Dunia Sastra Jatim Kian Sunyi

Zaki Zubaidi
koran-sindo.com 25 10 2015

Akhir September 2015, akun Facebook kami ditandai seorang rekan peneliti Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Mashuri. Dia membagikan sebuah brosur agenda kegiatan sarasehan sastra dan budaya. Ada 15 acara diskusi yang dilaksanakan di Surabaya dan beberapa kota di sekitarnya sejak 25 September hingga 26 November.

Di tengah jargon ”kerja, kerja, kerja” yang kini sering diperdengarkan, kegiatan semacam ini seperti sungguh tidak biasa (terlalu sombong untuk disebut luar biasa). Continue reading “Dunia Sastra Jatim Kian Sunyi”

Sebuah Ihtiar Renjana-Reproduksi

Zaki Zubaidi
http://www.seputar-indonesia.com/

Menulis sastra membutuhkan kesetiaan. Untuk menjaga kesetiaan ini masing-masing individu (penulis sastra) memiliki kecenderungan yang berbeda.
Ada yang menjaga kesetiaan itu melalui sebuah kesendirian. Tapi ada juga penulis yang menjaga kesetiaan itu secara komunal.Hal ini memang sangat bergantung pada proses perkenalannya dengan sastra. Seseorang yang lahir dari hasil sharing komunitas maka karyakaryanya akan mempengaruhi sekaligus dipengaruhi anggota komunitas yang lain. Komunitas sastra mutlak dibutuhkan untuk menjaga iklim kesusastraan yang dinamis. Continue reading “Sebuah Ihtiar Renjana-Reproduksi”

Gerilya Khusyuk Pengabdi Sastra

Zaki Zubaidi
http://www.seputar-indonesia.com/

Sejak tahun 2009 diskusi sastra di Galeri Surabaya Jalan Pemuda mulai menggeliat lagi. Setiap bulan sekali para sastrawan muda berkumpul dalam acara Halte Sastra.

Menggelar kegiatan rutin nirlaba semacam ini butuh kekhusyukan tak berujung. Ribut Wijoto, sebagai koordinator pelaksana Halte Sasta telah melakoninya. Baginya hal itu merupakan bentuk pengabdian dari seorang penyair yang gagal. Berikut wawancara Harian SINDO dengan Ribut Wijoto. Continue reading “Gerilya Khusyuk Pengabdi Sastra”

Sepeda Tua Pak Yus

Zaki Zubaidi
http://www.sinarharapan.co.id/

Wajah Pak Yus tampak bersungut-sungut, menahan emosi yang kapan saja bisa meledak. Sepeda motor baru itu dituntunnya dengan tergopoh-gopoh. Diletakkan di teras, tepat di bawah sangkar burung beo kesayangannya. Sementara Ribut diam saja melihat ulah bapaknya. Ribut tahu benar, Pak Yus, BapakNya itu kalau sedang marah benar-benar tak bisa diganggu, semua orang bisa kena amarahnya. Continue reading “Sepeda Tua Pak Yus”