RATUSAN MATA DI MANA-MANA *

Martin Aleida

Dengan menjinjing nasib yang malang saya mengetuk pintu TEMPO. Melalui pintu kayu yang tinggi kokoh dari sebuah bangunan berbentuk rumah-toko peninggalan zaman Belanda di Jalan Senen Raya 83, saya masuk ke dalam. Berkelok ke kiri dan berjingkat menaiki tangga batu ke atas, saya kemudian berdiri di tengah gang sempit. Melangkah masuk, lantas saya disambut sebuah ruangan yang cukup besar dengan dua jendela kayu terbuka mengundang masuk angin dari arah matahari terbenam. Continue reading “RATUSAN MATA DI MANA-MANA *”

TANDA ATAU KATA? (Studi Tentang Puisi)

Nu?man ?Zeuz? Anggara*
http://terpelanting.wordpress.com/

Membaca puisi adalah memahami bukan membahasakannya. Memahami berarti meleburkan makna menjadi luluh mencair ke dalam lapisan yang lebih dalam dari ego seorang pembaca, menegaskan imaji-imaji menjadi substansi dengan aspek privat. Narasi yang mengabsorbsi dan penolakan ditiadakan, konsekwensi arus kesadaran yang bekerja saat logika dan pheneumenon bertukar tempat, arus resiprokal penafsiran dengan aspek imanen teks tetap terjaga keberdiriannya. Continue reading “TANDA ATAU KATA? (Studi Tentang Puisi)”

Merentang Riwayat Reggae

Hudel*
http://terpelanting.wordpress.com/

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan. Continue reading “Merentang Riwayat Reggae”

Bahasa »