Kafe Bagus di St Michel

Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

KEMUDIAN cuaca memburuk. Itu bakal berlangsung pada suatu hari ketika musim gugur berlalu. Mau tak mau kita harus menutup jendela-jendela pada malam hari untuk menghalau hujan dan dingin angin yang akan merontokkan dedaunan dari pohon-pohon di Contrescarpe. Daun-daun berserakan basah di tengah hujan dan angin membawa hujan ke arah bus hijau besar di terminal dan Kafe des Amateurs sudah penuh sesak dan jendela-jendela atasnya berkabut karena udara panas dan asap di dalam. Continue reading “Kafe Bagus di St Michel”

Tarot

Sunlie Thomas Alexander
Koran Tempo, 13 Juni 2009 dan Suara Merdeka

Five of Cups

KAU tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus…

Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kaubuka bakal menunjukkan hal yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan kartu lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut dan bersimpati, tentunya sembari memilih kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di hadapannya, kedua matanya agak melotot. Continue reading “Tarot”

Nosfratu

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

BAYANGAN nosfratu tak pernah dipantulkan oleh cermin. Karena itulah kau berkelit menjauh, ketika Ros, kucing manis itu ?demikian kau selalu menggodanya? mencoba merengkuh tubuhmu. Hm, wangi parfumnya memang kelewat menggairahkan, nyaris memabukkan seperti aroma anyir darah…
Melangkah ke kain gordin merah tua yang tersibak lebar, dari kaca jendela kau melihat rintik gerimis yang masih berebahan di jalanan muka rumah kontrakan penari berpinggul molek itu semakin tipis, berpendar keperakan oleh cahaya lampu jalan dan satu-dua kendaraan yang sesekali melintas lewat. Continue reading “Nosfratu”

Shanghai, 1943-Belinyu, 2000

Sunlie Thomas Alexander
http://www.jawapos.co.id/

Shanghai, Maret 1943

DARI suara radio yang sayup-sayup sampai lantaran menipisnya tenaga baterai, kau tahu kalau pasukan nasionalis kian terdesak. Kehidupan rakyat makin tak menentu, setiap hari selalu saja jatuh korban yang sulit dihitung di luar medan perang. Yang mati tertembak, sakit, atau kelaparan. Pengungsi bertebaran di mana-mana. Tak di desa, tak di kota. Shanghai memang tinggal menunggu kejatuhannya, pikirmu. Seperempat Cina telah dikuasai Jepang, mau apa lagi? Para konsul Barat sudah lama meninggalkan gedung-gedung kedutaan. Continue reading “Shanghai, 1943-Belinyu, 2000”

Bahasa »