Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram

Farid Gaban, Nurur Rokhmah Bintari, Dewi Rina Cahyani
majalah.tempointeraktif.com

Penampilannya bersahaja- terlalu bersahaja. Namun, ada yang sedikit aneh: dia tak memakai sandal seperti yang selalu dipakainya bertahun-tahun. Tentu saja, selain sebuah mesin ketik yang erat ditentengnya, dalam perjalanannya menuju New York awal April lalu itu. Mesin ketik mengisyaratkan anakronisme, New York adalah paradoks. Dan ada satu pertanyaan menggoda: tidakkah Pramoedya Ananta Toer -seperti tokoh dalam novel fiksi-sains klasik karangan H.G. Wells -merasa terlontar oleh mesin waktu ke dunia yang sama sekali berbeda? Continue reading “Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram”

Samin Surantiko: Pembebas Kaum Kromo

Petrik Matanasi *
http://www.kompasiana.com/maspet

Tanah kering di Blora yang kaya hutan jati itu ternyata memiliki sosok Mahatma Gandhi yang telah membentuk masyarakat komunalnya seperti Utopia-nya Thomas Robert More. Sejarah Indonesia telah mencatat perlawanan Samin Surantiko, walau hanya sedikit.

Sebenarnya orang-orang Samin setelah kematian sang pemimpinnya yang bernama Samin Surontiko, tidak suka dijuluki Samin. Kata Samin memiliki konotasi bodoh, tapi bukan kebodohan karena tidak atau kurang cerdas, tetapi bodoh yang keras kepala dalam mengukuhkan pendirian mereka. [1] Orang-orang Samin lebih suka dijuluki Wong Sikep (orang yang bertanggungjawab dalam konotasi baik dan jujur). [2] Continue reading “Samin Surantiko: Pembebas Kaum Kromo”

DUNIA ORANG BAYAN DI PULAU SERIBU MASJID

Janual Aidi

Kata Pengantar

Menyatu dengan masyarakat pedalaman Bayan merupakan sebuah kenangan manis dan sulit dilupakan. Terlebih ketika para beberapa peneliti seperti Erni Budiawati, John Ryan Bartholomew, Prasetia, Abdus Syakur atau peneliti-peneliti lain yang entah berasal dari luar negeri sekalipun pernah menginjakkan kaki di desa yang sampai sekarang ini masih memegang erat kearifan lokal (local wisdom). Continue reading “DUNIA ORANG BAYAN DI PULAU SERIBU MASJID”

SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG

DARI HAMZAH FANSURI SAMPAI GENERASI TERKINI *

Maman S. Mahayana **

Membicarakan perjalanan sastra Aceh dengan rentang waktu yang begitu panjang (dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini) adalah tugas mahaberat yang keseluruhan perjalanannya mustahil dapat diungkapkan dalam beberapa halaman saja. Oleh karena itu, pembicaraan ini sesungguhnya sekadar gambaran umum, bagaimana sastra Aceh bergulir, menggelinding dan kemudian menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap kesusastraan Indonesia. Continue reading “SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG”

Bahasa »