Kosmos Perteateran Lokal (Ala) Jombang

Wong Wing King
Radar Mojokerto-Jombang 16 Jan 2011

Akhir dan awal tahun gedung PSBR benar-benar sibuk. Aktivitas yang luar biasa terjadi disana, sesuatu yang biasanya tampak mewah, eskuisif di sajikan murah meriah. Pun oleh panitia dengan memasang spanduk beserta sang empunya kota tertulis besar “tontonan rakyat”. Panitia tak menyadari, pemilihan kata rakyat, jelas berbanding terbalik dan lurus dengan nama pemerintah, berbeda kalau tontonan “masyarakat”. Beserta itu suport dan fasilitas yang diberikan oleh Dinas Kebudayaan Jombang (DEKAJO) adalah wujud aprisiasi pada seni budaya lokal, sebagai identitas kota? Continue reading “Kosmos Perteateran Lokal (Ala) Jombang”

Monolog Interior Cerpen-cerpen Sandi Firly

Puji Santosa

Monolog Interior dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ekacakap dalaman, yakni percakapan panjang yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam sebuah karya sastra, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun kepada pembacanya. Biasanya dalam gaya monolog interior ini tokoh aku suka membayangkan peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya, yang sedang dialami, dan yang akan dialaminya. Continue reading “Monolog Interior Cerpen-cerpen Sandi Firly”

Gibran, Selembar Surat untuk May Ziadah (1926)

Abdul Aziz Rasjid

Setiap pagi juga senjahari, Gibran –mungkin mengenakan baju berwarna hitam atau putih– melamun seorang diri, membayangkan dirinya seolah berada dalam sebuah rumah di Kairo bersama May Ziadah, gadis yang dicintainya. Dalam sebuah surat yang ia tulis di tahun 1928 pada May Ziadah, Gibran membayangkan bahwa dalam waktu-waktu itulah, ia memimpikan sebuah momen: May duduk di depannya membacakan artikel –entah yang Gibran tulis, maupun May yang menulis– padanya. Dan setelah itu, mungkin mereka akan berdebat, beradu pendapat lalu tertawa bersama. Continue reading “Gibran, Selembar Surat untuk May Ziadah (1926)”

Cendera Mata

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Sewaktu menyiarkan berita tentang “Opak” atau kerupuk singkong yang sering dibawa oleh wisatawan asal Malaysia, seorang penyiar stasiun TV yang terdepan mengabarkan menyebut ungkapan “oleh tangan”.

Mungkin dia salah baca atau terlalu cepat membaca teks yang seharusnnya berbunyi “oleh-oleh” atau “buah tangan” menjadi “oleh tangan” saja. Kecuali saya salah dengar. Continue reading “Cendera Mata”

Rindu Ibu pada Bumi

Ida Ahdiah
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal musim gugur itu Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warnanya, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengkerut kedinginan. Bumi telah kehabisan kehangatannya. Sebentar lagi pohon-pohon itu kesepian, ditinggalkan daun-daun. Angin yang menderu-deru bersekutu dengan angkasa yang buram, tak bercahaya.
Kulihat dua titik air bening di kedua sudut mata Ibu. “Apakah Ibu tidak bahagia?” Tanyaku. Continue reading “Rindu Ibu pada Bumi”

Bahasa »