Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Mabuk, dalam bahasa sufistik, bermakna positif. Peristiwa saat seseorang berada di dalam alam ketaksadaran karena hanyut memasuki wilayah transendensi. Ia terpesona pada sesuatu yang entah. Ia tak lagi memahami alam sekelilingnya. Ia hanya merasakan nikmat yang dahsyat, mencekam, dan menyeretnya pada kisaran ketaksadaran. Itulah mabuk para aulia dan kaum sufi yang hendak membebaskan kerinduannya pada sesuatu yang transenden. Maka, simbol-simbol anggur, cawan, mabuk, rindu, cinta, hanyut, dan entah apa lagi, merupakan sarana ekspresinya untuk mengejawantahkan gejolak kecamuk perasaan yang bercampur-baur itu. Continue reading “MONOLOG MEMABUKKAN: MISTERI MENIKMATKAN”
