Kulya dalam Relung Filsafat

Bercermin pada kalender kearifan Leo Tolstoy
Nurel Javissyarqi
http://nurelj.blogspot.com/

PROLOG: NANG NING NUNG, INI SELERA KEBIJAKANKU

(I)

Segala puja puji bagi-Mu pemilik perbendaharaan tersembunyi di langit dan bumi. Alhamdulillah masih terinfus nyawaku yang malu-malu akan arti kepergian abadi. Dan kasih sayang-Mu memberi pencerahan bagi yang berpengharapan cahaya.

Dambaku menjelma laron belum terbang, aku baru saja dilahirkan dari sebuah tradisi, sedang saudara-saudaraku lebih dulu. Diri ini masih mempelajari maksud penerbangan kejadian, kusaksikan getar menghalau jiwa mungilku. Yang terbang jatuh sayap-sayapnya patah, ada yang patuh dalam becek air bagi akhir hidupnya pun merangkak mencari pendamping demi menyatu dalam pusaran hakiki. Aku masih khusuk memulai definisi lampu, sungguh semua laron mengharap cahaya pun diriku. Menyaksikan semuanya terbang menari-nari hingga lelah runtuh.

Akankah sebegitu berhasrat? Aku menimang ragu di teluk cemburu. Sanggupkah melesat tinggi dari sebelumku? Aku tak ingin cepat berlalu atau hanya di kerendahan remang. Mulai kusadari ruh itu cahaya pencerahan kasih Penghulu. Aku syahadatkan sebelum menanjaki udara, kugerak-gerakkan sayap pada kegamangan sangat ditimpa kepiluan, getar kusaksikan mengidam warna sungguh edan. Belum kucapai keinginan Manunggal di perseteruan bathin nafsu. Sungguh saat itu ingin halalkan segala atas orang-orang terdahulu, tapi nyatanya angin beliung membeku di perseteruan masa.

Nang ning nung, berilah keheningan suwong akan raga musti meleburkan nafsu demi kuteguk ridho-Mu yang sawong dalam pemahamanku paling kluwung. Mulai lepaslah satu-persatu rahasia keganjilan penuh, terbangnya larku mendentup tak harap cepat luruh mengguruh tiada ingin runtuh. Aku berdaya kesaksian malam itu membeletat relung sukma mengajak ruh ngelayap bersama jasad paling jabung.

Kukepakkan pelahan tarian memikat, kuhaluskan budhi pekerti asal jiwa sontak. Kini dalam putaran bersama, sembilan laron berkelepak jatuh, tujuh lainnya gugur tergelepak, dua belas lain merintih terkapar di samping pagar. Aku tinggal sendiri tanpa teman pun penghibur, aku berbisik di kesendirian terhimpit dingin menggerogoti sum-sum dalam citraan orang bingung.

Untung telah belajar sebelumnya, kugayuh cahaya mencium lekad di getar jiwa hangat menyatu di tulang rusuk. Satu persatu menghilang lenyap entah. Apa kutemukan di dunia nyata? Atau menjelma bidadari surga? Sungguh aku terpana kehakikian muksa tanpa warna bunyi serangga. Apa yang harus kutempuh? Ingin memutari cahaya lagi sebagai kiblat ruh jiwaku bersama waktu. Oh, aku nikmati segala yang pernah kuterka, dugaanku menjelma ilmu, kefahaman makna hidup bersetubuh dalam keagungan wujud menyatu.

Tak kuhitung memutari cahaya itu menari-nari dalam kalbu. Aku berharap gosong cahaya-Mu tetapi Kau tak memberi nyala padaku, aku tatap lekat hingga imbang persetubuhan penentu takdirku. Kau dalam gambaran cermin atau aku harus mandi seribu kali demi pertampan rautku ketika hendak bermuwajaha.

Kesturi kusemat di ketiakku, sungguh mabuk cahaya-Mu. Makin lama dayaku layu, kudengar terompa malaikat mendekat. Siapa kau, wahai bertubuh memenuhi bumi dengan sayap? Jibrilkah? Atau sang pencabut suka? Aku dalam kesedihan awan memberat sesenggukan, tetapi tiada medekap erat, hanya menyambangi waktu sekilas. Lalu terbang meninggalkanku, dayaku lama tambah sayu, kukendorkan ikatan ketentuan yang kupercayai pijakan. Aku lepaskan seluruh demi mendapati ketetapan.

Aku bersimpuh bumi menggapai masa-masa kaku terpecahkan saat sayap-sayapku lepas satu-persatu. Kenapa tak masuk di becek air keruh? Sebab kutahu bukan kesejatian ilmu, hanya hiasan duniawi yang mematikan kawan lalu. Maka kuputuskan mencari tulang iga dan tiada lama bertemu, kubopong dalam pelaminan debu, itulah penulis maksud; Kulya dalam Relung Filsafat.

(II)

Setelah menyimak paparan ganjil gandul tapi bukan bandul yang ada di pintunya Faust-Goethe, pun berbeda saat menaiki pesawat Hipersonic Derrida, Freud, Nietzsche, Sartre serta lainnya, yang tentu kau nyaman dalam membaca.

Namun tidak selalu naik pesawat kan? Pasti rindu berjalan, kangen menggelandang. Sebab itu bacalah Kulya, kerikil kepastian, bukan dari mimpi tidur tidak nyaman. Seperangkat kerja hari ini, kebijakan jalan biasa seperti wasiat Voltaire, Plato, Aristo juga Hegel, pelan sesuai laju hayati, maka jangan terburu-buru ketika meraupnya.

Revolusi terjadi jika dikerjakan hati-hati fikiran matang dari dasar renungan, gerak bukan kenangan tapi menggali air di pekarangan, memuncratkan tanah liat berpasir dan semua musti dikeluarkan, bukan batuan besar tapi kesadaran lembut pembangun tembok keadaban.

Kulya, elok parasmu di mata sedang berjalan. Bukan pesan ajaib yang hanya bisa dilakukan pesulap atau pepesan kosong. Tapi deretan sketsa mujarab, dataran cermin digosok mengkilat, tidak cembung cekung menimbulkan penyempitan serta gelembung. Kau kudu menarik diri sebaik mungkin atau kecewa, tapi jangan pecahkan cermin, meski citranya pudar bertelanjang.

Ceriwiskah aku? Kulya menjelma jati diri utuh, bukan asal para tokoh tersebut. Berhubung kau suka bayangan, kutaruh sosok pesona tubuh mereka, sedang cahayanya dalam diri kita. Untuk tidak salah memilah batuan kerikil, temukan dirimu penjaga keselarasan kasih sesama, yang tidak memaksakan kehendak sedari akar sebelumnya.

Kulya sedang menyapa jaman di waktu pembacanya. Mencari puisi ke pelosok damai sejati, sebagai peristiwa sulit dilukiskan semata pancaran keagungan. Menghampirimu bukan lewat sangkaan semu, namun duga ilmu membuka jejaring ketulusan. Culik aku bagi tangkapan bermutu, kuterima dibetetin menjadi santapan bernilai di kediamanmu.

Jangan tersenyum wahai yang membatu di pinggiran sungai. Kalau sampai tak ketemu, berarti memberi ketukan pintu keliru. Untung setiap nurani insan seirama gerak kesadaran, dan bukan akar kekuasaan filsuf terdahulu yang nongkrong di otakmu.

Kulya hanya menjumput hati menghidangkan bagimu. Andai tak berkenan buanglah jauh, ini bukan mengasih tapi sekadar memberi tahu semua memiliki. Sungguh sayang kalau tak sampai ketemu, buah kebenaran makna mengemban hidup, serta mewariskan kebajikan kepada generasi terhormat.

(III)

Enak sekali bicara selera kebijakan; teman nyeletuk. Lalu kusampaikan ini; mumpung kertas dan pena masih bersetia dengan kalbu dan jiwa. Apa yang kau mau tentang selera kebijakan? Kalau memang tak berminat, jangan sekadar jarak, ambil sikapmu berkalimah runtut. Kau yang paling menggebu kutunggu; mana teman baikku?

Teman itu kelemahan juga kehilafan. Tegur sapa aku, agar balik kembangkan. Kulya sejenis ucapan kudu diturut, diruntut sedari asalnya waktu ke mana kan jatuh; kalbu atau nalar. Ini rangkaian jadwal kerja dan itu kebenaran cinta. Bekerjalah menurut seleramu. Kemerdekaan berpijak dilahirkan menentukan pandangan, maka asah mata penamu demi tancapan semakin jitu.

Kuberharap kata-kataku sampai ke seberang, serupa jembaran Langitan kembar, satu menggiring ke utara, satunya mengajak ke selatan. Atau timur barat digayuh, sementara aku tak kemana-mana serupa orang gila di jembatan, kadang di sebelah kiri dan kanan. Kanan kiri menjadi tak jelas sebab menuju satu titik tujuan. Kalau tak menyebut utara selatan, timur barat, kiri kanan, aku berlalu lalang hampir tertabrak. Syukurlah segera terjun ke bawah ditampani bengawan, mengikuti alirannya sampai yang dimau, bergelayut pasrah dalam keremangan doa air mata.

Aku tak lagi peduli yang tengah dalu menentukan sikap. Oleh akulah kemarin kau mengerim mendadak, padahal jalan searah. Kau memang tak ambil giliran inginnya nyerobot. Kecuali di arena balap bisa seenaknya, tapi hati-hati tikungan tajam kan jatuh mencium aspal mengkilat atas hujan lewat. Kata preman, pecinta juga yang iseng; jangan saling mendahului, namun nyatanya kalimah itu sama; jangan saling membunuh! Tapi setelah temukan kata membunuh, malah melakukan dulu. Sungguh ini kebalikan musti ditilik.

Balik ke judul atau tak patut dipersoalkan, kalau nanti mencederai. Andai menjadi akrab bersahabat tak apa, kuteruskan seperti angin menarikan jemari bambu depan rumah. Setiap harinya berpadu rayu di lentik idepmu, membasuh segaris tebal alismu pegunungan seribu. Inikah pandang berpindah tentang Kulya-mu Dalam Relung Filsafat-ku, berisikan ujaran-ujaran hidup. Di tahun lalu telah kuluncurkan aforisma berlabel Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga, murni sepuluh tahun tertempuh. Namun hasilnya masih merasa kurang mapan menjanjikan pedoman. Maka bagi penambah Kulya ditampilkan; tarulah di meja perjamuan tengah malam atau dalam kesianganmu sendirian.

Taruhlah sebelum mencintai, agar mampu mengambil sikap kebaikan menderap, meski belum beranjak namun sudah ada krentekan niat. Sejenis itu yang kuharap Kulya. Tarulah kalimahnya, lalu keluarkan pendapatmu. Adakah kemiripan? Kalau tiada, itu yang kuharap bagi selera kebijakanmu. Ini penolakan persetujuan sangat, dimana keduanya merangkul diterima pada lain tempat cara pandang. Wajah itulah kebijakan, tiada membela pun yang dibela, sebab pembelaanmu menjelma pribadi yang bermutu.

Kau iri hati ketika aku berceloteh? Yang sebenarnya kurang bijak, sebab iri hati itu kehormatan tersemat di tubuh kehendak. Agar tak menaruh hormat, irilah pada diri sendiri yang jauh berlalu membatu. Atau kenapa pengantar ini dipersembahkan untuk diri sendiri. Ini tolok ukur gratis bermasyarakat sebagai pelajaran cuma-cuma tanpa ditarik biaya di bangku sekolah, hanya saja moralitasnya bertanggung jawab akan tenggang rasa.

Orang Jawa dulu bilang; ini belum waktunya dipelajari atau yang sirr membahayakan diungkap. Dua kalimah yang menonjolkan ego tanpa sepengetahuan penikmat. Ini hipnotis memikat; tidakkah yang berkata belum waktunya, tidak mengetahui rahasia umur seorang, apalagi dirinya? Tidakkah sirr itu nikmat sejenis sirr-siran, atau kerahasiaan buka-bukaan? Memang di sini ada hijab melingkupi, namun lewat kesungguhan bathin, segala yang bathin tak lagi membathin.

(IV)
Wahai pencipta di remang rimbun dedaun, lagi-lagi mungkin ada yang kurang berkenan, tapi biarlah hadir keaslian atau jangan-jangan tidak mempunyai; kesahajaan tampak walau tiada terkatakan. Ialah gerak pandanganmu ke telaga ketika mengajakku, keayuanmu bukan yang kau lihat namun mereka tersaksikan.

Ia pemancing tak peduli bayangannya menanti tangkapan. Jangan tanya atas apa mendapatkan, ia kurang berharap hasil payahnya, hanya merindu kesendirian mengalir, matahari-matahari melampaui kepala. Ia bukan pemancing malas melemparkan jala.

Tahukah yang dipercakapkan sewaktu bersama senar, walesan serta celurit besi mungil? Ia menunggu sambil berdialog bathin atau bersamamu sekadar lewat. Tidakkah di antaranya permasalahan sekitar, maka kehati-hatian patut dituntut, bukan kegamangan terlalu tidak beranjak sebab kesemutan.

Perhatianmu perbandingkan merindu, kehati-hatian pula kesemutan. Di situ kusebut kudu menerjemah. Bukan berarti penerjemah tidak memiliki, lewat pandangannya berbagi jarak sangkal punya selera kenyam; memamah usia di kesenyapan, merah senja mendekam tenggelam pada kesuntukan liang, karena rindunya Ruh bertautan.

(V)
WAHAI JIWA-JIWA TOLSTOY

Aku mengintipmu di balik kelambu. Kaukah yang menunggu terlempar pemahamanku, atau kupapah dalam pengantin waktu? Inikah berkah umur meluruskan seperti apa pandanganku saat berhadapan denganmu? Benarkah ini berkah usia kutanggung?

Mengingatmu bahwa kesalahfahaman terjadi, kudu mengurangi agar tak terbentur remuk sekali, tapi berpelukan serius. Sebab cinta bukanlah ilmu hitung, namun keberimbangan hukum keseimbangan nurani. Salam damai yang peringati hari, esok pijakanmu, maka langkahkan sepatu menurut selera kebenaranmu.

Aku tersenyum simpul padamu saat kau intip jendela bukuku, dunia baru pemandangan anyar menanti hakikatmu takdirku. Tapi apalah arti kelahiran kalau tak bertemu kesadaran matang bermuara kebijakan lapang.

Salamku dari dekat; tinta hitam di matamu lekat menari-nari ke kalbu memberat, meluap kabut tersingkap di dedaun menjelma embun memikat. Aku mabuk pengalamanmu-pengalamanku berpadu, pengajaranku-pengajaranmu bersatu pusaran lesung tersimpan henang-hening-henung.

Ya Allah, doaku sunyi menggebu dalam citra-Mu. Berilah kepaduan penuh keselarasan utuh, meski waktu tak balik berpeluk; yang belakangan milik-Mu, begitu juga kini, apalagi kereta kejayaan. Aku cemburu atas keputusan-Mu, berilah cukup kebijakan mauku; membiru dalam genangan kenang, mengundu di kesunyian remang, memerah di kelenjar fajar memutih ke haribaan.

Aku si lemah berharap setuju dalam guyub ridho-Mu, oleh mentari mencahayai bintang gemintang, bulan menemani kunang-kunang, apalagi kalau bukan ayoman-Mu kebijakanku. Kulya pada itu remuk suntuk-Mu, sebab waktu tak balik bertemu, hujan menggenangi pipi sekali hadir kunanti kebijakan rahayu.

Marilah duduk santun berjamu mengunyah kunir te?mu masa lalu, dan bersyukur diberkahi kasih punya sayang membalas kesempatan, menemukanmu dalam kereta menuju kota, orang-orang melihat kita bagai ratu dan raja, menyebarkan beras kuning kembang tujuh rupa.

Tahukah kau paling kusuka, saat telingamu berselipan sekutum kembang kanthil putih susu. Perhatikan anak-anak pelosok dari desa sahaja, para prajurit punggawa gagah, berompi mentereng bawa tombak trisula, kuda-kuda perkasa ditunggangi kesatria, barisan berjajar mengawal kerinduan kita.

Yang lalu tak terkira kini menjelma perhitungan, nyata kedekatan jiwa mengikat segala maumu jiwa-jiwa Tolstoy, dariku juga dindaku tersemat dalam Kulya. Aku dan ia punya mau, semoga Tuhan punya setuju. Jika lelah suntuk atau suntuk lelah, hempaskan balik nafasmu dalam kebesaran menyungguhi pemahanmu Kulyaku.

(VI)

Jadilah sorgaloka pendapatanmu saat berbelanja di pasar kebudayaanku. Pilihlah maumu, bebuah kurma di talam, buah-buah anggur yang segar, pun kembang sedap sumekar.

Atau sepasang sepatu kuda agar larimu bertamba kencang. Mungkin kau mengidam pelayananku bersama para gadis pemikat bathin? Jangan malu, aku tak bercerita pada siapa pun jika kau setuju.

Ini bukan pasar gelap loakan, celeng pun semacam barang rongsokan apalagi curian, sebab segala kuberikan kebaharuan pandang. Aku berharap hanya satu berlaku, mata uang kejujuran.

Terbukalah oleh aku penuh kejelasan dagang, memang ada yang kurang kusuguhkan. Aku tak mengadakan yang tiada, namun yang terjadi serupa kau tidak merasa panah asmara, ketaksadaranmu kuambil untuk kau milikmu yang belum terketahui, pun hanya kupersembahkan bagimu.

Harga-harga kuharuskan terang, aku tak suka mencla-menclenya lidah apalagi hati, maka jangan penasaran mengenai spekulasi atas untung berlebih, karena harapan terlalu memberi bekas kesakitan. Ambillah pelahan sebagai fitroh kesejatian hayati, tentu kau memahami kedatanganku.

Sengaja tarianku tak lagi menggebu, sebab kau sering pening melihatku berputaran balet membelit selendang. Ambil jarak nilai agar tidak cepat menawar dengan harga menggelikan. Sungguh kau punya penawaran baik yang sanggup menyembuhkan luka kemanusiaan.

Kulya diketerpisahan hening kesadaran paling jitu sedari lelingkupmu menyetujuiku, keterjaan tekadmu berjembatan saat bertemu. Tidakkah aku telah bercerita kereta?

Mereka menantimu wahai pesemayam di kedamaian, siarkan ketentramanmu menjelma puisi pun lagu atau rumusan ayu. Pemahaman demi pemahaman, panas siang mendung klawu malam temaram. Siapa pemilik senja fajar abu-abu?

(VII)

Inikah segitiga sama kaki janggutmu, ketika menyusuri jembatan waktu sedingin tubuh beku maunya panas demam menggigit kepastian cecapan lidah, lantas putus memasuki perut. Sebelum terlanjur ke kedalamannya, marilah memohon Pemilik Hidup seperti melapangkan yang dikehendaki, menyempitkan sebaliknya juga seharusnya yang ditilik dalam diri.

Apa yang dikatakan unen-unen di atas; pemilik malam merawatnya hingga menemukan purnama pun gemintang di mata, kejatuhan embun selepas bergumul lamanya kabut menunggu. Dan pemilik siang memelihara energinya di segenap terang, menemukan cahaya matahari menerobos kulit daunan, mewarna kesadaran tubuh berupa kebalikan bathiniyah malam.

Sebenarnya pemilik siang malam senantiasa merawat malamnya tiada kelengahan. Sepenuh mampu menggenggam kesadaran gemuruh siang lewat, juga malam harinya dikenyam demi kelanjutan menemukan siang berbinar, atas matahari penggenapan bulan semalam.

Ada sebuah tanyaan tak musti terjawab namun diterima. Ketika terjaga malam hari, siangnya tiada risau atau tak merasa ada yang tertinggal pun kehilangan, tapi saat terlelap di malam hari, siangnya kelupakan. Inilah ketaksadaran bening dilewatkan. Namun bukan berarti terus terjaga di segenap siang malam, tapi ini yang terberi kedua waktu berbeda warna pun ukuran masanya. Apakah demikian?

Menggelitik memang, menerangkan yang sulit dimengerti, tapi tidakkan yang belum sampai tak harus dilewatkan, bukannya dilalui dengan kesadaran kemungkinan terkendalinya ruang dirasakan. Dunia yang kita pijak kehati-hatian mempengaruhi gerak ketentuan, mengajarkan nanti berjalan celaka atau berlaku sebaliknya. Kiranya semangat meneliti mengagumkan jika jejaring kesadaran mengangkat yang kabur, meneggelamkan keragu-raguan bersama keyakinan tengah malam.

Sampai kini mensejajarkan siang malam, keduanya memiliki kemampuan, daya rekat seimbang berbeda warna, di sini tempatnya fajar senja berbuah sepadan wujudiyah. Namun bagaimana kalau merasakan siang di malam hari, merasakan malam di siang hari, atau pun tak merasa keduannya dalam kurungan definisi. Ini bagaikan purnanya penghilangan ruang waktu setelah melewati tahap persetubuhan senyawa.

(VIII)

Yang jauh dan dekat disandingkan dalam kemesraan. Ini bukan intrik persekutuan tapi siku-siku kokoh segitiga kesetiaan. Yang bermusuhan pun bercinta, bobotnya sama berkehendak manunggal. Menjelma garis ketiganya bertemu saling menutup, bukan membuka huruf U kerenggangan. Senafas melodi gelombang mendekap sebanding mencapai bintang menjulang.

Andai di keremangan terwujud, tinggal diimbangkan cahaya luar agar tidak kontras pada pemilihan tempat. Untuk kemakmuran hati seyogyanya dibutuhkan pencahayaan purna, kejelasan guna tidak tersandung fitnah, fatal lagi menganggap tiada sebab kegelapan. Cahaya yang utama, sketsa membutuhkannya, makna yang terkandung ialah tunduk Pemilik Cahaya.

Tahap berikut benar-benar kerelaan total akan kebutuhan. Tidak mungkin segitiga menjaring cahaya, maka kudu memangfaatkan lubangnya demi peroleh bentuk. Oleh karenanya ruang di luar harus ditutup rapat; goda keragu-raguan yang bisa membuyarkan garis terang, adalah ketegasan ditegakkan demi ketajaman maksud.

Secara naluriah segitiga berlubang, tinggal meneguhkan niatan. Di sini sudut-sudut diberi tugas sama mengangkat ke pucuk realita. Bagaimana jika salah satu sujud segitiganya telah bercahaya? Taruhlah di tengah yang akan membentuknya.

Bagaimana jika cahaya bukan hasil segitiga tapi dua garis sebelumnya? Tinggal mengarahkan yang sedang berlangsung kesadaran kecil mengikuti dewasa. Kenapa segitiga? Sebab membutuhkan pencahayaan fokus. Tanpa cahaya akan buyar tidak terarah, tiada memiliki titik kejelasan pada dataran kesungguhan.

Barangkali siang-malam dan senja, atau siang malam dan fajar bersatu dalam diri, untuk mengurangi kelupaan yang selalu merasakan kehilangan. Akhir panjang pendeknya catatan ini sebagai surat pamungkas firasat. Atau jadilah tembang nang-ning-nung bersetubuh dalam Relung Filsafat Kulya. Hadirlah kesetaraan menimbang bahan bergerak senyawa kuat, mawas dalam cermin kaca benggala masing-masing.

Yang baik terpantul terang, yang keliru tersadar tiga kali. Kulya tak habis memberi inspirasi menimba kata-kata menjernihkan mata bathin. Anak-anakan rambut ikal memanjang, jangan putus sebelum siang malam senja, malam siang fajar; kau aku juga mereka, aku kau kepada-Nya.

Seperti memindahkan ibu kota, aku pamit mengalihkan bukit Arjuna menjelma candi Prambanan sambil kutaburkan kisah percintaan, batu-batu Borobudur kuambil lalu kumasukkan dalam ingatan jaman. Kutegakkan tugu kaca segitiga di tengah kota, agar saling bercermin dalam laku kemanusiaan. Wahai pemberi keberanian ini, salam dariku yang punya mau; kebijakanku menjelma maumu. Lantas apa pedulinya yang tak mau.

2 Desember 2004, September 2009.

Januari

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Yang terwujud menyungguhi kesungguhan.
2. Berapa waktumu yang berkualitas?
3. Keyakinanmu, sudah separuh perpustakaan dunia.
4. Memang ada bedanya batu dan mutiara.
5. Daripada membaca buku tidak bermutu, nikmatilah alam.
6. Tarulah bacaanmu, agar dapat menyelidiki semangka atau maja.
7. Keyakinan menjelma jalan yang menentukan.
8. Kebenaran diterima seluruh umat ialah akal budhi.
9. Tetangga serupa skat kaca memantulkan wajah kita.
10. Cahaya mengenai pendahulu, masak hanya menggandeng bayangannya?
11. Benarkah, kebenaran yang berada dalam dirimu?
12. Bedakan penaruh beban dan pemikulnya.
13. Tugas kita mewujudkan keyakinan.
14. Sakit bahagia pun hilang oleh datangnya lupa.
15. Kesadaran mewujudkan unsur-unsur bertenaga.
16. Kebaikan keikhlasan seperti seorang buta.
17. Dukungan hanya menambah berat perasaan.
18. Bercinta itu wujud peperangan dan kasih sayang.
19. Sia-sialah waktu, berbincang pada yang tak menghargai ilmu.
20. Dengan ketenangan kau sanggup merasakan.
21. Banyak bersyukur temukan api, tapi tak banyak mensyukuri-Nya.
22. Orang timur kalamnya melampaui waktu tapi tubuhnya membatu.
23. Berjaraklah kekacauan memetik hikmah, wahai yang berkecamuk.
24. Cermin bermakna sama, hanya pencahayaannya berbeda.
25. Seorang gila yang lapar pun kudu dihargai belas kasih.
26. Sayang, aku belum menyesuaikan yang mereka harap.
27. Pencerahan sewujud cahaya jatuh laksana pulung.
28. Kita masih kurang menyelidik akan ketidakwajaran.
29. Pengetahuan sejati dari yang dipelajari dan terus diperbaiki.
30. Fajar, pagi, siang, sore, senja dan malam ialah sketsa mengikat.
31. Ketahuilah dirimu dari orang lain.
32. Membangun kualitas pendidikan seperti mencipta menara keabadian, tapi membangun materialitas berlebihan, berhati-hatilah terjadi penjarahan.
33. Bukan mencari kepurnaan, tapi peluang menambal kekurangan.
34. Dapatkah kau sesuatu dari pujian?
35. Lemparkan batu di telaga untuk menghibur kedalaman rindu.
36. Kesalahan menjelma hantu kerap membayang.
37. Menetapkan sikap menjadi dinding ketenangan.
38. Ilmu pengetahuan sebagai jamu, lainnya racun pembunuh waktu.
39. Merasa bersalah, salah satu tanda keimanan.
40. Pencerahan semacam anak keberuntungan.
41. Mengolah tanah gemburkan jadi gerabah pemikat mata jiwa.
42. Kebijakan itu ruang besar tembus pandang bagi ke dalamnya.

Februari

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Kebijaksanaan muncul dari bocah menolong temannya yang jatuh.
2. Kebijaksanaan adalah pertolongan dengan ketulusan.
3. Si bodoh dan si pintar bersatu dalam penalaran dan kurang ajar.
4. Memberantas putus asa dengan menerima takdir berlapang dada.
5. Kebebasan pemilik gagasan atas kejiwaannya yang merdeka.
6. Kesetiaan akan perjalanan sebab gelisah terhadap dambaan.
7. Waspadalah pencuri yang menyelinap dan bangga di permukaan.
8. Ukuran kita berbeda, maka standarisasi sejenis pisau haus eksistensi, palu hakim berharap kekuasaan, atau ego mematahkan kemungkinan.
9. Setelah membaca pandangan para bijak, kita sadar jarak yang disampaikan atas realitas, maka kudunya mengerti di jalan mana melangkah.
10. Kenalilah lahan, agar di musim selanjutnya mengerti yang musti ditanam.
11. Kematian itu putusan. Maka apa yang kau perbuat sebelumnya?
12. Sikap kritis mengurangi kecelakaan yang dibebankan.
13. Kesadaran mempertegas yang seharusnya diperbuat.
14. Kita berasal dari ketidakberadaan segala sesuatu.
15. Kemampuan menentukan batas-batas tangkapan.
16. Tidak harus yang berkerja menghasilkan upah (ini penekanan ke dalam), ketika kerja sebagai kebenaran.
17. Indahnya mencari kebenaran, bukan pembenaran di antara sesama.
18. Kebenaran adalah tahap yang dilalui pencari keimanan, sedangkan keyakinan sebagai kemajuan akhir.
19. Prasangkan dan curiga adalah jangkauan mengintriki keyakinan.
20. Duga menggayuh positif, rindu sewujud jangkauan pengharapan.
21. Berkurban bukannya tidak menyayangi, lihatlah kegembiraannya.
22. Keterbatasan menimbulkan pengingkaran akan keindahan ciptaan-Nya.
23. Orang bertengkar menyiapkan perangkap dusta dan hianat, padahal dasarnya senang kejujuran yang menghadirkan ketenangan.
24. Doa itu kesadaran diri paling hakiki.
25. Jagalah doamu, jangan sampai berlalu.
26. Kebenaran di atas fakta serta logika.
27. Tenangkan dirimu sebelum berhadap kepada yang Maha Damai.
28. Tanyalah hikmah atau yang berfaedah.
29. Pengorbanan tidak selamanya baik, tergantung demi apa dan dengan apa.
30. Karya keindahan itu punjer denyutan hidup.
31. Setelah melewati perjalanan, keindahan agung dalam seni kematian.
32. Sebab senilah, para tokoh sanggup memikat.
33. Ilmu seni itu cangkul tajam mengolah tanah.
34. Kepurnaan tidak dari kemenjadian, tapi kesadaran menjalani hidup.
35. Rasakan segala unsur tubuhmu, kau kan mau yang sejatinya kau mau.

Maret

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Ingatan akan kematian merupakan puncak kesadaran.
2. Yang sungguh-sungguh gila tidak takut resiko paling fatal.
3. Kematian adalah perpindahan lebih baik dari kesia-siaan.
4. Kehendak hakiki ialah yang terdalam.
5. Lewat pertanyaan kita tahu pribadinya.
6. Kenikmatan hakiki berasal dari kebaikan.
7. Makan berlebihan, awal timbulnya bencana dalam diri serta lingkungan.
8. Memperbaiki diri atas cahaya teman, mempercepat kegembiraan, daripada cahaya terpegang sendiri sekaligus bekerja.
9. Julukan bermaksud ejekan ialah hinaan berkepanjangan, tapi temukan kebaikannya setelah mengerti makna sebutan, atas nama yang kau harapkan.
10. Siapa yang tidak hirau kemungkinan kecil, bakal ditinggalkan yang besar.
11. Tuhan tidak berharap dikasihi. Jika mengasihi, Dia mengembalikan lebih.
12. Jangan-jangan kita hanya mengasihi diri sendiri atas nama Tuhan.
13. Pekerjaan dan tempat menjadi penilaian.
14. Kalau sadar asalnya, tentu tidak terjadi peperangan, tapi pihak ketiga pemicunya.
15. Perkawinan merupakan kebersamaan cita berpadu kemesraan dalam kebijakan.
16 Saya tidak nyaman berbicara kebijakan, tapi bagaimana tahu bijak atau bukan, maka kejujuran sebagai awal kebijaksanaan.
17. Eksistensi ialah akal sehat, sedangkan nurani adalah dorongan kesahajaan.
18. Para penulis berujar: Perbanyaklah diam, tapi tidak menyadari kalau tulisannya itu obrolan. Atau ini soal ukuran, volume, tinggi-rendah serta berat-ringan.
19. Semakin bertambah pengetahuan, persoalan mudah diselesaikan, hanya semoga tidak seenaknya.
20. Pada hakikatnya orang tidak ingin berbuat jahat.
21. Yang kaya harta tanpa kehadiran fakir miskin, tentu lebih menderita.
22. Semua sudah tahu, kekayaan bukan kepemilikan barang.
23. Orang yang paling bebal itu membanggakan kebodohannya.
24. Tidak bisa menyembunyikan sesuatu dalam diri, ini hantu selalu mengikuti.
25. Semua insan adalah medan magnit.
26. Gairah yang menggelegar tidak perlu diterangkan.
27. Gairah ialah cermin tangguh.
28. Hidup yang bagaimana? Maka jangan membuang waktu, cepatlah menelusuri masa.
29. Beban mencengkeram memperjelas takdir, dari pada yang sambil lalu.
30. Hidup itu perjuangan tidak sia-sia.
31. Hakikat kebenaran bukan yang dimiliki manusia.
32. Berlebihan itu asal kerusakan, kekurangan sebagai awal kepurnaan.
33. Setiap nama tidak hanya bersifat materi tetapi juga spiritual.
34. Seorang bijak menyalurkan bakatnya, tapi si pengecut tidak sama sekali.
35. Kejahatan yang dilakukan bukanlah bakat murni.
36. Cita-cita orang bijak membantu sesama.
37. Penderitaan itu kehormatan sesungguhnya.
38. Badai dahsyat melebihi cinta itu guncangan keimanan.
39. Bedakan keyakinan dengan mitos serta angan-angan.
40. Terbukti orang kuat mampu mengendalikan nafsunya. Di mana orang itu?
41. Lakukan yang kau percayai, sebab hidup begitu singkat.
42. Salahkah penglihatan mereka? Dalam menguliti jiwa, perlu khasana hening.
43. Kita belajar dari kehidupan. Lantas apa yang kita berikan kepadanya?
44. Carilah pemberi ilmu, walau berprofesi rendah di dahapan orang lain.
45. Bergaullah dengan yang baik-baik, sebab fibrasinya mempengaruhi.
46. Kuasai dirimu sebelum berhasrat menguasai medan pertempuran.
47. Tidak tersangkal ketekunan mendatangkan keberuntungan.
48. Salah satu jalan mencapai kebijakan ialah memaafkan yang lain.
49. Belajarlah filsafat dalam ketenangan lahir bathin, jika berharap lebih.
50. Salah satu cara menghadapi keputusasaan dengan merendahkan diri.
51. Orang kuat memegang tanggung jawab akan terbimbing ke jalan benar. Atau lekas bertaubat jika melakukan khilaf, dan sanggup menerima kebenarannya.
52. Jiwa-jiwa lebih adalah para pemaaf.
53. Rasa bersalah serupa hantu bagi kaum beriman, dan Tuhan Maha Kasih, maka terangilah dirimu dengan mengasihi sesama.
54. Kesalahan tidak disengaja, menyimpan pertolongan Tuhan yang tidak tersangka.

April

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Boleh mempercepat langkah asal lelah jangan diteruskan, nanti hasilnya mengecewakan.
2. Kalau semua dianggap penting akan lamban jalanmu. Naiki satu perahu dan lihat lainnya di sampingmu, kau dalam perlombaan laju.
3. Yang angkat berat suatu saat mengalir melewati terowongan kenangan.
4. Kebiasaan baik, jika pengulangannya menajamkan makna perdalam pencarian.
5. Dasar kebijakan menyadari perputaran waktu, musim serta cuaca rindu.
6. Pengalaman tertulis berlainan warna bagi penerima, menjadi tolak ukur tidak memberi cermin, hanya mengimbau berkaca di rumah masing-masing.
7. Tuhan memberi kesempatan, tapi kita sering melalaikan.
8. Perjalanan bukan jalur nasib uji coba, maka berhati-hatilah melangkah.
9. Kehidupan tidak memberi banyak ruang waktu selidik ke puncak, namun ada masa belajar dari sebelumnya, dan setiap generasi itu penerus pengetahuan.
10. Kesalahan akan mengurangi kebahagiaan.
11. Jiwa penemu bertanggung jawab, dia sesosok penggiat.
12. Bekerja bersungguh-sungguh mewujudkan kebenaran yang diyakininya.
13. Orang giat dapat dikatakan penggiat.
14. Orang konyol melamun yang didambakan tanpa dilandasi kerja.
15. Manusia memiliki bibit keangkuhan, yang merasa hina akan selamat dari sifat buruk.
16. Perbaharui pemahaman ke arah penguasaan, sebab setiap detik situasi menghimpitmu.
17. Jawablah soal dengan sederhana, lewat menarik nurani bagi cermin penyelesaian.
18. Perbendaharaan tersembunyi itu kearifan, walau pada orang yang menyakitkan.
19. Berjaga di tengah malam, siangnya tidak merasa kehilangan, ini bisa berlaku balik.
20. Kesengajaan, ketidaksengajaan, yang menentukan berat ringannya hukuman.
21. Kebaikan itu hasil beberapa latihan akan kesungguhan serta ketabahan.
22. Manusia mencari atau tidak, kehadiran Tuhan tetap sama.
23. Jangan biarkan sepi, ajaklah hatimu bernalar. Jika sepakat, banyak orang menyetujuimu.
24. Ketika malam memasuki rumah. Lalu siapa pemilik hawa sejuk itu?
25. Sebab nalar perasaan, manusia sanggup bertahan sampai sekarang.
26. Menjadi beban bukan kemiskinan atau berlebihan, tapi perasaan kedua-duanya.
27. Jadilah sebab atas dorongan Penyebab, untuk sebab lain demi akibat positif.
28. Sebab hidup begitu singkat, carilah penyebab abadi.
29. Hukum keabadian tampak dalam gerak alam.
30. Yang dianggap kecil, esok menjadi sandungan dan terjatuh olehnya.
31. Spekulasi tanpa penanda sejenis judi, sekurang-kurangnya lewat firasat.
32. Kesatria selalu perteguh pendirian, pendiriannya perkokoh keyakinan.
33. Tanpa penderitaan, hidup suwong makna dan tiada hiasan di dalamnya.
34. Penderitaan menjadi tulang punggung kehakikian.
35. Kelanggengan alam tropis adanya gunung berapi dan sumber mata air yang merawat kejernihan fikir.
36. Tanda tidak ikhlas itu kecewa. Untuk menekannya mengurangi gerak balasan.
37. Nyawa adalah harta yang sering terlupa.
38. Membantu sesama seperti menolong diri sendiri. Tapi yang mengasihi orang lain demi diri sendiri ialah kesombongan tertunda.
39. Pelajari dirimu hingga temukan makna, tentunya dapat memaknai lainnya.
40. Yang merasai dirinya fahami Tuhan, aku berfikir ini keterlaluan.
41. Kanan-kiri adalah fitroh manusia.
42. Orang bisa terbunuh sebab kepatuhan dan kelupaan.
43. Salah satu manfaat kesederhanaan itu ketenangan.
44. Yang membuat ide tidak sederhana ialah gairah.
45. Kita mengembangkan nurani (kemanusiaan) sebagai jalan kehidupan.
46. Kasih itu kesederhanaan sahaja.
47. Terimalah apa adanya selepas usaha atau lelaku sederhana.
48. Pemilik keyakinan kuat percaya, Tuhan menakdirkan dirinya menjadi.
49. Kecelakaan hasil dari kesalahan.
50. Kepribadian menjadi ciri khas dirimu.
51. Keikhlasan bersumber dari ruh kesadaran akan Pencipta.
52. Langit kita saksikan material, yang spiritual dalam kalbu.
53. Ruh memberi lahan nalar perasaan untuk berkembang.
54. Tuhan pemilik perbendaharaan tersembunyi yang betebaran di langit bumi.
55. Kesungguhan jujur menghasilkan buah manis, dan menanggulangi perbuatan jahat.
56. Bersilatuhrahmi mengurangi fikiran curiga.
57. Berjuang sewujud menyatunya unsur-unsur dalam diri.
58. Bekerja tidak menyenangkan sebab tidak sesuai keinginan.
59. Keringat kerja sewujud embun terlahir dari fajar keyakinan.
60. Tempaan hidup bagi kaum berfikir, semakin mematangkan diri.
61. Kesadaran itu kunci segalanya, dan berdekatan dengan rasa pahit.
62. Kekuasaan hanya langgeng pada orang-orang sehat.
63. Kebanyakan pekerja di pabrik, fikirannya terpenjara.
64. Puncak tujuan hidup ialah mewariskan kebaikan sambil membawa kepasrahan.
65. Keterbatasan itu sifat manusia, maka keinginannya melampaui.
66. Tuhan mencipta insan dalam keadaan gila sejak lahir, agar kita tergerak mengasihi.

Mei

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Yang senantiasa berfikir, hidupnya bertambah mantab.
2. Ketakutan benar jika Tuhan tidak menerima perbuatannya.
3. Yang mentah bahaya, lagi tak sanggup menjebol kegembiraan.
4. Kebenaran diterima jika laksana angin lembut yang berhembus.
5. Pengetahuan sejati menuntun manusia berbakti kepada Tuhan.
6. Jiwa terluka bekasnya tidak hilang, dan berbalik menerima kebenaran.
7. Kalimah anjuran semisal daya nurani yang mengetuk pepintu hati.
8. Nalar itu netral bisa bermanfaat atau bencana, tergantung dari dan ke daya tersebut.
9. Jangan kunyah buah pendapat, sebelum duduk menyendiri memakannya.
10. Penggalian diri, salah satu laku pencarian kebenaran.
11. Yang menyelamatkan dirimu ialah kedekatanmu pada kebenaran.
12. Hati sang raja, nalar penasehatnya, sedang perasaan rakyatnya.
13. Kita berjuang menuju jiwa-jiwa yang tenang.
14. Ujaran-ujaran ini untukku, bagimu kalau mau.
15. Manusia berjuang dalam menegakkan kemanusiaan.
16. Keyakinan ditempuh dengan terus berjalan dan belajar.
17. Kita dilahirkan demi mengisi kehidupan, maka jangan seteguk air.
18. Fikiran sebenarnya daya spiritual yang kongkrit.
19. Perasaan saling bertemu akan berjumpa kesalahfahaman serta kesetiaan.
20. Nafsu bersifat kesementaraan.
21. Menciptakan dunia baru, berangkat dari hal-hal yang ringan.
22. Jiwa adalah kenyataan sesungguhnya.
23. Jangan menilai para guru seperti anak-anakan tangga.
24. Capaian sejenis kerinduan sampai dan terus membulatkan makna.
25. Pelaut mengukur jarak berlayarnya lewat rindu kenangan silam.
26. Insan ingin perlengkapan demi lebih mudah memahami tujuan.
27. Kebahagiaan mendekati ketenangan serta kematian.
28. Yang sadar tujuan, memanfaatkan umurnya dengan sebaik-baiknya.
29. Puncak intelektual, bersatunya pemahaman tentang tuhan dalam diri.
30. Kalau sadar lahir di musim penghujan, kudunya ingat musim berganti.
31. Lambaian tangan bermakna penantian pun perpisahan.
32. Penambahan waktu mengajak lalai membuang masa dengan kenangan.
33. Jika ingin terpacu, percayalah bahwa masa semacam kejutan.
34. Pertanyaan itu tantangan kudu terjawab pun diperjuangkan.
35. Jiwa nalar harus belajar mencapai kedamaian yang disetiai.
36. Bakat yang selalu diasah akan semakin wangi.
37. Kedamaian merupakan pemahaman yang disetujui.
38. Kebenaran itu kenyataan terterima meski banyak mengingkarinya.
39. Jiwa itu ruang-waktu tidak terkira kecuali dengan pemahamanmu.
40. Kehancuran jiwa bila tidak dipedulikan.
41. Mengasah nalar perasaan itu menggali perbendaharaan tersembunyi.
42. Naluri semacam terowongan tidak bercabang.
43. Orang payah menolak kebenaran dengan sia-sia.
44. Kejujuran fikiran positif menyelamatkan perjalanan.
45. Dunia tanpa agama, akan mempercepat datangnya bencana (kiamat).
46. Kebahagiaan menyungguhi keyakinan dengan bekerja terus memahami.
47. Setiap insan merasa baik-benar, ini kudu dipelajari agar temukan sejati.
48. Pemahaman menyerupai kekuatan bersahaja.
49. Hakikat tersembunyi dapat tampil dengan melewat latihan keras.
50. Kekuatan sesungguhnya adalah kepercayaan diri.
51. Hakikat menyatu dengan kesunyian-Nya.
52. Kebaikanmu bagi orang lain, tanpa dirimu.
53. Kebenaran itu hukum tidak berubah.
54. Keyakinan sejati bukan hasil campuran dari beberapa kepercayaan.
55. Hukum spiritual serupa cinta, atau cinta itu kelembutan spiritual.
56. Pencerahan itu Cahaya Murni, bukan sekadar sugesti atau mimpi.
57. Kejahatan senantiasa membelenggu.
58. Landasan kebebasan ialah kejujuran dan menyetiai perjanjian.
59. Kebaikan itu awal kebebasan, dan kejujuran awal kebahagiaan.
60. Jika berharap dikasihi Tuhan, kasihanilah yang lain; kata mereka.
61. Bersyukurlah atas kebaikan yang kau lakukan, itu atas izin-Nya.
62. Sadar atau tidak, perubahan melewati pengulangan ketajaman.
63. Pemikiran besar dilahirkan dari jiwa telah matang tempaan.
64. Benar, hidup itu keajaiban.
65. Kepastian itu pemberhentian segala, tidak luput dari kepercayaan juga.
66. Kau kudu tahu batasan lelah, haus juga lapar.
67. Biasanya yang remeh malah sering menyakitkan.
68. Kebahagiaan itu pertemuan memerdekaan serta mengikhlaskan.
69. Kebablasan bukan fitroh kemanusiaan.
70. Kasih ialah bekerjanya cinta dalam tubuh insan.
71. Orang bodoh seolah pintar, merasa pemilik agama.
72. Jangan dengarkan pujian, meski pun sedang tiada.
73. Kau bisa tenang oleh pencerahan yang kau lakukan.
74. Kesekaratan itu waktu-waktu menentukan kepastian.
75. Tidak sefaham bersinggungan keyakinan, tapi salinglah terima keadaan.
76. Binatang dan tetumbuhan, tidak diciptakan begitu saja.
77. Bedakan ucapan berbelit-belit dengan memperdalaman.
78. Kehormatan sering diukur lewat prestasi yang tampak.
79. Gagasan seperti taburan benih pada kesementaraan dunia.
80. Abadi melampaui ruang-waktu, tapi tidak lampaui hukum-Nya.
81. Berhati-hatilah jual beli tanah, sebab kau berasal darinya.
82. Ingatan itu gambaran dari perbendaharaan tersembunyi.
83. Kesungguhan menunjukkan daya, sekaligus kesombongan tersembunyi, maka hati-hatilah lintasannya.
84. Api menjalar, cahaya merambat.
85. Kehidupan selalu memberi, tapi kita tidak sungguh-sungguh mencari.

Juni

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Memandang hamparan langit pun bentuk rekreasi.
2. Senang tidaknya terkait perasaan kerja dan cinta.
3. Laki-laki perempuan tidak ada paling tinggi, tapi saling melengkapi.
4. Kemerdekaan wujud kebenaran.
5. Kebenaran Tuhan disadari ketika benar membutuhkan.
6. Gagasan berpondasi kenang berwarna kekinian berpandangan ke depan.
7. Kejahatan itu ketidakkekalan.
8. Menahan diri, salah satu daya melumpuhkan musuh dalam dan di luar diri.
9. Kegembiraan sejati setelah mengembangkan kasih.
10. Kerendah hatian menjadi ketenangan sejati.
11. Bukan melonggarkan aturan tapi melembutkan pengertian.
12. Perbaikan kalbu menuntun kebaikan pandang.
13. Pantaulah jalan kehidupan, agar sanggup menarik tujuan.
14. Kenali dirimu serta ambil pesan-pesannya.
15. Lintasan datangnya dari hasrat berlebih.
16. Kesalahan memicu hadirnya bahaya.
17. Ketidakterbatasan sanggup menentukan batasan.
18. Kekekalan jasad secara alami, mungkin sebab purnanya kesadaran ruh.
19. Penyesalan terjadi karena berfikir proses dalam keadaan pesimis.
20. Spiritual itu ruh dinamis lagi kekal.
21. Daya insan itu ketersangkaan tak tersangka, di sini ada pertautan gairah.
22. Fikiran belum teryakini, tidak merubah kondisi, paling seberkas remang.
23. Mungkin debaran datangnya kematian menghadirkan puncak kenyataan.
24. Penderitaan cepat mematangan, bukan karbitan pun penggelembungan.
25. Perasaan terkumpul serupa ruh berpadu.
26. Menggalirnya takdir menghasilkan duga, sekuat menanggung kenyataan.
27. Kebutuhan akal sehal ialah fikiran positif.
28. Rasa asing sebab belum bertemu kebersatuan.
29. Yang mengubah fikiran ialah pandangan.
30. Titik normal nurani setiap manusia sama.
31. Menyalahkan diri sendiri merupakan tameng keselamatan.
32. Maafkan orang lain tapi jangan diri sendiri, kecuali sedang putus asa.
33. Bedakan menyalahkan dan teguran.
34. Melamun bisa menumpulkan nalar menumbuhkan kelupaan.
35. Yang tidak mengatakan itu setengah kebohongan.
36. Ketidak ikhlasan atau pamrih itu kebohongan fatal.
37. Kesalahan orang baik ada pada ketidaktahuan.
38. Ide sekadar impian dan harapan menjelma pijakan.
39. Pengorganisasian tanpa rendah hati adalah kosong.
40. Kepercayaan kurang tepat mendatangkan kejahatan.
41. Kejujuran suatu waktu dapat menghentikan kejahatan.
42. Penerimaan kurang tepat, awal kesalahfahaman.
43. Bedakan kesalahfahaman dengan kesalahpengertian.
44. Jiwa terang mampu terima kenyataan berkesungguhan pengorbanan.
45. Alasan mendatangkan selisih. Alasan tidak terelak itu pengorbanan kasih.
46. Terimalah cinta tidak terbagi, ia ruh yang didambakan setiap insan.
47. Jangan menolak cinta dalam hati, sebab takkan purna kedua kali.
48. Gila berperang merupakan penyakit.
49. Gelisah itu penyakit, tapi ada yang suka merawatnya.
50. Awal peperangan pada rasa gelisah.
51. Matahari tiada dua, beda dengan rembulan yang berkaca di telaga.
52. Kewajiban menjadi beban jika belum dapat pencerahan dari ketaatan.
53. Ukuran seringkali mematikan.
54. Seruan murni sedari hati. Hati seolah didatangkan dari tanah surga.
55. Keserasian yang diharapkan Penguasa Alam.
56. Pemahaman berbeda semacam operasi caesar.
57. Jalannya kehidupan dengan cara bertahap.
58. Kesadaran bukan mengembalikkan jalannya hidup, ini penyesalan.
59. Kecerdasan sering menolong seperti keberuntungan.
60. Yang melampaui kebahagiaan itu rindu kesejatian.
61. Pemusatan pandangan menjelma daya tidak terelak.
62. Seringkali kemalangan mendatangkan kemujuran.
63. Ajaran murni sanggup memahami kehidupan.
64. Jika konsep cinta semua agama sama, di mana letak realitasnya?
65. Nurani bukan agama dan tidak lahir dari sana, hati semacam cermin.
66. Keimanan itu kesejatian hidup.
67. Jarak spiritual ada pada ketaatan.
68. Ingin menjadi diri sendiri merupakan kesadaran lebih.
69. Pengorbanan dengan pamrih bukanlah pengorbanan.
70. Orang bahagia sadar akan perubahan.
71. Budak Tuhan itu jalan tengah, kanan kirinya orang lain atau diri sendiri.
72. Ingat mati tanpa mencari penentu, hanyalah sia-sia.
73. Pemahaman dapat diperoleh dari sikap rendah hati.
74. Ingat mati memberi banyak pengertian akan hidup.
75. Pembebasan itu wujud ruh, atau jiwa sebagai wujud pembebas.
76. Ingin jawaban memuaskan, tanyakan pada diri melewati nurani.
77. Orang yang tidak memiliki kesan, tidak menghadirkan pesan.
78. Kadang sangkaan yang menyulut.
79. Kenapa kau menanggung sangkaan orang lain?
80. Kebenaran muncul melewati masa.
81. Perasaanmu menarik seseorang.
82. Saling bersapa mengurangi kebiasaan buruk.
83. Dukungan sejati itu keteguhanmu menyetiai.
84. Baju yang kau pakai lebih lama dari usiamu.
85. Kerinduan ialah daya jangkau keharuman.
86. Usiaku lebih tua darimu; kata pohon di pinggir jalan.
87. Kebiasaan menentukan pribadimu.
88. Kepercayaan bijak memberi ruang diskusi.
89. Keyakinan tanpa melewati rintangan, belumlah keyakinan.
90. Anggapan tanpa bekerja semacam goda terjerumus dalam lena.
91. Satu kebaikan menuntun pada kebaikan lainnya, ini berlaku sebaliknya.
92. Karakter muncul sebab beberapa kali tempaan.
93. Penciuman ialah daya gesek.
94. Hakikat cahaya mungkin bulat.
95. Jika mengabaikan kecil menemukan yang besar atau tidak sama sekali.
96. Menyadari itu menghargai.
97. Kejahatan timbul sebab egois.
98. Jangan bertindak dalam keadaan gusar atau sedih.
99. Kegusaran oleh rasa takut tidak beralasan, maka mantabkan langkahmu.
100. Perasaan itu embrio keilmuan, sebelum tahap renungan.
101. Perubahan adalah kejutan mencerdaskan.
102. Perbaikan jikalau menyadari diri.
103. Sebenarnya pukulan keras ketika terlena.

Juli

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Insan diberi kemampuan menarik kebenaran serta kekeliruan.
2. Hukum keselarasan yang langgeng mengenai kehidupan.
3. Kita tanah ladang yang mendapati hujan Kasih Sayang.
4. Seolah ilmu yang diciptakan Tuhan awal kali itu keindahan.
5. Berbicara seni itu rasa, menciptakannya semacam membangkitkan rasa.
6. Semua sadar arti kebebasan, tapi hanya sedikit yang mampu membebas.
7. Awal kebebasan mengkaji aturan.
8. Yang merusak alam sebab mengatasnamakan kekejian dengan kebebasan.
9. Tuhan mengatur kelestarian hidup insan lagi mematahkan sifat kebinatangan lewat hukum kejelasan, agar tidak menjalar laksana api.
10. Kita mengarahkan anak agar tahu dalam kehidupan ada aturan.
11. Tiada di dunia ini kesia-siaan bagi yang menarik kesimpulan.
12. Yang tahu kebaikan tentu tahu tidaknya.
13. Perang tak perlu terjadi, namun siapa sanggup mengelaknya. Carilah yang membuatmu bertempur dalam diri.
14. Tanpa pengetahuan benar, tidak akan menemukan kebenaran, meski dalam kesadaran.
15. Kesadaran itu pintu memahami kebenaran.
16. Keterbatasan terasa sebagai bukti adanya aturan tidak terjangkau kita.
17. Cara menghilangkan jenuh dengan memberi perhatian lebih pada ruang cemburu.
18. Berfikirlah secara mandiri antara himpitan pendapat orang lain.
19. Pendapat umum biasanya seperti kepala tanpa tubuh.
20. Tujuan kekuasaan sebenarnya mengatur.
21. Ketakseimbangan dimasuki daya berimbang, jika tidak akan sirna kelanggengan.
22. Kehidupan sebagai keajaiban yang tampak.
23. Hukum gerak itu wujud kehidupan.
24. Apakah pengembangan hukum Tuhan, masih murni hukum-Nya?
25. Jika fikiran sehat berkumpul, belum tentu hasilnya menyehatkan.
26. Seolah kehendak-Nya waktu terjelaskan, saat mentok permasalahan.
27. Tuhan memakai simbul dalam kehidupan, agar insan mudah memahami.
28. Hidup adalah pilihan yang mengejutkan.
29. Kekal menghadirkan kekekalan ialah ruh berjiwa suci sukma mentaati.
30. Demi mendapatkan pembenaran, gunakan kemampuanmu dengan benar.
31. Sering kali setelah berbicara panjang lebar, sedikit dapat dilukiskan, ini semacam alokasi energi dengan pemborosan menguap ke udara.
32. Kesederhanaan membentuk ketenangan memberi jalan lapang.
33. Semua orang tahu bibit bencana itu kerakusan.
34. Kita melihat kehendak sejati tercermin dalam hidup sahaja.
35. Kesamaan penderitaan menjelma daya terbesar mewujudkan perubahan.
36. Jika berjanji kedua kali, mana yang kau anggap paling benar dan murni?
37. Kejadian yang kau alami menjadi bimbingan gratis jika ikhlas menerima.
38. Niat berbuat baik semacam embrio keimanan.
39. Ujaran itu terkumpulnya faham-faham, sebab insan tidak hidup sendirian.
40. Ketetapanmu yang diuji tuhan itu diangkat-Nya ke permukaan.
41. Kerugian sebenarnya berasal dari diri sendiri, ini berlaku balik.
42. Pemahaman atau memahami ialah usaha kebaikan.
43. Kita sering memperhatikan lebih yang nantinya tidak memberi keselamatan.
44. Kemerdekaan bukan tujuan, namun alat mencapai kebahagiaan.
45. Tempat belajar bukan di bangku sekolah, namun di ladang realita.
46. Perubahan dalam kehidupan termasuk hipnotis menuju keajaiban.
47. Jangan terima keajaiban dengan kekaguman lebih, jika berharap kelembutan hukum-Nya.
48. Kata terlambat pada kamusnya orang-orang yang tak memiliki daya.
49. Kekonyolan sering tersebab bersikap ngeyel dalam menyikapi kehidupan.
50. Melumpuhkan mengacaukan itu sakitnya akal sehat sebab kemabukan.
51. Ketika kemarahan memuncak, akal sehat tinggal sejengkal.
52. Menampik kebenaran nurani, murni bukan akal sehat.
53. Orang buta membanggakan kekayaannya.

Agustus

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Fikiran serupa jiwa senantiasa muda.
2. Kehidupan tubuh tidak bebas, walau ada ngelmu memecah raga.
3. Merdeka atau terkekang terlihat corak fikirannya.
4. Hasrat tanpa didukung fikiran, hanyalah angin.
5. Fikiran tanpa usaha, laksana orang jompo.
6. Kematian bukan perubahan.
7. Bedakan perubahan dengan perpindahan.
8. Siapa bilang kebaikan pun kejahatan spiritual berada di luar waktu?
9. Masa bersebab akibat sebagaimana ruang, balasan dinamakan akibat.
10. Penyesalan bukanlah hukuman, namun semacam cahaya pencerahan.
11. Kepiluan, cermin permasalahan yang belum terpecahkan.
12. Pemahaman hidup itu hakikat nafas meneguk perjalanan.
13. Orang terpuji banyak dibutuhkan dan sedikit membutuhan.
14. Orang berpribadi mandiri tanpa contoh sudah memberi contoh.
15. Kata-kata biasa dari yang kita anggap luar biasa, kita merasa besar di belakangnya, kita terpengaruh bukan isinya, namun atas penyampaiannya.
16. Pandanganmu menentukan langkahmu.
17. Sejiwa nyala lilin dibawa berlari kudu hati-hati, agar tak tertiup angin kencang atau banyak meleleh sedurung sampai.
18. Jiwa pemberani sejenis nyala obor dibawa berlari tidak padam di tengah jalan, malah berkobar sampai tujuan.
19. Pandanglah jalanmu lalu fikirkan bagaimana melangkah.
20. Memasuki jiwa penulis, akan lebih mudah memahaminya.
21. Kesadaran melingkupi diri memberi peringatan, apakah celoteh bebocah, orang gila, pengemis, gerimis, atau batu-batu sandungan.
22. Kehidupan mewujudkan keajaiban Ilahi yang tampak.
23. Luruskan fikiranmu, sebab kaki di tepi jurang waktu.
24. Di dunia ini tak ada getaran selain kedekatan.
25. Tunggangi waktumu dengan berusaha keras.
26. Ruang waktu milikmu, maka jangan menonggak menebarkan kasih.
27. Lahir bathin kudu ada pembimbing, agar tidak tersesat pun angkuh.
28. Keserakahan berawal kesadaran pemilikan, ingatlah semuanya amanah.
29. Kemurahan hati atas kesadaran keberlangsungan sebagai landasan hidup.
30. Bedakan bahasa kalbu, ruh, nalar, jiwa pun sukma, agar gampang memasukinya.
31. Kehendak-Nya hakiki, maka luruskan pemahamanmu.
32. Kau terhipnotis oleh kata-kata yang kau anggap benar.
33. Yang dianggap pesaing menjadi pemacu, itulah memberi dorongan.
34. Kebenaran sampai atau tidak, tetaplah kebenaran. Kita dapat mengukur gunung tidak perlu mendaki, cukup dengan penggaris atas hitungan seksama.
35. Apakah benar salah berangkat dari perkiraan lantas tidak terbantah?
36. Tidak seharusnya semua permasalahan minta pertimbangan. Tidak cukupkah mempercayakan dirimu dalam kesendirian?
37. Ada kurang perlu diselesaikan kalau melarut dalam waktu kesia-siaan.
38. Kesenangan sejati dihasilkan fikiran terarah dan kerja keras lahir bathin.
39. Yang dikerjakan yang diinginkan, inilah kesenangan.
40. Sebaik makhluk menjalani fitrohnya dengan kewajaran.
41. Baik-buruknya di luar dalam diri, tergantung kefahaman keduanya.
42. Keahlian beraneka ragam, sedang wujud kemerdekaan diberikan Tuhan.
43. Memberi pemaafan salah satu puncak kesadaran pun penyadaran.
44. Kebaikan hati tentramkan jiwa, ini kurang menarik tapi dibutuhkan.
45. Awal mula pelajaran kebaikan dari agama.
46. Agama tidak bertentangan nurani, tetapi merealisasikannya.
47. Kebaikanmu menyungguhi yang teridam demi keseimbangan.
48. Kerelaan yang sungguh menjadi kebahagiaan tidak terbantah.
49. Dari awal kelahiran, manusia butuh uluran tangan.
50. Saat-saat terbaik hidupmu selaras yang Tuhan mau.
51. Doa terkabul, dimana menyadari kehadiran-Nya mendekap dalam diri.
52. Lakumu itu doa tidak terbantah, maka yakinkan menyeluruh jalanmu.
53. Yang menghitung kebahagiaan materi, menderitalah jika ditinggalkan.
54. Negeriku terserang demam karya picisan, aku maklumi, hanya kurang wajar jikalau sampai generasi yang terhormat.
55. Kebenaran dapat difahami dengan mencari sumbernya dalam hati.
56. Ketenangan modal penguasaan dalam kegelapan pun terang benderang.
57. Ketenangan menahan air di gelas agar tidak tumpah dibawa berjalan.
58. Kalau mengawali perjalanan, sepatutnya sampai yang diharapkan.
59. Sempurnalah firman Tuhan, hanya kita kurang ungkap sesimbul-Nya.
60. Para pencari kemerdekaan, banyak yang terbelenggu kebendaan.
61. Kalau penebusan dosa ukuran manusia, agama bukan dari Tuhan.
62. Proses menjelma kesenangan yang sungguh berharga.
63. Kemalasan di ambang kesekaratan menuju kematian.
64. Kasih sayang itu bahasa lain Keadilan.
65. Kesahajaan sebagai dasar keadilan.
66. Perbuatan baik ialah anak kunci keadilan.
67. Yang faham diri mengetahui rahasia tanpa membaca, diri sejenis catatan berjalan.
68. Jikalau mencari kekuasaan, bersiap-siaplah dikuasai.
69. Jikalau berharap kekayaan, siaplah tidak menemukan.
70. Kebahagiaan perlu keseimbangan demi kelanggengan idaman.
71. Kemalangan sebab memaksakan jalan nalar, bukan kesahajaan bathin.
72. Persoalan berat sebab tidak dipersiapkan, sedang sebelumnya diberi masa.
73. Iman bukanlah kekayaan jiwa tetapi ladangnya, maka olahlah bagi sesama.
74. Yang beriman tidak percaya kecuali yang diyakininya.
75. Iman berpetunjuk serupa senja bagi petani segera pulang.
76. Keyakinan semakin tampak jikalau dalam keadaan rumit.
77. Berserahlah kepada-Nya sebagimana memahami diri terdalam.
78. Belum benar walau kalimahnya benar, maka carilah atau kerjakan demi menemukan yang sejati.
79. Hujan sedari awan begitu muasal kita ke samudra, namun laluannya membeda, ada melewati sungai berlimbah pun elok berliku indah. Tapi apa itu? Yang tak mengalir ke mana-mana, tidak bermanfaat sebagaimana telaga.
80. Idaman bermakna kecenderungan kepada waktu yang merasakannya.
81. Kesadaran umum belum tentu kebenarannya, ada kabut membekukan pengertian dalam komunitas, serupa kebiasaan salah kaprah berlabel tradisi.
82. Yang melihat gunung akan mendaki, sedang pendaki merindu kampung halaman.
83. Kekuasaan Tuhan tercium sampai ketidakberdayaan manusia.
84. Yang banyak digemari seni bercinta, tapi sedikit yang memahami kedalamannya.
85. Karya terindah bukan hasil kenangan, namun tangkapan ke depan seperti melempar jala mendapati yang belum tampak sedurungnya.

September

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Yang mengatakan merokok kebiasaan buruk, aku bertanya: Di mana kebaikan yang tak dalam kenikmatan merokok?
2. Perbandingan serupa sanggahan bukan tidak toleran, tapi mempertanyakan ke puncak kebenaran. Maka sangkalan tidak berguna diterima sinis, namun pemikiran sahaja di meja penelitian, demi menemukan yang sepatutnya.
3. Keimanan sejati tidak butuh dukungan, tapi firman terkatakan perlu dibubuhi di lembaran kertas disebar-luaskan, inilah kabar gembira.
4. Fikiran bukan cahaya tapi hatilah, serupa bulan terlihat atas surya, sinar bulan itu realisasi sepihak, sedangkan matahari menggerakkan gelap-terangnya hayati.
5. Yang melarang menembus hakikat Tuhan, takut keimanannya runtuh, padahal keyakinan takkan ambruk di sarang badan.
6. Aturan bijak sebelum ditetapkan ada, dan tidak bertentangan akal budhi.
7. Hukuman diterima senang hati, jika menyadari kesalahan serta tidak berharap banyak keadilan dunia, kalau tidak langsung dari para nabi, para pengikut sejati.
8. Akar tradisi terhapus, tergeser sedikit demi sedikit pada keyakinan baru.
9. Sakit berulang kali demi kau pandangi bukuku bagi waktu kita karenamu.
10. Ini ujaran, sekiranya masuk dalam dirimu lewat salamku.
11. Kalimahku di luar bentuk warna tubuh saat waktunya kepadamu.
12. Takut mati bukan apa sebab belum didengar dunia. Bagi siapa hidupku dalam kehidupan membutuhkan kata-kata, kukira keikhlasan menyempurnakannya.
13. Jika boleh mengadu, dengarlah kata-kataku meski benci maupun cemburu.
14. Kehidupan ialah di mana kata didengar.
15. Anak melahirkan semangat mensucikan kalbu.
16. Kehadiran anak mendewasakan kita, anak sholeh cita-cita kemerdekaan.
17. Kesimpulan ilmu adanya di pantai kesaksian sebagaimana butiran garam.
18. Kehidupan ialah belajar dan belajar.
19. Suara nurani akan salah jika tidak disuarakan.
20. Kepribadian itu resapan senyawa keinginan.
21. Belajarnya jiwa setelah tercederai kesenangan.
22. Hidup tanpa keyakinan bukanlah hidup.
23. Mereka memiliki alasan benar ?kenapa harus hidup,? tapi sedikit yang memiliki alasan benar ?kenapa harus mati.?
24. Ingat muasal, fikiran kembali sederhana, jiwa pun bersahaja.
25. Pemahaman menyelamatkan langkah dan pandanganmu menjadi jitu.
26. Kerugian yang kutakutkan ketika waktu berlalu sia-sia.
27. Yang tak bisa terbang sebab kaku pemahaman, maka penyesuaian dibutuhkan, demi meringankan kepakkan menuju yang terdambakan.
28. Kekayaan tidak ternilai pada pemahaman, dan dipermudah menyikapi soal.
29. Kekayaan jiwa tak terbantah dengan melewati hidup berpemahaman indah.
30. Sedikit terlihat perbedaan orang bodoh dengan orang bijak ketika makan.
31. Kebaikanmu itu peniadaan diri setelah menyaksikan dunia.
32. Jangan nilai orang dari tampilannya, nanti kau kecewa.
33. Jangan banyak keinginan sebab orang lain pun demikian.
34. Seringlah jiwamu menyendiri, serpihan kabut kan mendatangimu.
35. Segala sifat jahat senantiasa siap memenjarakan.
36. Kebenaran ada di timur barat utara selatan, namun hakikatnya satu: Usahamu dari kebenaran yang kau terima.
37. Membuang kebencian paling sulit, tapi itu kebaikan milikimu yang sejati.
38. Demi mendapati hasil di luar kebiasaan, berfikirlah putar-balik.
39. Salah hitung tidak memuaskan akan menimbulkan kesalahfahaman.
40. Ketakutan segala mengintrik jiwa, menyergap dari gelap menghadirkan dinaya, jikalau teguh serangan bahaya malah datangnya dari kesambillaluan.
41. Kekuasaan, salah satu sifat ketuhanan. Ketika turun ke bumi, para insan kerap menyalahgunakan lewat ketidakadilan.
42. Makna ketidakadilan sering berhubungan materi, ini kemanusiaan benda.
43. Ruh alamiah bersifat mandiri, maka sapaannya menjelma keabadian.
44. Kesadaran ruh penciptaan, kekuatan ini terabaikan sebab bersifat netral.
45. Ruh udara, sukma bayu, jiwa baunya, fikiran daya resap mewujudkan.
46. Keimanan tanpa mengalami keraguan, belumlah sejati.
47. Pengetahuan sejati tidak lewat sambillalu, tapi kesungguhan mata air.
48. Bedakan bermalas-malasan dengan melonggarkan urat syaraf.
49. Membaca menimba ilmu sekaligus rekreasi setelah suntuk saksikan dunia.
50. Kadang persoalan remeh melelahkan, ini kurang tepat.
51. Segala organ tubuh perangkat jiwa dalam mengekspresikan diri.
52. Dunia lahan menanam yang inginkan, ingatlah senja datangnya cepat.
53. Manusia ada sebab kemauan kuat dari Sang Hidup.
54. Jelas hakikat hidup bukan pada materi.
55. Pendidikan mengajak ke sawah, dan pengetahuan menyuruh bercangkul.
56. Pengalaman itu pendidikan cuma-cuma.
57. Yang berpengetahuan belum tentu mengetahui sepenuhnya.
58. Jika makan daging halal itu kesalahan, bagaimana pengkonsumsi buah. Hewan ada matinya, buah ada layunya. Maka makan yang tidak berlebihan sudah benar.
59. Kita terbentur adat dengan alasan tak jelas, sungguh ini menyedihkan.
60. Kerja itu kesungguhan bukan pura-pura.
61. Kita dibekali fikiran ganda, bumi langit malam siang senja fajar, namun kita mengharap satu titik keseimbangan, atau keberimbangan jiwa pun kerja.
62. Ini bukan kritik tapi meluruskan pandangan sepertiku, saat berhadap mukamu Tolstoy.
63. Kita dihipnotis diri sendiri, ini sulit meloloskan kecuali mengambil yang penting.
64. Di pulau Jawa ada pohon Jati: batangnya kokoh dahan rerantingnya seimbang, dedaunnya berwibawa. Ketika kemarau tiba, daun-daun rontok tidak mati, musim pun berganti hujan, daun bermunculan, ini berputar terus, tahun demi tahun berpuluh beratus tahun dan lebih. Itu yang diharapkan diri orang Jawa mengenai Jati Diri.
65. Sering ingat mati, bertambah jelaslah menapaki jalan menuju sejati.
66. Ada ucapan berbunga, batu-batu air mengalir, sehembus angin gelegaran gunung berapi pula angin topan, tapi yang terindah mengajarkan kebajikan.
67. Kebajikan dalam diri setelah membaca ayat-Nya yang disampaikan alam.
68. Kesendirian memunculkan diri yang sebenarnya.
69. Kehadiran Ilahi lebih cepat diresapi daripada direnungkan.

Oktober

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Kebijaksanaan sebagai wujud keadilan cinta.
2. Ketika burung sayapnya patah, ia baru ingin terbang melebihi kenyataan.
3. Daya hipnotis-Nya khusukkan kita, hingga melaksanakan yang diperintah.
4. Kekayaan sejati ialah rela ketentuan-Nya.
5. Buku-buku perwujudan kekayaan jiwa insan.
6. Kuasailah dirimu jangan menghamba atau meraja, jadilah penggelandang memberi kesan tanpa berkhotbah serta menerima pesan-Nya penuh rela.
7. Kasih itu suara hati.
8. Yang bisa memenjara selamanya itu gerakan tangan dan lidah, namun jiwa penentu tak pernah terpenjara meskipun selembut sutra.
9. Kebaikan perlu perbaikan berulang jika itu kebajikan, sebab kebiasaan baik belum tentu baik di dalamnya, atau kearifan di lingkungan baik itu biasa, buruklah jika tak melangkah, sebab waduk perlu aliran demi menyuburkan pesawahan.
10. Bersyukurlah diberi sakit, itu tangga nikmat kesejatian.
11. Tuhan malu mencatat kejahatanmu, jika ditimpa sengsara kau berlapang dada.
12. Pandanglah dirimu di luar diri, kau kan tahu yang sepatutnya dikerjakan.
13. Umur yang kau pergunakan sebagai tanda kebesaran Tuhan.
14. Otak pekerja hati majikan, sama-sama memiliki kekayaan saling melengkapi.
15. Andai alam dunia tidak perbincangkan Tuhan, tentu takkan runtut kesejatian.
16. Nurani itu guru mencegahmu dari perbuatan ingkar.
17. Dua cinta menuju cita-cita, cinta untuk sesama dan cinta kepada-Nya.
18. Kemungkinan, menjadi landasan dalam meluncurkan segala sesuatu.
19. Penilaian akal sehat belum tentu diterima sebab ada kemungkinan lain.
20. Yang hawatirkan mati sebab waktunya tak jelas. Kita sering hawatir pada yang belum terfahami, maka sebaiknya terus belajar.
21. Hawatir berkurang jika ada persiapan, di mana menempati tempat duduk yang seharusnya dinikmati.
22. Mungkin ruh semacam daya simpan.
23. Kita kambing hitamkan iblis, dan jarang mau mengakui kelemahan sendiri.
24. Peganglah nafsumu kuat-kuat, jangan sampai menjegalmu.
25. Hidup dibatas mati, kenapa masih berlalu lalang, sungguh kudu lebih baik.
26. Kata kematian mendorong tidak terlena.
27. Banyak kebaikan dihasilkan dari mengingat maut.
28. Kalau menghayati ruh kematian, tentu kan beriman.
29. Peristiwa menggetarkan itu kelahiran dan kematian.
30. Seorang pembunuh sekaligus membunuh hati sendiri.
31. Entah, seorang pembunuh bayaran bisa berdamai dengan hati nurani.
32. Puncak keputusasaan ialah bunuh diri.
33. Kita tahu, puncak kesombongan itu menganggap dirinya Tuhan.
34. Masak, Tuhan kau ajak bersekutu dengan keyakinanmu?
35. Kata kabar, berbaiklah pada orang baik maupun yang jahat.
36. Terimalah yang kau anggap pas atau srek bagi hatimu.
37. Hidup dibangun kebiasaan lewat cara pandang biasa, maka ketakwajaran membuat lainnya tercengang.
38. Mintalah koreksi orang lain, sebab kau tak mungkin melihat tengkukmu.
39. Yang berkaca di telaga, bayangan di air itu sebenarnya, kalem sejujurnya.
40. Mengupas hati berpandangan lembut, lagi melembutkan para pemandang, meskipun berpakaian kumal.
41. Seni dan perasaan bisa menggiring kepada tahap keyakinan.
42. Kebersatuan tanpa perasaan itu kecurigaan.
43. Revolusi, rasa emosional mempersatukan perasaan dalam suatu aliran.
44. Hujan keajaiban nyata, mencipta pelangi membahagiakan anak nurani.
45. Seni mutahir mencipta kemudahan kerjanya jiwa, mencapai temuan yang diharapkan kemanusiaan unggul.
46. Kehendak berkembang kesadaran usia senja datangnya ajal ialah fitroh.
47. Yang menjadikan milikmu sejati ialah kejujuran.
48. Kejujuran mendatangkan perbendaharaan tersembunyi.
49. Mencari titik kelemahan itu usaha terbaik memahami diri.
50. Waktu ialah penghubung meski ada yang seolah terpisah.
51. Sapaan itu menyenangkan meski melewat surat.
52. Kekuatan iman melampaui fikiran.
53. Waktu adalah yang kau katakan saat itu, maka perbaiki kesendirianmu.
54. Hasrat kuat pengaruhi bawah sadar, yang menentukan gerak-gerikmu.
55. Setelah bercakap pada kawan atau buku, kita tahu yang kan terucap.
56. Penciptaan sarang sebagai tujuan awal kehidupan burung, ia sangat bahagia saat anak-anaknya terlahir.
57. Sebab terbiasa soal-soal rumit, mudah menyelesaikan dengan sederhana.
58. Kesederhanaan pemahaman mempermudah terima takdir kehidupan.
59. Akal sehat tanpa pengetahuan akan mendekati perbuatan gila.
60. Peniadaan yang ada itu nalar kegilaan. Jika diberlakukan berbalik, maka kemajuan kan tercapai.
61. Keyakinan serta pemahaman itu cermin jati diri.
62. Kewajiban yang diberikan, atau pengamalan itu tanda keberadaan.
63. Yang mengombangambingkan kalbu ialah nafsu.
64. Yang belum terjadi menantimu, maka persiapkan dengan matang, agar pandanganmu leluasa dalam memaknai.
65. Jika keyakinanmu ampuh, membimbingmu pada kesejatian nalar nurani.
66. Paparan pengetahuan sejenis jembatan dari kepulauan satu pada lainnya.
67. Penjelasan baik mengurangi kesalahfahaman, tapi kesalahfahaman kerap menemukan jalan tercepat dari sebelumnya.
68. Hati nurani ialah malaikat penjaga.
69. Ketika pandangan Timur Barat bertemu, yang timbul kesadaran spiritual.
70. Otak menimang dengan hatilah melihat timbangannya.
71. Rawatlah nalar hatimu, jiwamu tenang berkeindahan menjalani hidup.
72. Nurani sama, yang membedakan wujud luarnya itu cara menatap dunia.
73. Menolong yang lain sama halnya memerangi kejahatan dalam diri. Maka kasih sayang, sanggup menanggulangi lintasan kejahatan.
74. Yang beriman lurus memahami tujuan hidup serta hak kewajibannya.
75. Hati fikiran lalu tindakan, atau cara pandang kalbu, timbangan rasio lalu mengerjakannya, menjadikan kepribadianmu.
76. Pemisahan diri fisikal spiritual, lewat terima kesadaran masing-masing.
77. Akal sehat tanpa kesucian jiwa, hanya menjadi budak benda-benda.
78. Peristiwa sekitar di dalam diri, yang membentuk kuat-lemahnya pribadi.
79. Ambil yang cocok, itu telah ada dalam diri, atau kau ingin ruangan baru?
80. Pejalan tersesat serupa lingkaran tanpa menuju titik punjer pengertian.
81. Pengabdian menyadarkan ingatan, meski sedang disergap kelupa-lupaan.
82. Kelupaan menyakitkan bagi merawat kesadaran, apalagi saat dibutuhkan.
83. Boleh jadi kelupaan menyelamatkan orang dari hantu ingatan berlimpah.
84. Kelupaan sebagai bukti kuasa tuhan.
85. Mengalirnya waktu bersamamu ialah anugerah tidak terhingga.
86. Tradisi yang dilandasi kesahajaan, kan diterima berlapang kelanggengan.

November

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Yang gigih bertahan menyungguhi keyakinan, seakan melihat nasibnya.
2. Tidak terelak, Tuhan mengikuti sangkaan hambanya.
3. Sangkaan semacam daya sugesti diri.
4. Seringkali pujian melemahkan kesugguhan.
5. Sangkaan antar sesama itu halusinasi yang tampak.
6. Rumah berdimensi kepurnaan; mutu bahan, struktur lengkung, pewarnaan, pencahayaan, ventilasi dan tuannya kudu menawan.
7. Ketidakbiasaan didorong nalar ganjil yang tertangkap sisi gaib dunia nyata.
8. Hukum alam sebagai cerminan hukum Tuhan.
9. Bedakan sangkaan dengan dugaan.
10. Sangkaan daya hayal, dugaan itu ngeranggehnya sukma pada sejati.
11. Hukum itu prodak kekuasaan.
12. Dari perdebatan sengit lantas terdiam, memunculkan pendapat kejujuran.
13. Logika perdebatan, seringkali bersifat kesementaraan.
14. Mengambil jarak pandang itu teknik aman menyikapi diri demi kebaikan.
15. Kalau orang hebat merasa pintar, tentunya berhenti belajar.
16. Orang menilai tergantung bahasamu.
17. Berucapnya hati diterima hati, jika lewat nalar, akal lain menilainya, maka berhati-hatilah memakai bahasa emosi.
18. Meditasi hanya jalan konsentrasi dan dalam gerak sosial, jauh lebih sulit.
19. Meditasi sosial itu khusyuk berkarya, giat propaganda serta lelaku ikhlas.
20. Setelah titik konsentrasi, teroboslah benteng goda yang merintangi.
21. Mereka belokkan fikiran, sebab tak berani lewat kesadaranmu yang utuh.
22. Lebih mudah berkendara hati daripada fikiran menuju kepada-Nya.
23. Reingkarnasi itu ingatan sebelum kesadaran sampai jejakkan keyakinan di bumi kelahiran.
24. Ketenangan tengah terbayangkan saat menjalani proses mencipta karya.
25. Waktu itu ruh, tempat tubuhnya, sedang kesempatan itu atas keduanya.
26. Kelahiran ialah kesadaran hidup.
27. Hati menentukan, jiwa mencari kebenaran, nurani menerima, nalar yang perhitungkan.
28. Saat ruang waktu termasuki, yakinlah fahami lebih lapang pemahaman.
29. Kehendak Tuhan dan insan menjadi keseimbangan.
30. Seringkali rasa puas menjebak kesempurnaan.
31. Kebenaran itu kesamaan segalanya.
32. Ego bersifat beku, sahaja mengalir.
33. Gairah itu lebih, maka kudu baik mengaturnya, sebab saat surutnya air laut, masih merindu datangnya pasang.
34. Gelombang itu pengajaran, tapi masih berharap pantai dan karang teguran.
35. Aturan hadir sebelum benda, benda menentukan hukum; ini sketsa kasar.
36. Tuhan yang pantas mengklaim.
37. Manusia seyogyanya tidak menjelekkan kemanusiaan.
38. Konskuensi berasal gerak bathin dan membathin menciptakan kenyataan.
39. Bencah tanah menghadirkan orang-orang ramah.
40. Tanahmu hatimu, seperti segumpal tanah mewaktu.
41. Debu kau pijak kepribadianmu di alam raya.
42. Kejujuran awal dan akhir kesempurnaan.
43. Kepurnaan bukan ketika purnama, tapi kepasrahan menanti kematian.
44. Penuntut ilmu mengharap kepurnaan akal budhi bersinar kerelaan.
45. Tindakan berasal pengalaman serta pengetahuan yang sedang berjalan.
46. Penulis kudu tahu kapan menulis puisi, esai, prosa &ll, sebab sketsa ruang-waktu telah terbentuk serta menginginkan bentuk sebenarnya saat lahir.
47. Hukum abadi meruang waktu sebelum dalam ruang-waktu. Kenyataan warna serta bentuk, kudu dimaksimalkan dari kesamaan alam sebelumnya.
48. Pembedaan itu memaksimalkan kerja setelah temukan pembeda.
49. Kita sering menuntut hidup sebab keinginan masyarakat, ini kurang tepat.
50. Orang tidak terima kesejatian sebab tak mengenakkan tubuh ancaman kejiwaan, atau kemapanan benda menghambat karena menjelma kehawatiran.
51. Kita tumbuh atas hukum gerak kepastian, tapi sering condong ke kanan kiri, merasa segalanya pasti atau sebaliknya. Maka hukum pasti penting diketahui ketakpastiannya, kita di antara keduanya dengan perasaan yakin.
52. Dengan keyakinan, manusia sanggup bertahan sampai sekarang.
53. Untuk bertahan di puncak gairah, sebaiknya tidak berfikir mengunduh buah saat bersemangat kerja.
54. Mimpi diperkuat sketsa kasar sebelumnya yang bertambah keyakinan.
55. Waktu berkata; yang jadi milikmu kini, maka ke mana ayunkan langkah?
56. Kadang pengandaian memotong sayap demi menghadirkan sayap baru.
57. Kejujuran tidak memandang imbalan dan berkarya itu kejujuran nyata.
58. Imbalan itu masa depan angan, dan kenyataan kini yang menentukan.
59. Kita harus tumbuh di jalan lurus antara dua kutub, meski pun sulit.
60. Kebenaran sebagai kenyataan bertahap.
61. Kebaikan itu kebenaran pertolongan yang diharapkan.
62. Kejahatan lambat laun berbalik pada tuannya.
63. Kejahatan itu kerugian yang tampak.
64. Kekuatan mengalahkan diri sendiri kudu ditampakkan.
65. Mengalahkan diri mengambil jarak hasrat realitas nalar dan naluri; hasrat dituntun, realitas pencerminan, fikiran menimbang dan naluri penentunya.
66. Kebaikan memperbaiki jiwa akan selalu perbaharui kesadaran.
67. Kesadaran sebagai kenyataan iman.
68. Mengayak menuju kelembutan, ini kemungkinan mengolah kenyataan.
69. Keyakinan itu kemungkinan ternyatakan.
70. Kebenaran ialah kenyataan proses.
71. Keyakinan bukan ungkapan, tapi darah daging tulang kesaksian.
72. Penempatan salah benar kudu ditarik benang alasannya.
73. Cara penyampaian menentukan warna kesan.
74. Kesulitan berasal dari ketidakmauan menerima kenyataan.
75. Bila surya tenggelam merasa kehilangan, carilah bulan demi malammu.
76. Laku keseharian mencerminkan kepribadian.
77. Kebenaran bukan putusan tapi landasan, putusan benar dari landasan kebenaran.
78. Mengukur permasalah rumit atau tidak dengan timbangan kebugaran, kesehatan akal budhi pada jarak yang dibutuhkan.
79. Yang berfikir menguasai orang, separuh pendapat tidak bisa, lebih parah lagi telah dikuasai diri sendiri.
80. Orang besar sering menentukan pandangan umum.
81. Yang memperbaiki sesuatu bersifat sementara itu kekonyolan.
82. Makna hidup memberi faedah jalannya kehidupan.
83. Nilai terbaik itu penguasaan pribadi.
84. Kebenaran yang tertangkap dan menetap dalam jiwa.
85. Kesadaran tak penuh serupa membaca keremangan, bisa membahayakan.
86. Menarik pandangan kudu hati-hati agar tak lepas dari pengertian semula.
87. Makna baik bergeser pengertian lugu, dan orang dianggap pintar sebab kekayaannya; ini perlu diselidik.
88. Keikhlasan menjadi punjer kebaikan.
89. Kejelekan sebagai kelemahan yang kudu dilatih agar tak terperosok lagi.
90. Insan memimpin diri sendiri, ini kesadaran penguasaan memerdekakan cita.
91. Perundingan damai ialah cara yang dibenci musuh kemanusiaan.
92. Harga diri adalah mahkota ego sang putus-asa.
93. Harga diri itu kejiwaan emosional, sedangkan martabat itu nilai insaniah.
94. Saling toleran itu garis kekuasaan pribadi serta jaminan keamanan.
95. Menguasai sesama itu kejahatan sebab insan diperintah memberi pengajaran, bukan pengekangan.
96. Kehawatiran meretakkan persahabatan sebab mengharapkan lebih.
97. Apapaun alasannya, mengalah demi kemaslahatan tetaplah terbaik.
98. Nafsu sering menyerupai nurani, sebab jarang menimba makna hening kesendirian bathin kejerihan jiwa.
99. Kesaksian jiwa merasuki persendian sukma, tapi kesaksian akal seringkali terlupa.
100. Kedalaman hidup menggali warna sesama itu kehendak-Nya mengabadikan kita.
101. Seringlah mengajukan persoalan waktu, sebab kita kerap terlupa dan melupa.
102. Makna hidup tidak lewat penelitian jitu penalaran cerdas, tapi penerimaan dalam.
103. Sejati itu mengembangkan jiwa menanam keyakinan di segenap lelaku.
104. Jiwa berkata-kata, fikiran menerangkannya.
105. Musuh menjadi teman itu kelemahan dan kesalahan.
106. Yang menganggap semuanya penting, bukan orang bijak.
107. Lidah keliru kadang oleh penerimaan telinga kurang tepat di waktunya.
108. Bagaimanapun baiknya topeng kebohongan, pastilah terbongkar.
109. Yang menganjurkan orang lain seperti air, tapi dirinya sendiri sering membatu, sungguh hukum air belum meresap penuh dalam tubuh.
110. Laku sahaja belum tentu jiwanya pula, namun kita terpikat sikapnya.

Desember

Inilah penulis tempuh (Kulya dalam Relung Filsafat)
setelah membaca susunannya Leo Tolstoy:
A Calendar of Wisdom – Wise Thoughts for Every Day

1. Gerimis mengantarkan kita pada pertemuan nurani pemahaman jiwa. Ketika percakapan mengalir, angan mendung menjelma hujan kenyataan.
2. Kejujuran manis jika tak terkatakan lisan tapi tulisan, serupa air liur nikmat ditelan.
3. Kelahiran memberi pencerahan, serupa senyum para tamu bersambut kebahagiaan.
4. Wanita berdaya, perempuan berpribadi, kata nona menggoda. Kataku; kau tak bernama namun memberi makna.
5. Menyembelih hewan kurban dikatakan kejahatan itu tak fahami fitroh keseluruhan.
6. Saya kurang tertarik vegetarian yang merasa suci tak menumpahkan darah kurban.
7. Perasaan berlebih menjelma bahan kesenian.
8. Seni itu spiritual yang tertampakkan.
9. Kesenian itu rasa, karyanya sejenis komposisi perasaan.
10 Jiwa seniman seperti air, inilah pembentuk pribadi luhur.
11. Seni serupa kabut pagi menyelubungi alam tropis di hati.
12. Bunyi musik penggugah rasa terbaik, tapi kata-kata berkalimah makna, tidak kalah hebat ketika mencapai kesendiriannya.
13. Ingatan, imajinasi, fikiran dan perasaan ialah tangan insan yang lain.
14. Mungkin terlalu cepat berkesimpulan bahwa ruh kudus kita rasakan.
15. Kebaikan ialah menyadari fitroh yang teremban.
16. Ada yang boros penyampaian, tapi saya percaya insan memiliki ukuran berimbang.
17. Saya tak tahu konsep yang dimiliki sampai berulang kali masuk penjara, tapi saya yakin dia pun ingin mencari kebaikan.
18. Manusia kini masih saja membungkus sesuatu yang tak tercapai dangan mitos.
19. Konsep berjalan sesuai kesadaran, jadi perubahan biasa jika menuju kebaikan.
20. Kesalahan terbukti, begitu pun kebenaran, pepatah Jawa; becik ketitik, olo ketoro.
21. Pandangan keliru oleh kebiasaan buruk pendahulu, salah besar tidak merubahnya.
22. Sering kekeliruan bertahan, sebab tidak menumbuhkan bunga kebaharuan.
23. Angan sejenis rayuan bisa melumpuhkan kesadaran, walau sekejap fatal.
24. Bedakan angan dan harapan.
25. Yang istirah tidur masih membawa kesadaran bangun, meski pun lemah.
26. Kita seringkali dirayu kesibukan yang menambah jauh dari tujuan hidup.
27. Bimbinglah kesadaran akan perubahan fisik pun spiritual demi kesejatian.
28. Perubahan hidup terlintas cepat, pun melewati tangga kesadarannya.
29. Dunia ada hukum nurani serta masyarakat, dan Tuhan menghendaki keselarasan.
30. Menipu diri sendiri pun orang lain, sama berbahaya.
31. Rasa malu itu tanda keimanan. Lalu bagaimana rasa malu yang palsu?
32. Keyakinan sejati tidak akan terganti, malah semakin teryakini.
33. Membela negara suatu kebaikan demi tegaknya kemanusiaan.
34. Bedakan iri hati dengan cemburu.
35. Iri hati terkikis lewat sikap rendah hati di kaki kesadaran tertinggi.
36. Rendah hati merupakan sumber kebaikan.
37. Makanan paling baik dari buah keringat sendiri.
38. Menghormati yang kita kasihi itu menjaga kebaikan.
39. Kenapa kita sering memberi yang tidak dibutuhkan?
40. Dia sayang orang bekerja sambil berdzikir, daripada dzikir menanti belas kasih.
41. Dia sayang orang berfikir sambil berdzikir daripada berdzikir merasa Dia cintai.
42. Sederhana saja tempatmu berteduh, banyaklah bercangkul menanam di tubuh.
43. Kebaikan hati sering rusak oleh keakuan.
44. Curigai kebaikan hatimu sebelum ke orang lain.
45. Memuliakan orang berilmu ialah tiang tradisi.
46. Perbuatan baik buruk, tentu bersebab akibat.
47. Perasaan itu kepribadian kalbu.
48. Tetumbuhan yang indah bisa melembutkan jiwa manusia.
49. Kembang pun membahagiakan insan, apalagi buah hatimu.
50. Kelembutan tersentuh kalbu, maka rawatlah ketenangan.
51. Pertentangan dalam diri sebab bersebrangan keyakinan.
52. Kewajibanmu mematuhi nurani, hakmu menyuburkan akal.
53. Keseriusanmu berkarya menenangkan ketika istirah.
54. Keyakinanmu yang teguh menggetarkan orang lain.
55. Patuhilah perjanjianmu dengan sukacita, meskipun payah.
56. Keyakinan tiada urusannya akal sehat, tapi biasanya menyetujui.
57. Keyakinan tidak kemana-mana namun bisa kelanakan pemiliknya.
58. Fikiran ke langit tak peroleh apa, jika hati mendapati kebenaran.
59. Ketentuan-Nya jadi keinginan insan kalau berharap dicintai.
60. Hiburlah kesedihanmu bersama-Nya.
61. Kebahagiaan ialah seirama.
62. Ruh itu nafas, jiwa rasa, sukma kehendak, hati merasai, nurani berjalan.
63. Kebenaran itu kebaikan, dan kebaikan benar sanggup menumbuhkan.
64. Kebenaran serupa wanita mulia sulit didapat.
65. Kebaikan itu awal akhir kebahagiaan.
66. Kasih ialah ucapan orang bijak.
67. Ruang waktu tidak pernah sama tapi ada kemiripan mendukung kesamaan.
68. Ruang waktu bisa mencederai pun dapat menyatukan.
69. Kadang kita terjebak berbohong yang tidak diharapkan.
70. Kesalahan mengambil kata, bukan kebohongan tapi wajib belajar.
71. Kebohongan ketika melakukannya dengan sesadar-sadarnya.
72. Ruang waktu hakiki terbentuk sebab keinginan penghuninya.
73. Gairah tidaknya, menentukan terbentur atau menyatunya.
74. Kesahajaan mendekati kemakmuran.
75. Manusia diberi kelebihan menemukan makna.
76. Kehendak sejati menuju kesempurnaan.
77. Kurangi sifat jahat sedikit demi sedikit, kebaikan pun berjalan pelahan.
78. Hujan seringkali melurus-lembutkan penyampaian serta pemahaman.
79. Doa itu kumpulan keyakinan, kesungguhan serta keajaiban ternyatakan.
80. Yang tidak berusaha keras, tidak mengetahui sejatinya kenikmatan.
81. Nilai moral menjadi pribadi peradaban.
82. Tuhan penguasa jaman menganugerahkan insan demi mengatur alam.
83. Peradaban itu jiwanya anak-anak jaman.
84. Salah satu buah pohon filsafat ialah kebijaksanaan.
85. Ilmu itu pemahaman manusia pada alam sekitar.
86. Tugas penyair, filsuf serta ilmuan lain ialah mempelajari ayat tersirat.
87. Insan memiliki daya supranatural, minimal sejenis sugesti pun firasat.
88. Daya dinaya spiritual dapat membantu kekuatan fisikal.
89. Peradaban itu spiritualitas bumi, sedang hiasan di dalamnya ialah wadak.
90. Harta tak dapat terampok itu spiritual, kecuali suka menyatakan keakuan.
91. Keramahan, salah satu tanda orang utama.
92. Dermawan tersenyum dalam pemberian, dan mereka benar membutuhkan.
93. Amal baikmu bukan ibadah, tapi Tuhan sayang dicatatnya sebagai pahala.
94. Puncak itu keheningan purna dari kegaduhan bunyi yang berwarna.
95. Moral anak terbentuk oleh lingkungan.
96. Keyakinan, fikiran, imajinasi anak, menentukan kejiwaan di kala dewasa.
97. Penceritaan pada anak, mampu membangkitkan imaji emosi cukup besar.
98. Aturan pada anak-anak, menentukan daya emosional akalnya.
99. Ajari anak bekerja dengan memberi contoh ketekunan nyata.
100. Insan diberi kekuasaan mewujudkan impian keyakinan ke dunia nyata.
101. Ukuran memperjelas karakter.
102. Ajaran kebajikan hati, menjaga kelanggengan hayati.
103. Kata rahasia Tuhan tersimpan dalam diri, hanya diberitahu-Nya sedikit.
104. Manfaat hasil olahan daya spiritual atau spiritual hakikat badan manfaat.
105. Yang menjalankan hidup berkaki kemanusiaan ialah ilmu pengetahuan.
106. Ilmu pengetahuan itu spiritual, namun kita sering melihat fisiknya saja.
107. Pembunuhan itu jahat, hukum ketegasan penting demi tidak menjalar.
108. Kasih ialah wujud keadilah tuhan.
109. Fitnah adalah bapak kepengecutan.
110 Nalar prajurit menentukan sikap, tapi digayuh kasih jika tinggi spiritual.
111. Seringkali kita salah memahami dua kata ini, kepatuhan dan ketaatan.
112. Pelanggaran perintah dari atasan untuk kemanusiaan, lebih bijaksana.
113. Persaudaraan itu salah satu jiwa kebenaran.
114. Sebarkan salam, akan merdeka dari penderitaan.
115. Jadilah atau tumpahkan dirimu dalam ruang waktu sekarang juga.
116. Ruh tidak meruang waktu, namun dapat merasakan kedua-duanya.
117. Aku belum berkata tapi kau menerka, ini menimbulkan salah faham.
118. Cinta tidak harus memiliki sewujud kesejatian kudu menyatu, sebab cinta senafas ajaran ada pemeluknya, pun tubuh tanpa ajaran akan kering spiritual.
119. Seperti pada Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga; marilah saling menyadari dan kembali bersetia.


EPILOG: SUGESTI BERHULU LEDAK

Aku tak tahu pasti sugesti atau nyanyian keyakinan, firasat atau ngelayap. Ini paparan suwong sebab tanpa duga tanpa nyana memasuki tarian pena tak berharap menjilat. Segala berdenyut dipercepat berirama runtut memasuki selubung patut diurut ke mana larinya tiada kau turut.

Ini menurut siapa? Aku punya kisah; ada sumur dalam diri tidak teruras, nyata sekali menari tidak tahunya berjingkrak. Inikah jiwa pemusik keras tersemat di langitan kertas? Baru sadari ini fitroh menggenggam setiap hati, menarik firasat menguliti cengkeraman siasat. Menunduk tidak ingin berlalu tanpa peneguh.

Mari berbaris dalam acara mensugesti diri menemukan keyakinan, ini bukan tumpang tindih imaji. Tidakkah kebenaran musti dicari? Ayo bersatu pusaran menenggelamkan yang serupa kejanggalan buta.

Kita susuri laku kesambillaluan lewat menggerakkan tak manfaat menjelma daya guna hebat. Sebab murung tanggulmu jauh, tinggi lagi angkuh, alirkan ke mana saja, asal jangan ke tanduran semangka, sebab nanti ampang rasanya.

Banyak darimu perhitungkan yang tak harus pelik, tidakkah umur menuntut berselidik? Maka sebrangi halilintanya ketakutan diri, sekejam merasai hidup bangkrut sebab takut. Yang tak percayai diri atau yakinnya tak berbuah sama sekali. Walau tertatih berlari sesuka hati.

Sebab namamu hidup, pribadimu mengendap perubahan peralihan maksud. Masak nongkrong tanpa tujuan juntrung? Itu kan geli menurutmu, atau kau katakan aku konyol selebor? Ini dari ketiadaan jadi apa-apa, kalau menimba atau timbanglah walau jempalitan, dan jitokmu terkena pertimbangan.

Sungguh tak pemberani mengutarakan, padahal kau bermaksud tak sekadar. Marilah mencapai yang terbayang, masak mengimpi awan, padahal sebentar lagi hujan. Rumahmu di mana? Atau kau ngeyop di pekuburan samping kamboja janda.

Apa jadinya tidak mau, dunia semakin terang cahayanya, hanya gelapannya pun bertambah; dengan pekat apa yang kau harap? Kau tidak ditolong kalau bukan pribadimu, maka dugaanmu ditimpai-Nya kepadamu.

Kau jadi pembangkang keliru, jiwamu terbelenggu keyakinan kaku. Akan lembeklah menggebu tidak kau turut. Ini bukan badai masa lalu; apa tak gerayangi kepalamu telah bocor lemparan batu? Sungguh bagkrut kemalasan diturut.

Ambil segala memori, lemparlah ke depan, di sana banyak tangkapan. Atau sudahlah, paling kau nggendumel saja.

Nurel Javissyarqi, 5 Desember 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*