Bicara Puisi pada Seorang Bayi

Zawawi Se

Waktu terasa beringsut seperti siput. Duduk gelisah berganti-ganti posisi di kursi paling pinggir dalam deret ke empat sebelah kanan dibelakang Sopir Bus Patas Trigaya Putra jurusan Surabaya – Semarang diantara orang-orang yang terlelap mereguk mimpi-mimpi indah mereka sambil bersandar dikursi yang memberi kenyamanan perjalanan dengan tersedianya ruang longgar untuk bebas menggerakkan kaki kedepan selonjor atau kebelakang menekuk lutut memasukkan kaki dibawah kursi. Bus melaju seolah-olah tidak memahami betapa rinduku telah membuncah kepadanya. Continue reading “Bicara Puisi pada Seorang Bayi”

Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual

Abdul Aziz Rasjid
http://cetak.kompas.com/7 April 2009

Manggar, bukanlah tokoh epik sekaligus tragik. Dipandang dari berbagai segi manapun, ia tak memenuhi syarat untuk itu: lelaki rupawan, cerdas, bangsawan namun bersifat pemberontak, penuh cita-cita kebebasan dan di sisi yang lain romantis, pemberani, juga diliputi pertanyaan dan kekecewaan pada kehidupan.

Manggar —bapak dari gadis kecil yang belum lagi bersekolah— hanyalah pedagang angkringan asal kota Klaten, Jawa Tengah. Dari pukul lima sore sampai dua pagi, ia memperjuangkan keberlangsungan hidup keluarganya dengan menjual makanan dan minuman tradisional di pinggiran kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) —Karesidenan Banyumas. Continue reading “Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual”

David Hill Mengamati Mochtar Lubis

Atmakusumah
kompas.com, 8 Mar 2010

Tidak pernah terbayangkan oleh David T Hill, pengamat masalah Asia dari Australia, bahwa ia akan memerlukan waktu tiga dasawarsa untuk menyelesaikan dan menerbitkan biografi wartawan, sastrawan, dan budayawan Mochtar Lubis, yang memasuki ulang tahun ke-88 pada 7 Maret tahun ini. Buku ini, yang diterbitkan oleh penerbit Routledge di London dan New York menjelang ulang tahun ke-11 windu itu, bukanlah biografi pesanan almarhum dan tidak pula mendapat dukungannya. Continue reading “David Hill Mengamati Mochtar Lubis”

Bahasa »