Jakarta

Fathurrahman Karyadi

Angin sepoi-sepoi menyibak rambutku tanpa izin. Menyapu muka hingga kelopak mata. Menyegarkan, kawan. Telingaku bising. Bunyian kereta terdengar amat nyaring. Apalagi kini aku tengah di atasnya. Di luar jendela sana pemandangan asri terus berganti. Sayang aku tidak bisa menikmati dengan jelas karena kereta terus berjalan. Continue reading “Jakarta”

Barka

Siti Sa’adah

Jika hatimu pernah dipalu godam oleh seseorang, dengan beringas dan dia sama sekali tidak peduli kondisimu saat itu apakah kamu tidak akan merintih perih? Kemudian dengan susah payah kau lap air mata yang tak berkesudahan dan akhirnya lelah. Lelah merasa merana. Lantas hanya tekad yang mencuat: tidak akan ada lagi tentang lelaki itu dihidupmu.
*** Continue reading “Barka”

Jiwa-jiwa Merpati yang Lara

Endah Wahyuningsih

Aku adalah Rosita Angraini,kekasih Roi Pramudya. Sesosok pemuda tampan yang begitu dikagumi oleh kaum wanita namun mempunyai sifat angkuh dan tak pernah mau peduli dengan perasaan orang lain.Sedangkan Saskila adalah kekasih Roi yang dahulu dan kini telah meninggal karena sebuah penantian pahit yang tak bisa ia lalui seorang diri. Tanpa Roi Pramudya. Saskila begitu mengaguminya namun baginya sudah tak ada harapan, karena sifat Roi yang begitu egois, acuh dan tak pernah mau mengerti tentang perasaan orang lain. Continue reading “Jiwa-jiwa Merpati yang Lara”

Antara Banaspati dan Mbah Jarmi

Vyan Taswirul Afkar

Langit belum terlalu gelap, Matahari masih menampakkan ujung kepalanya di cakrawala. Mega merah berjajar di ufuk barat kampungku. Burung-burung kelelahan belum sampai sarangnya. Bahkan, kelelawar hanya belasan yang sudah berterbangan di langit pasca senja. Tetapi di RT-ku ramai sekali. Bukan karena ada konser dangdut kawinan anak Pak Lurah seperti kemarin, melainkan salah satu rumah terbakar. Rumah itu adalah rumah Mbah Jarmi. Continue reading “Antara Banaspati dan Mbah Jarmi”

Ketika Obor Menyala

Liestyo Ambarwati Khohar

Cemloteh ringan tawa anak-anak mengiringi tarian Api diatas obor-obor yang baru saja dinyalakan. Sementara di sudut dan lekuk tiap kampung, gema tabkir terus saja menggema membentuk ritme merasuki jiwa siapa saja pendengarnya.

Lebaran selalu seja melahirkan suasana melankolis dan romantis terhadap Tuhan ataupun kita sesama manusia seperti tahun-tahun sebelumnya aku melewati lebaran di rumah induk. Rumah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Serta ditumbuh dewasakan. Continue reading “Ketika Obor Menyala”

Bahasa »