Membaca “Realisme” Emha

Muhammad Al-Fayyadl
sinarharapan.co.id

Nama Emha Ainun Nadjib dalam jagat kepenulisan kita sudah tak asing lagi. Ratusan kolom dan belasan buku telah lahir dari tangannya, termasuk sejumlah besar feature yang ditulisnya untuk media massa. Namun, dari sekian banyak tulisannya, orang mungkin akan mencatat bahwa karya Emha di bidang penulisan cerpen jauh lebih sedikit dibanding puisi atau esai-esainya, meski tak kalah fenomenal. Cerpen-cerpen yang ditulisnya merentang dari tahun 1977 sampai 1982, masa-masa awal ketika Emha baru memulai kariernya sebagai penulis. Segenggam cerpen itu, yang kini telah terbit dalam antologi tunggal BH (2005), menunjukkan dengan jernih bagaimana Emha berevolusi menjadi penulis yang benar-benar matang dalam mengolah kata-kata. Continue reading “Membaca “Realisme” Emha”

Melirik Buku-buku Berbasis Lendir

Ahmad Fatoni *
Sinarharapan.co.id

USAI keluar dari sebuah tokoh buku, di Malang, seorang teman saya yang baru pulang liburan dari negeri Malaysia, merasa terheran-heran. Teman yang sudah sepuluh tahun di negeri jiran itu berujar, “Toko buku tadi cuma menjual sampah!” Teman saya rupanya merasa jijik melihat maraknya (judul) buku-buku beraroma pornografis berjejer-jejer. Sementara itu, saya hanya mesem-mesem mendengar ‘umpatan’ teman saya tersebut. Continue reading “Melirik Buku-buku Berbasis Lendir”

Terdakwa Itu Adalah Komik

Donny Anggoro *
sinarharapan.co.id

Pembicaraan tentang komik konon selalu dianggap sepele. Begitu sepelenya, komikolog cum komikus Scott McCloud tergerak menulis buku Understanding Comic: The Invisible Art dengan mencoba menggali aspek lain sebagai upaya meluruskan kesalahpahaman. Ya, begitu “sepele”nya komik sehingga “jasa”nya sebagai pintu kita untuk membaca buku teks dilupakan. Padahal nyaris masa kecil tiap anak hampir selalu diawali dengan komik. Anggapan yang sering muncul komik adalah cerita anak yang sangat sederhana, miskin seni, apalagi bahasa. Ia lantas “dituduh” sebagai “racun”. Continue reading “Terdakwa Itu Adalah Komik”

“Perempuan” dalam Lingkaran Pertanyaan

Maroeli Simbolon *
sinarharapan.co.id

Apakah yang dirasakan seorang perempuan tua yang ditinggal pergi oleh ketiga anak kandungnya yang berseberangan dengan kekuasaan? Seberapa berat beban batin yang ditanggungnya seorang diri? Dan masih adakah keadilan di hari esok? Pertanyaan-pertanyaan sejenis inilah yang ingin disampaikan Aisah Bashar dalam pementasan monolog Perempuan di Teater Kecil, TIM, 17 Mei 2005. Continue reading ““Perempuan” dalam Lingkaran Pertanyaan”

Achdiat K Mihardja Dari “Sadar Nar” ke “Sadar Nur”

Damhuri Muhammad *
sinarharapan.co.id

Adalah lumrah bila agamawan bicara tentang Tuhan, karena memang di sanalah “maqam” dan perannya. Tapi, akan mencengangkan bila Achdiat K. Mihardja tampil seperti mubaligh, dan secara terang benderang menyeru agar manusia kembali pada “kesadaran kebertuhanan”. Menyibak tabir “kejahiliahan” modern bahwa rasionalisme, sekularisme, eksistensialisme dan “isme-isme tak bertuhan” lainnya telah menjerat manusia menjadi representator watak setan di muka bumi. Maka, sudah saat manusia “kembali ke pangkal jalan”. Apa istimewanya Aki (demikian panggilan akrabnya) bicara Tuhan? Ia bukan agamawan, kyai, dan pengkhutbah, melainkan novelis angkatan 45 yang dari tangannya lahir maha karya Atheis (1949). Continue reading “Achdiat K Mihardja Dari “Sadar Nar” ke “Sadar Nur””

Bahasa ยป