Aceh, Kurusetra, Bharatayudha

Imam Cahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Pernah menonton wayang, menonton film Mahabharata? Atau, menyimak kisahnya di buku, komik, atau dari cerita mulut ke mulut? Kendati cerita Mahabharata sudah sangat lama hidup dalam tradisi masyarakat kita, ia selalu saja menarik untuk dinikmati, alias tidak membosankan. Bisa jadi, ia telah menjadi salah satu bagian dalam khazanah budaya kita. Bukan tidak mungkin, kisah Mahabharata adalah kisah abadi yang akan selalu menjadi inspirasi bagi umat manusia. Yang pasti, ia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman kepada kita semua?jika kita mau sejenak merenungkannya. Continue reading “Aceh, Kurusetra, Bharatayudha”

?Quo Vadis? Arsitektur Indonesia

Yustinus Ade Stirman
http://www.sinarharapan.co.id/

Setiap tanggal 5 Juni, kita memperingatinya sebagai Hari Lingkungan Dunia. Menyambut hari lingkungan ini, ada baiknya kita melihat kembali perjalanan arsitektur dan kota Indonesia yang saat ini kondisinya lagi linglung, tidak lagi mencerminkan kepribadian bangsa.
Arsitektur dan kota, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan yang melambangkan atau mencerminkan masyarakat penghuninya. Bahkan arsitektur dan kota menggambarkan citra suatu kota atau bangsa. Kota Roma, misalnya, sangat terkenal dengan arsitek bangunannya yang kokoh, megah yang umurnya sudah berabad-abad, merupakan warisan sejarah kejayaan bangsa Romawi. Continue reading “?Quo Vadis? Arsitektur Indonesia”

Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul

Alex R. Nainggolan
http://www.sinarharapan.co.id/

Penerbitan ulang kumpulan puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru oleh Indonesiatera, barangkali sedikit unik. Di tengah riuh reformasi, di mana keran kebebasan ekspresi seni yang terbuka lebar, puisi-puisi Thukul, yang acapkali bernada protes itu, mungkin terkesan biasa, bahkan tak ada artinya sama sekali. Kita pun sama-sama tahu, jauh sebelum Thukul menulis sejumlah puisi yang bernada kecaman, W.S. Rendra, di paruh dekade 70-an sudah menuliskan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, atau Emha Ainun Nadjib dengan Sesobek Catatan Buat Indonesia. Kegeraman para penyair itu, merupakan saksi abadi, yang membungkus segala ketimpangan sekaligus protes terhadap kondisi sosial-ekonomi di tengah masyarakat. Continue reading “Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul”

“Payudara”: Kegilaan sebagai Penyembuhan

Mariana Amiruddin
sinarharapan.co.id

Sebelum membuat tulisan ini, saya sengaja bertemu langsung dengan pengarangnya, Chavchay Syaifullah. Dari namanya saya sudah menemukan kejanggalan. Dia yang pernah mengirim puisi di Jurnal Perempuan berjudul “Tubuh Perempuan”. Dalam puisinya saya menemukan keanggunan yang lain, yang biasanya saya temukan pada diri perempuan. Dia bicara tubuh perempuan bukan dalam bentuk materi seperti umumnya lelaki. Dia meletakkan tubuh perempuan yang multi, memberi kehidupan dengan segenap siksaan. Continue reading ““Payudara”: Kegilaan sebagai Penyembuhan”

Bahasa ยป