HOLOCAUST RISING: DI TENGAH KRISIS TEATER DAN KANIBALISME

Sri Wintala Achmad *

Tidak terpungkiri bahwa Yogyakarta telah diasumsikan banyak orang sebagai salah satu kantong seni-budaya di Indonesia. Sehingga tidak musykil kalau EMHA Ainun Nadjib pernah menggagas bahwa Yogyakarta berpotensi menjadi ibukota kebudayan. Gagasan Cak Nun tersebut sangat beralasan. Karena berbagai genre kesenian yang merupakan produk budaya telah mengalami pertumbuh-kembangan secara dinamis di kota ini. Tidak hanya seni rupa, sastra, tari, dan seni teater yang bernuansa modern, melainkan yang bernuansa etnik lokal dan nusantara dapat tumbuh subur di Yogyakarta. Continue reading “HOLOCAUST RISING: DI TENGAH KRISIS TEATER DAN KANIBALISME”

LALAT-LALAT BERSAYAP DURI

Sri Wintala Achmad
Harian Merapi Yogyakarta

Tidak ada yang dilakukan Sobrah, selain membantai lalat-lalat yang memasuki ruangan kosnya dengan sapu lidi. Lalat-lalat itu sudah keterlaluan. Mengerumuni Sobrah saat menulis. Menghinggapi cangkir berisi kopi yang disiapkan istinya sebelum berangkat kerja ke pabrik tekstil.

Layar monetor telah menyala. Halaman Ms-Word sudah siap menampung luncuran kata-kata dari otak kepala Sobrah yang botak. Namun, tidak sepatah kata berhasil dituliskan. Karena tangan Sobrah yang berjemari perempuan itu tidak segera disibukan dengan tut-tut keyboard, melainkan hanya membantai lalat-lalat dengan sapu lidi. Continue reading “LALAT-LALAT BERSAYAP DURI”

MENANGKAP NILAI ADILUHUNG EVENT RITUAL YAAQAWIYYU

Sri Wintala Achmad
http://sanggargununggampingindonesia.blogspot.com/

Di dalam mayasarakat Jawa, Sapar telah dianggap bulan paling selaras untuk melakukan upacara tradisi bersih desa Saparan. Upacara bersih desa tersebut tidak hanya diselenggarakan di beberapa tlatah Ngayogyakarta, seperti di Gamping (Bekakak), Wonolela (Sebaran Apem), atau di Wonokromo (Rebo Pungkasan), melainkan pula di tlatah Jawa Tengah semisal di Pengging, Jatinom-Klaten dll. Continue reading “MENANGKAP NILAI ADILUHUNG EVENT RITUAL YAAQAWIYYU”

MENUMBUHKAN PERADABAN MELALUI MURAL DAN PUISI RUANG PUBLIK

Sri Wintala Achmad *
Kompas Jogja, 31 Okt 2008

Apa ada di benak kita, manakala menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang diwarnai kesemrawutan lalu lintas; ketidakrapian penataan papan-papan reklame; dan lebih banyak ditanami gedung-gedung, mal-mal, pusat-pusat perbelanjaan, atau hotel-hotel ketimbang pohon-pohon perindang; serta tidak adanya taman kota yang dapat diakses gratis oleh publik? Continue reading “MENUMBUHKAN PERADABAN MELALUI MURAL DAN PUISI RUANG PUBLIK”

Bahasa ยป