Tag Archives: Saut Situmorang

Saut Situmorang: Buku 33 Tokoh itu “Sampah”

Wawancara Ranang Aji SP dengan Saut Situmorang
http://koranopini.com

KoPi, Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia melahirkan kontroversi dan dianggap berpotensi menodai sejarah sastra Indonesia. Setelah wawancara KoPi bersama Jamal D Rahman beberapa waktu lalu, pelbagai tanggapan kelompok kontra semakin mengeras. Berikut adalah wawancara KoPi dengan salah satu tokoh pembuat petisi penolakan buku tersebut; Saut Situmorang. Dalam kesempatan yang sama, Penyair dengan tradisi kiri ini menganggap tuduhan kontra demokrasi Denny JA terhadap dirinya sebagai pemutarbalikan fakta.

Cerpen(is) Pilihan KOMPAS, Siapa Takut!

Saut Situmorang
http://boemipoetra.wordpress.com/

Relasi intertekstual antara sastra dan media massa cetak koran sebenarnya merupakan sebuah isu kritik sastra yang menarik. Adakah terdapat hubungan dialektis saling pengaruh-mempengaruhi antara dua produk budaya ini yang menghasilkan sebuah sintesa yang menguntungkan keduanya, ataukah relasi intertekstual itu hanya merupakan sebuah hubungan monolateral belaka di mana salah satu produk budaya mendominasi secara hegemonik arah lalulintas pengaruh-mempengaruhi tadi?

Tradisi dan Bakat Individu

Saut Situmorang
http://boemipoetra.wordpress.com/

Seorang komentator sastra dari Jakarta, Nirwan Dewanto, pernah membuat pernyataan asersif bahwa novelis Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia. Latar-belakang pembuatan klaim ini, mudah kita duga, adalah reaksi luar biasa yang timbul dalam sastra Indonesia setelah publikasi novel pertama Ayu, Saman, dari kalangan “kritikus” sastra di Indonesia, yang dalam komentar mereka rata-rata memakai istilah-istilah superlatif seperti “dahsyat”,

POLITIK KOMUNITAS SASTRA

Saut Situmorang *
www.rumahdunia.net, 31 Oktober 2006.

The philosophers have only interpreted the world, in variousways;
the point, however, is to change it.
-Karl Marx

During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act.
-George Orwell

Memberhalakan ‘Kebebasan’ ala ‘Memo Indonesia’

Saut Situmorang*
Media Indonesia, 5 Agus 2007

LARUT malam di bawah banner depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya yang hendak pergi ke Serang, Banten, menghadiri pertemuan komunitas sastra se-Indonesia, dipanggil Hudan Hidayat untuk gabung ngebir bersamanya. Waktu saya menemui Hudan, ternyata sudah ada beberapa orang, seperti Djenar Mahesa Ayu dan Richard Oh. Mereka baru saja mengikuti acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Malam bertambah larut, bahkan hampir pagi.