Kisah Prajurit Kidal dan Tuan Cuak Kuak

S Yoga
entertainmen.suaramerdeka.com

SUATU ketika datang seorang prajurit yang ditugaskan di kampung kami. Prajurit Gidal namanya. Pada hari pertama tanpa ba bi bu ia mengumumkan, penduduk kampung harus mematuhi peraturan pemerintah. Selebaran-selebaran ia bagi-bagikan. Di selebaran terpampang kami tidak boleh main judi, sabung ayam, mabuk-mabukan, minum tuak, main hakim sendiri bila ada maling yang tertangkap. Kami tidak boleh lagi mengikat tangannya ke belakang dan melemparkan ke sungai. Tidak boleh ada pembunuhan tanpa alasan jelas. Tidak boleh ada pembakaran orang tak bersalah di lapangan. Continue reading “Kisah Prajurit Kidal dan Tuan Cuak Kuak”

Delima

Yasunari Kawabata
Penerjemah: Anton Kurnia
suaramerdeka.com

DALAM embusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran. Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Dia berharap angin akan mengacaukannya. Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.

“Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu kepada ibunya. Continue reading “Delima”

Dari Perbendaharaan Lama

Taufik Abdullah
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALKISAH, tersebutlah perkataan bahwa Syekh Shaqiq Zahid memberikan nasihat kepada Sultan Harun al-Rasyid.

?Ya, Amirul Mukminin, ketahuilah olehmu yang mata air itu engkau juga dan segala menteri dan hulubalang dan lain daripada itu seperti segala sungai juga umpamanya. Jikalau mata air itu suci dan segala sungai itu keruh tiada mengapa. Tetapi jika mata air itu keruh dan segala sungai itu suci tiada berguna.? Continue reading “Dari Perbendaharaan Lama”

Pergeseran Pola Puitik Dari Chairil Anwar Menuju Arief B. Prasetyo

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Ketika sedang suntuk mempelajari kembali puisi Chairil Anwar, saya tiba-tiba teringat Hugh Trevor-Roper, sejarawan yang membahas historiografi abad ke delapan belas. “Prestasi yang dicapai oleh sejarawan abad ke delapan belas sangat luar biasa”, tulisnya dalam buku The Listener (1977). Abad ke-18 telah semena-mena terhadap data dan peristiwa sejarah. Segala yang terjadi di masa silam dinilai dan ditafsirkan dengan norma dan realitas masa sekarang. Seolah-olah nilai masa sekarang bersifat mutlak dan masa silam bersifat relatif. Continue reading “Pergeseran Pola Puitik Dari Chairil Anwar Menuju Arief B. Prasetyo”

Nasionalisme dalam Belenggu Waktu

Radhar Panca Dahana
majalah.tempointeraktif.com

“Manusia memang dilahirkan bebas tapi secara keseluruhan sebenarnya ia terbelenggu” (Jean Jacques Rousseau)

TUJUH puluh tahun barangkali rata-rata harapan hidup manusia sekarang. Seumur demikian umumnya manusia sudah “selesai”. Jikapun ia masih hidup, atau tetap ingin hidup, sebenarnya ia harus mendapatkan makna baru hidupnya. Continue reading “Nasionalisme dalam Belenggu Waktu”

Bahasa ยป