Kampung Fiksi, Saat Perempuan Angkat Bicara Lewat Sastra

Zulfikar Akbar

“Pekerjaan yang terlihat kecil, satu waktu kelak boleh jadi akan menjadi sejarah besar”

Kalimat tersebut terloncat keluar dari pikiran saya, saat seorang rekan, Deasy Maria, mengabarkan, ia dan rekan-rekan di komunitas bernama Kampung Fiksi mengadakan Workshop Perempuan: Menulis dan Blogging—di Bekasi Cyber Park (26/11). Seketika, rasa kagum menyeruak. Betapa, perempuan tidak pernah kehabisan cara dalam berkreasi. Continue reading “Kampung Fiksi, Saat Perempuan Angkat Bicara Lewat Sastra”

Mereduksi Karya Sastra, Melepas Kacamata (Tanggapan untuk George)

Zulfikar Akbar

Kacamata tentu saja merupakan sesuatu yang melekat pada kedirian, keakuan, dan bisa juga sebagai simbol ketidakmurnian dalam penglihatan. Di sini, George muncul mengambil kacamata-kacamata itu, dan seakan menghardik untuk pastikan dulu kemampuan melihat sesuatu secara apa adanya, tanpa perlu alat bantu itu. Sampai ia dengan bahasa lugas, katakan tidak ada karya sastra dan tidak ada sastrawan di Kompasiana (taruhlah dunia cyber juga, untuk lebih umum). Continue reading “Mereduksi Karya Sastra, Melepas Kacamata (Tanggapan untuk George)”

Mencari Jejak Sastra di Tanah Papua

Zulfikar Akbar *

“Papua adalah masyarakat pejuang. Dan pejuang takkan biarkan diri tertinggal dan kelebihan mereka hilang.”

Pembalut kelamin pria yang disebut koteka tergenggam di tangan seorang kenalan yang baru kembali dari tanah Papua. Menyusul cerita-cerita tentang masyarakat di daerah dimaksud, yang lebih menyiratkan kesan bahwa Papua benar-benar masih sangat tertinggal. Kening saya mengernyit, benarkah tepat menyebut mereka masih tertinggal jauh dari masyarakat lain di nusantara ini? Continue reading “Mencari Jejak Sastra di Tanah Papua”