Negara tanpa Rakyat?

Parakitri T. Simbolon
http://majalah.tempointeraktif.com/

TIDAK SULIT membicarakan pergerakan kebangsaan kita menurut kajian sarjana asing. Pilihan sangat banyak, baik dalam bentuk, cakupan kurun waktu, maupun sudut pandang. Yang sulit adalah menemukan satu-dua perkara yang terus mengusik rasa ingin tahu setelah selesai membaca sejumlah kajian, sendiri-sendiri ataupun serangkaian, ibarat seutas benang merah yang menjelujuri permasalahan gerakan kebangsaan kita selama ini. Ini sulit, karena benang merah menuntut kesinambungan sejumlah kajian, padahal satu kajian lebih sering menolak atau mengubah kajian lain. Continue reading “Negara tanpa Rakyat?”

Menggugat Budi Utomo

Asvi Marwan Adam*
http://majalah.tempointeraktif.com/

MAKNA diperingatinya suatu peristiwa menurut Mona Ozouf adalah menunjukkan bahwa kita masih tetap sama seperti dulu dan akan tetap seperti itu pada masa mendatang. Sejarawan Prancis itu berbicara tentang fungsi pengawetan peristiwa bersejarah. Namun peringatan kebangkitan nasional justru sengaja dilakukan secara intensif pada saat-saat bangsa kita mengalami kesulitan besar. Ketika Indonesia yang wilayahnya sangat terbatas mendapat tekanan dari dalam negeri serta kemungkinan serangan dari pihak Belanda, di Yogyakarta pada 1948 hari lahir Budi Utomo diperingati sebagai tonggak ?kebangoenan nasional?. Continue reading “Menggugat Budi Utomo”

Jurus Pamungkas Laskar Pelangi

Sunaryono Basuki Ks*
http://www.jawapos.com/

Setelah membuat para pecintanya berdebar-debar selama lebih dari setengah tahun, buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi, yakni Maryamah Karpov, diluncurkan akhir November lalu. Toko buku se-Indonesia pun dibanjiri ribuan pesanan untuk mendapatkan buku itu pada kesempatan pertama. Ratusan kopi langsung terjual ludes pada awal Desember dan pecinta buku yang lain harus menunggu datangnya kiriman kedua. Continue reading “Jurus Pamungkas Laskar Pelangi”

DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

?Fikirkanlah coretan-coretan di dinding Ibukota, adanya istilah MERDESA, sebelum meletusnya balada pemberontakan anak-anak Jatinegara?

Desa itu daerah kendali perekonomian kota. Tata letak spiritualitas pemampu berpeluang menentukan gerak-gerik bangsanya. Sekilas terlihat orang desa berkiblat pandangan kota, padahal orang kota tidak asyik lagi menatap kesehariannya. Dari desa-lah terpelihara keindahan nurani, kemanusiaan agung terpanggil menciptakan atmosfir damai. Continue reading “DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU”

Bahasa ยป