Posted by PuJa on January 31, 2009
Putu Wijaya http://putuwijaya.wordpress.com/ Seperti kerlip bintang di tengah lautan bagi nelayan, yang kita perlukan hanya cahaya kecil di dalam gelap. Tetap setia menyala dalam badai dan hujan, membentuk jiwa manusia supaya berjuang mengalahkan nasib, membawa seluruh cita-citanya menjadi kenyataan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Maman S. Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian –khasnya sastra— kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Ahmadun Yosi Herfanda* http://www.infoanda.com/Republika Dunia kaum pekerja (buruh) yang tertindas masih penting untuk disuarakan, agar jeritan mereka didengar dan nasib mereka menjadi lebih baik. Salah satu media terpenting untuk menyuarakan dunia kaum pekerja itu adalah sastra, terutama puisi, yang di kalangan buruh pabrik Tangerang, Banten, kini nyaris menjadi ekspresi sehari-hari untuk menyuarakan hati nurani mereka.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Theresia Purbandini http://jurnalnasional.com/ Bendera demokrasi yang telah berkibar sejak tahun 1998 hingga kini belum mampu menggaungkan sastra di telinga masyarakat yang makin terjebak dalam deru arus modern. Namun dunia sastra yang masih minim perhatian dan kurang diperhitungkan, dewasa ini makin menggeliat di sejumlah kolom-kolom koran daerah maupun nasional.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Sjifa Amori http://jurnalnasional.com/ Harus terus digairahkan, di antara menderasnya karya-karya sastra Indonesia yang bermunculan. Suatu kali, HB Jassin pernah berkata, “Seorang kritikus adalah manusia biasa.” Kalimat yang dilontarkan kritikus sastra terkemuka ini dituliskan kembali dalam Resume Mata Kuliah Kajian Puisi: Sajak Mengundang Asosiasi, Bukan Interpretasi, pada blog komunitas anak sastra.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
S Yoga http://www.surabayapost.co.id/ Perkembangan sastra religius di Jawa Timur (Jatim) mungkin kurang menarik bagi generasi muda. Sehingga bila kita cermati, hingga kini jarang terlahir sastrawan muda yang kesadarannya terhadap religi cukup tinggi. Padahal sastra religius merupakan salah satu aset yang sangat penting. Hal ini dikarenakan dukungan secara kultural sudah sangat mencukupi, di mana basis-basis pesantren [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Asarpin http://www.lampungpost.com/ “Segala yang murni dan indah dalam kehidupan manusia adalah puisi”. Kata-kata ini diucapkan Kartini (kepada Stella–nama panggilan Kartini kepada Estella Zeehandelaar, feminis sosialis yang membuka diskusi pertama kali dengan Kartini melalui surat-menyurat–sebagai bukti bahwa ia mencintai puisi. Bagi Kartini, puisi atau seni pada umumnya adalah jiwa bangsa Bumiputera. Dari mulut anak-anak sampai orang [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
“Bisa dihitung hanya satu-dua dalam sejarah; pesantren yang ditinggal mangkat muda sang Kyainya, masih tetap berjaya. Beliau (Zainal Arifin Thoha) yang telah dipanggil kekasih-Nya, namun pamornya senantiasa harum mewangi dalam dunia kepenulisan di tlatah Yogyakarya” (Catatan PuJa). http://sastrakarta.multiply.com/ ADALAH DARAH tetapi bagiku puisi adalah darah dan engkau begitu maksa merampasnya
Filed under: Puisi