Robohnya Soetedja Kami

Teguh Triantono *
Kedaulatan Rakyat, 2 Agu 2015

Di tepinya sungai Serayu/
waktu fajar menyingsing/

BEBERAPA hari yang lalu, saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Purwokerto dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Dua baris lirik lagu di atas saya dengar dalam bentuk instrumen saat kereta api memasuki dan berhenti di stasiun Kroya. Kemudian instrumen yang sama saya dengar lagi saat kereta berhenti di stasiun Notog, dan berakhir di stasiun Purwokerto. Instrumen tersebut merupakan penggalan lagu ‘Di Tepi Sungai Serayu’ karya komponis legendaris kelahiran Banyumas R Soetedja Poerwodibroto. Mendengar instrumen tersebut, sebagai orang Banyumas, saya merasa bangga bahwa Banyumas memiliki seorang komponis legendaris. Continue reading “Robohnya Soetedja Kami”

Pendidikan Gender Berbasis Sastra

Teguh Trianton*
http://www.suarakarya-online.com/

Tatkala karya sastra banyak mengangkat isu ketimpangan gender, sastra dianggap turut berperan mengkonstruk bias gender. Karya sastra boleh jadi selalu merepresentasikan kondisi sosial budaya masyarakat di mana sastrawan tinggal. Sehingga ketika seorang sastrawan hidup dalam tekanan, maka karya sastra yang ditulis akan menyuarakan penolakan atas tekanan tersebut. Continue reading “Pendidikan Gender Berbasis Sastra”

Pembibitan Sastra di Banyumas

Teguh Trianton*
http://suaramerdeka.com/

KONON, faktor utama yang menyebabkan terjadinya stagnasi kesusastraan di Banyumas adalah rendahnya budaya kritik sastra. Setidaknya, inilah penilaian Abdul Wachid BS, sastrawan dan kritikus Yogyakarta yang konsen menggiatkan dan kehidupan bersastra di Banyumas. Ia banyak terlibat diskusi sastra dengan sastrawan muda Banyumas, juga merintis penerbitan sastra di STAIN Purwokerto.

Menurut Wachid, rendahnya budaya kritik bukan hanya terjadi di kalangan sastrawan, melainkan yang lebih akut juga melanda para kaum kritikus di kalangan akademis. Continue reading “Pembibitan Sastra di Banyumas”