Tetralogi Buru dan Indonesia ‘Modern?’

Eka Kurniawan
majalah.tempointeraktif.com

Pramoedya berhasil menemukan anak kandung semangat nasionalisme Indonesia. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka.

TETRALOGI Buru bisa dibilang merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia. Pada akhir 1950-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat ‘jika tak bisa dikatakan panas’ ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Continue reading “Tetralogi Buru dan Indonesia ‘Modern?’”

Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

Perkembangan sastra kita tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai komunitas sastra dan kantung-kantung budaya yang bertebaran di berbagai kota, terutama yang berbasis di kampus-kampus perguruan tinggi. Sebagian dari para pegiat komunitas sastra kampus ini muncul dan menonjol menjadi sosok yang diperhitungkan dalam sejarah sastra kita dengan karya-karyanya, melepaskan diri dari kolektivitas komunitasnya. Sebagian yang lain terserap oleh kerumunan komunitasnya dan akhirnya menghilang dari peredaran karena berbagai sebab. Continue reading “Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan”

KISI-KOTA, Kalau Sastrawan Tinggal di Apartemen

Gerson Poyk
sinarharapan.co.id

Minggu lalu beberapa sastrawan ibu kota diundang oleh sastrawan (penyair) Leon Agusta dan istri Amerikanya untuk pesta kecil memasuki rumah baru, yaitu sebuah apartemen di depan harian Kompas. Bangunan itu setinggi tiga puluh tingkat.

Mungkin karena pertemuan Leon dengan Maggy di sebuah apartemen bernama Mayflower di Iowa City, maka setelah bertahun-tahun tinggal di kampung-kampung dan di kawasan perumahnn indah tidak membetahkan mereka. Continue reading “KISI-KOTA, Kalau Sastrawan Tinggal di Apartemen”

Bahasa ยป