Tag Archives: Yopi Setia Umbara

Ponpes Hasyim Asy’ari, Pesantren Sastra di Yogyakarta

Yopi Setia Umbara *
pendidikanislam.id

Di selatan Yogyakarta, di jalur menuju ke Pantai Parangtritis, terdapat sebuah pondok pesantren yang cukup unik. Keunikan pesantren ini adalah pada kegiatan rutin yang mereka laksanakan. Di antara kajian keagamaan, mereka juga memiliki kajian kesusastraan yang rutin digelar seminggu sekali pada setiap Jumat malam.

Tiga Pertanyaan untuk Yeni

Yopi Setia Umbara *
Pikiran Rakyat, 29 Maret 2008

MENARIK membaca tulisan Yeni Mulyani (YM) yang berjudul “Kritik Sastra Rasa Bandung” di “Khazanah” Pikiran Rakyat (Sabtu, 15 Maret 2008). Saya tergelitik untuk urun rembug. Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan saya terhadap tulisan YM. Pertama, apakah tema tulisan tersebut memang berpusat pada kritik sastra rasa Bandung? Kedua, apakah tulisan tersebut justru bertema kritik sastra rasa kritikus Bandung? Dan ketiga, apakah temanya tentang kritik sastra rasa koran Bandung (“PR”)?

Dam, Dam, Dam

Yopi Setia Umbara*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

AWALNYA saya tidak terlalu tertarik dengan esai Damhuri Muhammad (selanjutnya disebut Dam) yang berjudul “Kesadaran Puitis & Politik” yang diterbitkan di suplemen Khazanah di Pikiran Rakyat (Minggu, 5 April 2009). Karena, untuk sebuah esai judul macam itu biasa banget, kurang provokatif. Atau, mungkin Dam sengaja memilih judul itu, supaya tulisannya terkesan up to date. Maklum, pada waktu itu menjelang pemilu.

Sastra Indonesia dan Pascakolonalisme

Yopi Setia Umbara
http://www.pikiran-rakyat.com/

Wacana sastra Indonesia pascakolonial, belakangan diam-diam menggugah khalayak sastra kita. Postcolonialism adalah sebuah konsep Gramscian tentang hegemoni. Suatu relasi kuasa di mana terjadi dominasi dan subordinasi hingga di tingkat bahasa yang sejak awal menjadi roh perbincangan para kolonialis.

Sajak-Sajak Yopi Setia Umbara

http://www.lampungpost.com/
Di Perempatan Dago-Sulanjana

di perempatan jalan. wajahmu merah tahan tangis darah
kota adalah basah. pada aspal pada lampu-lampu iklan
mungkin kau sangsi. kenapa aku kau tunggu lebih lama
padahal waktu tak pernah mau menunggu. tak mau diam
seperti tak sabar. ingin terus bergerak dari satu tempat
aku belum juga datang. dan kau lebih resah dari jalanan
makin kuyup lebih beku. tak ada yang bisa diajak bicara
selain memendam tujuan sendiri dan terus diguyur hujan