Tradisi Sebagai Sampiran

Teddi Muhtadin *
Pikiran Rakyat, 26 Juli 2009

Saya ingin memahami sisindiran (pantun dalam bahasa Indonesia) sebagai suatu proses kreatif berkebudayaan, sebagai penghargaan kepada tradisi, dan sebagai penghormatan terhadap tafsir. Sisindiran, sebagaimana kita ketahui, adalah salah satu bentuk puisi lisan yang terdiri atas dua bagian, yaitu cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Sampiran, umumnya, merupakan permainan bahasa yang memikat, sedangkan isi merupakan pesan yang hendak disampaikan. Continue reading “Tradisi Sebagai Sampiran”

Sebuah Tafsir dari Ranah Sunda

Teddi Muhtadin *
Media Indonesia, 16 Sep 2007

PERDEBATAN tentang sajak “Malaikat” karya Saeful Badar yang dimuat di lembaran budaya Khazanah Harian Umum Pikiran Rakyat telah memicu sejumlah penulis untuk menyatakan pendapatnya. Sayang, harian tersebut sudah menutup pintu untuk mendiskusikannya. Alhamdulillah, Media Indonesia (2/9) memuat tulisan berjudul “Tergelincirnya Sang Penafsir”, tulisan Hikmat Gumelar, seorang pekerja seni yang tinggal di Jatinangor, Jawa Barat. Hal ini dapat dijadikan tanda dibukanya kembali diskusi tentang tafsir secara lebih lanjut. Continue reading “Sebuah Tafsir dari Ranah Sunda”