CARUT-MARUT SEJARAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan. Ia mengada setelah melewati proses yang rumit yang berkaitan dengan persoalan sosio-budaya, politik, ekonomi, bahkan juga ideology dan agama. Jadi, ketika karya sastra terbit, beredar, dan kemudian dibaca masyarakat, di belakang itu ia sesungguhnya menyimpan sejarahnya sendiri. Ada kontekstualitas antara teks dan berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Maka, ketika kita coba mengungkapkan problem yang melatarbelakanginya itu, tidak terhindarkan, kita terpaksa mencantelkan teks itu dengan konteksnya, dengan persoalan yang berada di luar teks. Continue reading “CARUT-MARUT SEJARAH SASTRA INDONESIA”

Misteri kain kafan yesus

A. Margana
http://majalah.tempointeraktif.com/

KAIN kafan Yesus, yang semula diyakini sejumlah pemeluk Katolik sabagai yang asli, masih mengundang kontroversi. Gereja Katolik sendiri, selasa pekan lalu, mengumumkan bahwa analisa ilmiah menunjukkan kain kafan sekarang disimpan di Katedral Turin, Italia itu bukan dari abad pertama. Dalam suatu konperensi pers, Uskup Agung Turin, Kardinal Anastasio Ballestrero, yang selama ini membawahkan tempat penyimpanan barang suci itu, menyebutkan: hasil tes radiokarbon yang dilakukan tiga lembaga peneliti independen, di tempat yang terpisah, menunjukkan asal kain kafan dimaksud dari tahun 1260-1390. Lalu Kardinal Ballestrero menganjurkan agar umat Katolik tetap melanjutkan penghormatan mereka. Continue reading “Misteri kain kafan yesus”

Sepatu

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

2x 2 = 4. Hitungan itu jelas. Tapi di tengah-tengah demonstrasi mahasiswa di tahun 1965-1966, penyair Taufiq Ismail menulis, “2 x 2 mudah-mudalan sama dengan 4.” Hampir seperempat abad berlalu sesudah itu. Kita mulai lupa bahwa sebuah arimatik sederhana bisa menjadi tidak sederhana. Kebenaran yang bersahaja pernah bisa menjadi meragukan, tapi kita tak bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Continue reading “Sepatu”

Penguasa, Buku dan Peradaban

Aguk Irawan M.N. *
jawapos.co.id

IBNU AL-NADIM dalam kitabnya Al-Fihrist mengisahkan, suatu malam khalifah Al-Ma’mun (813-833) bermimpi melihat sosok berkulit putih kemerah-merahan, keningnya lebar, matanya biru, sikapnya gagah, sedang duduk di atas singgasana. Orang itu tidak lain adalah Aristoteles. Percakapan yang berlangsung di antara mereka –dalam mimpi itu– memberi inspirasi kepada Al-Ma’mun untuk menyosialisasikan literatur Yunani di lingkungan akademinya. Setelah mengadakan hubungan melalui surat-menyurat dengan penguasa Byzantium, Al-Ma’mun mengutus sebuah tim kerja ke Yunani, dan tak lama berselang utusan itu kembali dengan membawa sejumlah buku untuk diterjemahkan. Continue reading “Penguasa, Buku dan Peradaban”

Politik Kanonisasi Sastra dalam Sastra Indonesia

Saut Situmorang

Dalam sebuah tulisan di Media Indonesia Minggu beberapa waktu yang lalu yang, konon, dimaksudkannya sebagai “tanggapan” atas esei saya tentang relasi antara karya sastra dan politik ekstra-literer sastra, seorang Hudan Hidayat membuat sebuah klaim bahwa sebenarnya tidak ada hubungan pengaruh-mempengaruhi antara “keberhasilan” sebuah karya sastra dengan faktor-faktor ekstra-literer di luar teks karya dimaksud. Continue reading “Politik Kanonisasi Sastra dalam Sastra Indonesia”

Bahasa »