Maiyah Merajut Mozaik (em3)

Sabrank Suparno

Miayah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama mahkluk, alam semesta dan dirinya sendiri. Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan berbagai jalan ijtihat ilmu, berbagai cara budaya, berbagai alat tehnologi sosial, berbagai perangkat jasat dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (Emha Ainun Nadjib, Kadipuro 25 Des 2009, draf no 5-6 kesaksian syahadat wa-lhamdulillah). Continue reading “Maiyah Merajut Mozaik (em3)”

‘The Mute’s Soliloquy’: Kebisuan Pramoedya Menggapai Dunia

Leila S. Chudori, Dewi Rina Cahyani
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pramoedya menggetarkan dunia melalui kata-kata. Meski ia terkurung di sebuah pulau terpencil, dari tangannya dan dari nuraninya telah mengalir kata-kata yang memiliki kekuatan yang menukik ke dalam kalbu. Ia menulis dengan bahasa yang sederhana, tanpa pretensi, tanpa pembaruan dalam khazanah kesusatraan Indonesia, tetapi ia menggunakan riset dan data sejarah yang luar biasa mengagumkan. Kekayaannya lebih terletak pada ide dan bukan pada simbol atau imaji. Dia menjadi legenda karena produktivitasnya dan juga karena kehidupannya selama 14 tahun di Pulau Buru. Continue reading “‘The Mute’s Soliloquy’: Kebisuan Pramoedya Menggapai Dunia”

Tinggalkan Bumi Manusia

Gunawan Budi Susanto
suaramerdeka.com, 01 Mei 2006

INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun. Pramoedya Ananta Toer tak pernah menyerah di bawah kepongahan dan kebebalan (kekuasaan) manusia. Namun kini, mau tak mau, dia harus menyerah di bawah kuasa ilahi.

Ya, Minggu (30/4) kemarin pukul 08.30, dia mengembuskan napas terakhir dalam rengkuhan keluarga tercinta. Kini Pram telah pergi, meninggalkan bumi manusia. Continue reading “Tinggalkan Bumi Manusia”

Dan Intuisi Membisikkan Peluang sang Legendaris

Selamat Jalan Pramoedya Ananta Toer…

IBM Dharma Palguna
balipost.co.id

SAYA seorang mahasiswa yang sedang nenulis sebuah skripsi untuk menamatkan kuliah di Fakultas Sastra. Pramoedya Ananta Toer adalah nama yang langsung saya pilih tanpa keraguan sedikit pun. Setelah itu barulah memilih salah satu karyanya untuk dianalisis. Pilihan jatuh pada roman Perburuan. Ketika itu tahun 1984. Continue reading “Dan Intuisi Membisikkan Peluang sang Legendaris”

Kepergian Pramoedya dan Gempuran Budaya Pop

[Pramoedya Ananta Toer, 1925-2006]

Yudhis M. Burhanudin *
balipost.co.id

Pramoedya Ananta Toer telah pergi untuk selamanya pada Minggu (30/4) lalu akibat serangan jantung. Dia seorang sastrawan yang cukup produktif dan sempat hidup di empat era berbeda — masa-masa prakemerdekaan, era Orde Lama, era Orde Baru, dan era Reformasi. Tentang Pram, demikian panggilan akrab sastrawan senior ini, sudah ada beberapa catatan khusus mengenai dirinya, dari biografi singkat sampai catatan khusus tentang karya-karyanya. Continue reading “Kepergian Pramoedya dan Gempuran Budaya Pop”

Bahasa ยป