Membaca Burung-burung Manyar Mangunwijaya dalam Perspektif Pascakolonial

Yohanes Padmo Adi Nugroho

Dalam artikel In Search of the Postcolonial in Indonesian Literature (1995), Keith Foulcher mencoba mencari jejak-jejak nafas sastra pascakolonial Indonesia. Sastra Indonesia, sebagai bangsa yang pernah dijajah, sangat unik jika dibandingkan dengan sastra-sastra bangsa yang pernah dijajah lainnya. Continue reading “Membaca Burung-burung Manyar Mangunwijaya dalam Perspektif Pascakolonial”

Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal

Bernando J. Sujibto *

SASTRA humanistik yang berakar kepada konteks kehidupan akar rumput, sebuah upaya berkesenian yang kembali kepada fitrahnya (baca: littérature engagée), meminjam istilah Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – id. 15 April 1980), sastrawan eksistensialis Prancis, akan dengan mudah ditemukan dalam diri sosok sastrawan-novelis Y.B. Mangunwijaya. Continue reading “Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal”