Claude Debussy (1962-1918)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=494

Pada buku “Les Fran?ais et I?Indon?sie du XVIe au Xxe si?cle” yang disusun Bernard Dorl?ans menyebutkan, di dalam catatannya Debussy menuliskan: ?Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, anda harus mengakui ialah musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.?

Dan menurut profesor lajang sampai akhir hayatnya, Gertrudes Johan Resink (1911-1997), berkabar bahwa komponis Prancis, Claude Debussy memperkenalkan nada musik Jawa ke dalam komposisi musiknya. Ini tampak terdengar jelas atas karyanya yang bertitel “La cath?drale engloutie.” Di mana nada-nada gemelan menyusup ke rulung jiwa, sedari pantulan pekerti jiwa Jawa seraya. Continue reading “Claude Debussy (1962-1918)”

Arief Zulkornen, Tukang Jahit Kitab dari Kampung Mercon

Tetap Bertahan Melestarikan Tradisi Penjilidan Manual
Fahrudin Nasrulloh

Di tengah industri penjilidan ala modern, sosok Arief Zulkornen merupakan keajaiban kecil di tengah gemuruh industri di Jombang yang umumnya berorientasi pada keuntungan besar. ?Saya hanya melakoni wasiat abah saya untuk terus melanjutkan usaha penjilidan ini,? demikian tuturnya, pada Senin sore, 25 Agustus 2008. Continue reading “Arief Zulkornen, Tukang Jahit Kitab dari Kampung Mercon”

In Memoriam “Gitu Aja Kok Repot…”

Agus Fathuddin Yusuf, Ainur Rohim
suaramerdeka.com

BAGI Gus Dur urusan di dunia ini seolah-olah tidak ada masalah berat. Semuanya dianggap enteng dan simpel meski buat orang lain dirasa kiamat.

Kalimat “gitu aja kok repot” yang sering kali dilontarkannya menegaskan hal itu. Begitu populernya “gitu aja kok repot” menjadi trade mark seorang Abdurrahman Wahid. Lihatlah bagaimana Gus Pur (dr Handoyo) dalam Republik Mimpi menirukan kalimat itu sambil sekali-sekali tangan kanannya menepuk-nepuk sesuatu. Continue reading “In Memoriam “Gitu Aja Kok Repot…””

Aku, Iqbal dan Konsepsi-Konsepsi Soal Tuhan?

Pergulatan Panjang Menuju Tuhan

Salman Rusydie Anwar

Bagi sebagian masyarakat yang sudah merasa bahwa pemahaman merekaselama ini tentang konsep “Tuhan” sudah mapan, barangkali judul tulisan di atas terkesan sangat dan terlalu janggal. Bagaimana mungkin mereposisi (memposisikan kembali) keberadaan Tuhan jika selama ini sudah jelas bahwa Tuhan adalah Dzat yang harus diyakini keberadaannya serta sekaligus harus disembah oleh mereka yang meyakininya. Continue reading “Aku, Iqbal dan Konsepsi-Konsepsi Soal Tuhan?”

Seribu Matahari Dibungkam Hujan

M.D. Atmaja

Hari Sabtu, sebuah matahari memancar ramah di pagi hening, menerangi angin bertiup. Bola yang memancar di langit, menatap tanpa tirai pada lembaran-lembaran kain, biru dan hijau yang menjalar di jalan-jalan kota. Sinar berpendar di angkasa rasa seolah ingin menutup mata. Tak ingin memandang kota yang dipenuhi biru-hijau menjalar dalam kesombongan. Ia tidak ingin melihat sedangkan Rajanya menciptakan diri untuk melihat dunia saat siang agar manusia bisa saling memandang dalam gerak dan kerja. Continue reading “Seribu Matahari Dibungkam Hujan”

Bahasa ยป