Sastra Kampus, Sastra Underground

Saut Situmorang
http://sautsitumorang.blogspot.com/

Dalam perbincangan tentang sastra Indonesia di dalam maupun di luar dunia akademis, terutama di media massa, kita akan selalu mendengar tentang beberapa jenis sastra dalam dunia sastra kita. Ada sastra koran, sastra majalah, sastra cyber(punk), sastra buku, sastra sufi, sastra pesantren, sastra buruh, bahkan akhir-akhir ini sastra Peranakan-Tionghoa, sastra eksil dan sastrawangi. Kalau bukan medium tempat karya sastra dipublikasikan, maka jenis manusia yang memproduksi karya merupakan kategori pembeda pada pemberian nama-nama sastra tersebut, dan nyaris Baca selengkapnya “Sastra Kampus, Sastra Underground”

Pascamodernisme dan Masyarakat Konsumer

Fredric Jameson
http://sautsitumorang.blogspot.com/

Konsep pascamodernisme tidak diterima atau bahkan dimengerti secara luas saat ini. Resistensi terhadapnya bisa jadi disebabkan oleh ketidakpahaman atas karya-karya yang dilahirkannya dalam semua cabang seni: puisi John Ashbery, misalnya, tapi juga puisi cakap (talk poetry) yang jauh lebih sederhana yang muncul sebagai reaksi terhadap puisi modernis yang kompleks, ironis dan akademis di tahun 60an; reaksi terhadap arsitektur modern dan khususnya terhadap bangunan-bangunan monumental kaum International Style, bangunan-bangunan pop dan decorated sheds yang dirayakan Robert Venturi dalam manifestonya, Learning from Las Vegas; Baca selengkapnya “Pascamodernisme dan Masyarakat Konsumer”

Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman

Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

”…Aku akan mati di puncak kejayaanku. Tanpa cinta. Tanpa rindu?,”demikian tutur dramawan Bertolt Brecht, seperti dikutip Ronald Hayman dalam Brecht, A Biography.

Ini sebuah nada depresi. Tetapi Brecht, seperti juga drama-dramanya, adalah simbol dari pemberontakan dalam nada balada. Puluhan opera dan baladanya adalah serangkaian nyanyian pemberontakan yang menampilkan kritik sosial yang tajam. Dan, tampaknya, itulah sebabnya naskah Brecht selalu menarik hati para dramawan Indonesia, seperti halnya N. Riantiarno, yang dikenal selalu menampilkan kritik sosial melalui pertunjukannya. Baca selengkapnya “Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman”

HIKAYAT KERIS GANDRING DAN TERBUNUHNYA TUNGGUL AMETUNG

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=467

Malam suram, tiada hadir secerca bintang pun wajah molek bulan. Ken Angrok dengan tubuh kesatria menunggangi kuda hitam, menembus alam tanpa bayangan. Menderu terjang tiada keraguan, seringkikan binatang. Menakut-nakuti kawanan srigala yang biasa bertengger di bukit kapur tua.

Hanya dedaun buta saksi geraknya. Dan angin dingin senafasan tersengal nafsu Angrok. Lewat sentakan kencang, menghabiskan malam panggang tanpa percakapan di tengah perjalanan. Bathin menggerutu nalarnya mendidih. Menguap sekabut pegunungan merapi yang mengepul seasap tobong terbakar. Baca selengkapnya “HIKAYAT KERIS GANDRING DAN TERBUNUHNYA TUNGGUL AMETUNG”

Menelisik Pledooi: Pelangi Sastra Malang Dalam Cerpen

Judul Buku : Pledooi: Pelangi Satra Malang Dalam Cerpen
Penulis :Muyassaroh El-yassin dkk
Penyunting : Ragil Sukriwul
Tahun Terbit : 2009
Penerbit : Mozaik Books
Tebal : 126 Halaman
Peresensi : Denny Mizhar*
http://www.malang-post.com/

MALANG adalah kota pendidikan. Hal tersebut ditandai dengan banyak berdiri kampus. Sehingga banyak aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan atau kebudayaan seringkali menghiasi kampus. Begitu halnya dengan percaturan sastra di Malang. Baca selengkapnya “Menelisik Pledooi: Pelangi Sastra Malang Dalam Cerpen”

Bukan Kutukan Hujan

M Anshor Sja?roni
http://www.jurnalnasional.com/

Akila melongok langit, mendung tebal menggelantung di atas cakrawala seperti arak-arakan kelelawar memenuhi bentangan langit. Nampaknya malam bakal turun lebih cepat. Gelap memenuhi ruangan kamar Akila. Tidak lama lagi hujan bakal turun.

Akila melihat jam dinding kamar, lima belas menit lagi pukul lima. Akila sedang menunggu seseorang. Seorang lelaki yang bakal menikahinya. Sebentar lagi lelaki itu akan muncul di kelokan jalan raya, menuju rumah Akila. Lelaki itu berjanji bakal datang sore ini. Dia ingin mengenalkan diri pada ibu Akila sekaligus melamar Akila. Baca selengkapnya “Bukan Kutukan Hujan”

Menggunting Dingin Pesisir

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

Setiap menerbangkan layang-layang, aku ingin menjadi layang-layang. Tubuhku bisa mengambang, terbang bebas di udara, lalu memandang ke hamparan laut lepas, dengan pantai-pantai yang terjal. Bisa memandang luas pedusunan dan bukit-bukit kapur. Aku ingin terbang, seperti burung-burung.

Mungkin sejak aku di rahim ibu, aku sudah ditakdirkan untuk memiliki keinginan itu. Ibuku sendiri pernah berkisah, bahwa ketika ia mengandungku ia ngidam makan daging burung dara hutan. Burung dara yang tidak punya rumah dan hidup di hutan-hutan di sebelah desa. Ayahku pun bersusah payah mencarinya, karena untuk mendapatkannya memang tidak mudah. Baca selengkapnya “Menggunting Dingin Pesisir”