Tag Archives: S. Jai

PERANG DINGIN GAGASAN ESTETIK PUISI DAN FIKSI

S. Jai *)

MEMBACA kembali fiksi dan realitas sastra kita kini, tentunya merupakan suatu upaya yang tepat dan pada waktu yang tepat pula—sebelum jatuh dalam nostalgia berkepanjangan. Kita hampir saja mengalami sindrom nostalgia pada kedua hal yang jelas berkait erat itu. Bahwa walaupun pada mulanya semangatnya untuk “membaca kecenderungan estetika fiksi kita” akan tetapi sudah barang tentu bakal mencermati subtansi di balik teks sastra khususnya pandangan dunia sebagaimana kerap kali mencuat di pelbagai media.

NURJANAH

S. Jai
Radar Surabaya, 24 Okt 2010

SETELAH sembilan tahun berlalu, Trisna mengutarakan rasa rindunya yang mendalam pada orang-orang yang pernah dia cintai dan mencintai dirinya. Hal itu diungkapkan pada istrinya di suatu pagi yang cerah, di emperan rumahnya yang hanya terhalang pohon sirsak dari pandang mentari.

“Semalam terbawa dalam mimpi. Aku berjumpa dengan bapak, nenek dan kakek. Aku rindu betul dengan mereka,” ucapnya tanpa mengubah arah pandangnya pada matahari pagi.

Puisi, Penyair, Penjahat

(Menyambung Tulisan Beni Setia dan Lan Fang)
S. Jai
Kompas Jatim, 3 Nov2010

TULISAN Beni Setia Sastra ?Kebacut? di media ini beberapa waktu lalu (19/10) tampaknya perlu mendapat perhatian khusus. Tulisan yang merupakan tanggapan tulisan sebelumnya oleh Lan Fang Jangan Main-Main dengan Sastrawan (15/10) tersebut bila salah asuh, menyebabkan pembaca bisa jatuh pada tindakan tidak melakukan apapun. Atau setidaknya cukup bertahan pada tindakan kreatif yang biasa saja tanpa tawaran baru estetika yang mengejutkan.

P E N G A R A N G

S. Jai
Tabloid Memo, Minggu III Juni 2010

SETIAP hari Jauhar mencari penjual ginjal, setelah dokter memvonis kedua buah ginjalnya tak berguna. Dia telah dibuat mengerti, bahwa itu satu-satunya jalan untuk mengakhiri rutinitas cuci darah di laboratorium Rumah Sakit di Gresik dua kali saban seminggu. Meski ia tahu hal itu juga salah satu jalan kemungkinan untuk mengakhiri hidupnya. Pada saat demikian, dia benar-benar ada di garis batas berjuang memberi arti antara gairah untuk hidup dan gairah untuk mati.

DUNIA MAYA

S. Jai
Surabaya Post, Minggu 15 Agustus 2010

DAHAN sudah beristri. Anaknya tiga. Sementara Arumi Luna seorang mahasiswa sosiologi. Bagi Dahan yang lebih sering meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, memandang diri kisah cintanya ini serupa dengan perselingkuhan pengarang Oki Toshio dan pelukis Otoko dalam novel Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata. Kisah cinta yang nakal tetapi menyentuh. Oki meninggalkan Otoko yang gila dan mengenang cintanya lagi setelah duapuluh empat tahun kemudian.