Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar

Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra

R. Sugiarti
http://www.sinarharapan.co.id/

Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH, 9 Maret 2002). Bulan ini, perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. Continue reading “Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar”

Pendekatan Partisipatif dalam Konservasi Warisan Budaya

I Wayan Artika
http://www.sinarharapan.co.id/

Proyek-proyek konservasi warisan budaya yang diprakarsai oleh masyarakat internasional kerap bertentangan dengan masyarakat lokal (masyarakat adat, misalnya).
Pertentangan itu disebabkan oleh perbedaan-perbedaan di antara kedua masyarakat tersebut. Perbedaan-perbedaan itu ditemukan dalam beberapa hal, yaitu visi, pandangan fungsional, perlakuan dan bentuk perlakuan, perilaku pengembangan, semangat dan dasar perlakuan, dan praktik, sehubungan dengan atau terhadap warisan budaya (Wyasa Putra, 2002: 7). Continue reading “Pendekatan Partisipatif dalam Konservasi Warisan Budaya”

Mencatat Satu Sisi dari Sanjak

“Narasi Di Setapak Pintu” Cecil Mariani

JJ. Kusni
sinarharapan.co.id

Puisi memang bersegi banyak. Kalau kita mencermatinya, maka orang sering memilah segi-segi ini dalam kategori besar: bentuk dan isi, sedangkan bentuk dan isi ini saja mempunyai rincian yang tidak sedikit. Isi bisa dilihat dari segi sosiologis, filsafat, psikologis, sejarah, latarbelakang budaya, politik, dan lain-lain… sedangkan bentuk mencakup unsur-unsur antara lain pilihan kata, irama, perbandingan, pembagian larik, kontras dan sebagainya. Continue reading “Mencatat Satu Sisi dari Sanjak”

Sastra Selingkuh Itu Enak Dibaca dan Perlu!

Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id

Selingkuh. Ah, ini kata yang negatif, kata moralis. Atau, ini kata negatif, kata seorang munafik (namun diam-diam dia melakukan aktivitas selingkuh juga). Sedangkan yang berpikir bebas akan mengatakan selingkuh tak selalu negatif, dan tak selalu positif, tapi juga tak selalu netral. Argumentasinya, selingkuh itu mirip pisau. Jika pisau tajam itu dipegang seorang tukang jagal di rumah jagal, maka kita akan berharap dapat keratan tepat atas daging sapi yang dipotongnya. Continue reading “Sastra Selingkuh Itu Enak Dibaca dan Perlu!”

Bahasa ยป