya ada kita
dan pohon mangga itu; yang kau cita-citakan ingin tumbuh dan dipetik buahnya;
yang kita tambahkan baskom berisi air di bawahnya; yang suatu waktu
merundukkan kita menatap bakalnya. Kita tetap berada dibawahnya

Sajak-Sajak Oky Sanjaya

http://www.lampungpost.com/
Di Laut, Aku Menelepon Pelabuhan

Selamat malam, desir
Selamat malam, pasir
Selamat malam, angin
Selamat malam, dingin
Selamat malam kepada kau
yang ada di pelabuhan
Selamat malam kepada kau
yang ada di tengah lautan

‘Mejong Ilat’, Sebuah Nilai Tradisi

Oky Sanjaya*
http://www.lampungpost.com/

MASYARAKAT Lampung sedang mengalami krisis identitas terutama perilaku masyarakat marganya. Seiring globalisasi, nilai-nilai budaya juga mengalami penyusutan , semula merupakan nilai-nilai sakral, kini mengarah ke nilai kepentingan kelompok tertentu. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya pemahaman masyarakat marga terhadap marganya sendiri, tanpa terkecuali mereka yang berada di dalam sistem marga tersebut.