Alexander Porfiryevich Borodin (1833 – 1887)


Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/06/alexander-porfiryevich-borodin-1833-1887/

Alexander Borodin, lahir 12 November 1833 di Saint Petersburg. Anak tidak sah dari seorang bangsawan Georgia, Luka Gedevanishvili, sedang ibunya asal Rusia, Evdokia Konstantinovna Antonova.

Sejak kecil mendapat pendidikan terbaik, termasuk pelajaran piano. Menerima gelar doktor dalam kedokteran di Akademi Medico, lantas mengejar karir di bidang kimia.

Mengambil pelajaran komposisi dari Mily Balakirev 1862, menikahi pianis Ekaterina Protopopova. Borodin, anggota komponis yang dikenal “The Five,” yang berdedikasi menghasilkan jenis musik spesifik Rusia. Meninggal dunia tiba-tiba pada 27 Februari 1887, dalam umur 53 tahun. (perasan wikipedia)
***

Alunan musiknya mampu menembus batas nyenyak ke alam tidur sampai merasuki kandungan mimpi. Kala dirinya ketengahkan dataran “di padang pasir Asia Tengah.”

Menyatukan lelembaran kitab lama, yang tercecer di jalanan kembara. Difahami kegersangan pencarian, memanasi puncak penyatuan, kejayaan suara membuka kalbu pendengar;

sayatan-sayatan pilu, kesunyian membentang, haus tidak terkira, kangen tiada ujung, perasaan-perasaan membahana, menyusupi sumsum kehadiran pembaca.

Rupanya diruapi arwah leluhur, sedari potongan tulang sehabis perang. Atau di atas keganasan musim merangsek kulit-kulit terkelupas, belulang menjelma debu. Semua itu dibangkitkan dengan teriakan lama, kumandang sayu tak henti membetot akar-akaran rasa sedari pepucuk rahasia.

Berbeda dari kawannya, komponis Moussorgsky yang ugal-ugalan, edan-edanan, kekacauan, tepatnya revolusioner bercorak Rusianis murni. Borodin lebih serupa konseptor perang membawa pernik pemikiran; renungan gerilya mengangkut musiknya berstrategi. Taktik debu diterbangkan bayu, lewat keleluasaan nafas menggugah kerinduan, melalui bebisikan lembut, nafasan petualang pencari jejak.

Kala suara naik, tandas mencapai kemenangan, tapak-tapak kuda perburuan rindu disusupi alam Mongolia sejati. Membangkitkan dunia di bawah sadar penyimaknya;

menggerak-gerakkan bebulu lewat meniupi kulit perasaan, dengan sangat hati-hati menggiring jaman lampau, kenangan silam peroleh makna tertera di lintasan awan menaungi para peneliti.

Lalu diangkat tangan tinggi-tinggi. Lewat hunusan pisau panjang, kilatan pedang memantulkan cahaya langit seturun hujan. Kemurahan untuk kesungguhan, dan kesentausaan bagi peneguh niat ke padang-padang kemungkinan, dataran diimpikan.

Langit Asia cemerlang hadirkan paras dewi kesuburan, biru membentang, hijau menerawang, putih sebening kejujuran telanjang.

Nuanse halus panorama lembut, hitungan waktu melena tetap bersimpan curiga, kewaspadaan diasah, diperami minyak nilai lama. Sepurba fikiran tegas pada hukum-hukum alam yang pada gilirannya, kehakikian keyakinan menancapi sanubari insan.

Menentramkan iman yang memahami kausalitas rahmatan, sehidupnya tetumbuhan, hewan-gemewan sudah terpatri. Dan manusia menjelajahi datarannya meneliti soal-soal, bagi khasana para generasi setelahnya.

Itulah kitab Borodin, kala persembahkan kidung Mongolia. Derap kuda para tentara berbaris, tenda-tenda peristirahatan masih di lingkup perhelatan juang. Pertemuan para pemimpin pasukan di meja peta tertera kekuasaan. Keleluasaan pandang lebih pertimbangkan nafas di tengah dataran tandus, sebelum memutuskan takdir masa depan.

Kumandang “In the Steppes of Central Asia,” membuktikan panca indranya lebih peka lelanggam Asia; bebisikan daun, tekukan batang menjulang, wewarna sang surya, tarikan nafas semesta dipijarkan gegaris cakrawala, tercapai sekehendak kalbu memberi isyarat, yang membentangi angkasa.

Rerongga menghembusi batasan imaji, membuktikan pantas diterbitkan, keyakinan besar, kelanggengan menyusupi bebilik kalbu. Insan tinggal mensyukuri, menimba hari-hari penuh berkah, atas pancaran perencanaan menuntaskan maksud pencerah.

Demikian alam Asia persembahkan fitrohnya, diberikan bagi sungguh menyimaknya. Mengudar bebenang panjang fikiran, tidak lupa dibaluti mata air kehidupan; air mata pengalaman, kegundahan sedih, isak tangis menghisap seluruh perhatian.

Musik seperti karya lukisan, puisi, tarian; berasal kehendak terdalam yang berpunjer keseimbangan. Alam memberi decak gelombang, insan mengikuti gayuhannya, alam menampilkan selendang senja dan fajar, para makhluk rukuk sembahyang ke hadiran Pencipta.

Profesor ilmu kimia organik di sekolah tinggi, pemimpin laboratorium kimia di Petrogad itu, memampangkan lelukisan alam, sampai diriku terbitkan faham;

Musik; pengetahuan mulia, meski keilmuan lain saling melengkapi, nyata musik terkandung di segenap tubuh; lukisan, puisi, patung, serta panggung sandiwara, terdapat jiwa musik.

Mengamati musiknya, diberkahi kesaksian tiada henti, kemilau rerayuan jiwa untuk dijiwai. Debur sukma berharap ditelusuri ke relung hakiki; hakikat hidup, keindahan pesona agung nilai-nilai.

Seperti filsafat hadir atas jarak kekacauan sosial, memasuki gua kesunyian dulu, sebelum dikembalikan ke halayak. Keteduhan fikir, ketampanan pilihan, keayuan pengaturan di hadapan cermin mandiri, dibagi-bagikan kepada para pemikir.

Ini lewat pelbagai guncangan pengakuan-penolakan, cibiran hasutan, tetapi semua berpulang keteduhan, kedamaian kalbu sebayi baru dilahirkan. Atau pada keinsafan terdalam, manusia merindu gayuhan bersama, senyuman tulus hadirkan kesahajaan.

Serupa pertimbangan awal, tiada keinginan terkecil memporak-porandakan tatanan, namun bertiupan halus, akan semua mengikuti. Tiada ubahnya tujuan membawa kesadaran, jenjang ditentukan melalui penalaran matang, mengutamakan jalinan.

Alam menurunkan pengajaran setiap pemukim, pengelana bersama watak-watak dimainkannya. Di sini realitas kegaiban, kuasa Tuhan sedekat musik di dalam diri.

11/4/2011