Tag Archives: Y. Wibowo

Sajak Y. Wibowo

Lampung Post, Minggu, 29 Mei 2005
Mamak Kenut di Rembang Petang
: Udo Z. Karzi

Mamak Kenut menuturkan seseorang
(dua atau tiga orang) atau peristiwa-peristiwa
yang menghadang–si pencari pintu pulang
hari-harinya resah
; hidup mengaji diri mengaji yang absurd
dan kenyataan

Ilusi Demokrasi pada Masa Transisi

Y. Wibowo
Lampung Post, 9 Juni 2004

JIKA dirasa-rasa, menurut pemikiran orang (awam?) selama enam tahun (transisi demokrasi) perjalanan reformasi justru yang terjadi banyak menimbulkan kekacauan, kerusuhan di berbagai daerah, disintegrasi, rendahnya moralitas pemimpin dan masyarakat, konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Sepertinya masih enak zaman dulu (Orba), masyarakat “merasa” memiliki pelindung yang menciptakan rasa aman dan hidup tenang. Sebab, jangan-jangan demokrasi-lah sumber semua kekacauan ini?

Sajak-Sajak Y. Wibowo

Pengantin, 1

dahaga melumeri seonggok musim kemarau yang mengejang
di hatimu sampansampan nelayan
lelah melebur persetubuhan
: laut berkelopak
menyisakan rompang riak
dan langit menggelegak

Rakyat Miskin, Wajah Pemimpin

Y. Wibowo
http://www.lampungpost.com/

Apa yang akan kita pahami dari sekumpulan angka dan catatan? Apa akan ada rekomendasi dan ide baru? Atau tak ada apa-apa sama sekali. Acuh. Namun, bagaimana bila sekumpulan angka-angka dan catatan itu adalah data kemiskinan? Reaksi beragam pun mengemuka.

Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan*

Y. Wibowo
http://kebunlada.blogspot.com/

ISBEDY stiawan Z.S. menuliskan artikel fantastis sekaligus miris dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-322 Kota Bandar Lampung, 17 Juni 2004, berjudul “Kota tanpa Ruang Kontemplatif” (Lampung Post, 19 Juni 2004). Menurut penulis, dalam merefleksikan “kenangan yang berjalan”, Bang Isbedy melihat Kota Bandar Lampung adalah sebuah sajak yang terdedah karena alam dan didedahkan sistem dan kebijakan. Namun, dari sisi wajah arsitektur yang dinamik dan problematik belum terungkap.