Akulah Melayu yang Berlari (Percakapan-percakapan yang Tak Selesai tentang Ideologi dan Identitas Kultural)

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 13 Nov 2011

HARI INI, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak (kembali) ditegakkan itu.

Tiga poin; Riau, catatan sejarah, dan peradaban Melayu, adalah faksi-faksi yang saling terpaut, yang kemudian, mau tak mau, merujuk pada soal etnisitas. Bicara soal etnis, adakah sebuah ingatan kolektif kita berkelindan di sana, tentang berbagai konflik horizontal yang ditimbulkannya? Bahwa Tuhfat Al-Nafis jauh-jauh hari bertutur tentang sengkarut kekuasaan Melayu dan Bugis. Bahwa juga di belahan lain, dunia peradaban Eropa, pun jauh-jauh hari membentangkan mimpi buruk orang kulit hitam, menandaskan sentimen biologis. Yang meskipun, dalam konsep negara-bangsa (nation-state), etnis memberi wacana interaksi sosial yang cenderung dikotomis, yang kemudian kerap mengantarkan pada berbagai kondisi chaos, prilaku kekerasan, rasisme, dan sebagainya (Ubed, 2002). Benarkah, akan ke sana perahu kita hendak menghala?

Andai jawabannya, “ya”, maka otomatis pilihan sikap budaya pun harus ekstrim dan radikal. Misalnya, menolak total sistem kapitalisme global, keluar dari pola-pola kehidupan global culture (yang ujung-ujungnya tampak demikian berhasrat menciptakan homogenisasi budaya. Lalu, pertanyaan berikutnya, mungkinkah itu? Sanggupkah kita menangkis berbagai problem konflik sosio-kultural yang pasti muncul setelahnya? Dan pertanyaan substansial yang paling penting kemudian adalah, mampukah merubah paradigma masyarakat tentang nilai dan makna yang selama ini menuntun cara dan tujuan hidup mereka yang kapitalistik itu untuk masuk (kembali) ke dalam rumah kultural dengan identitas lokal?

Jika jawabannya, “tidak,” maka di sinilah saya kira, punca dari persoalannya. Bahwa ternyata kita kerap gamang ketika berhadapan dengan “perubahan”. Padahal perubahan itu adalah bagian penting dari dinamika naik-turunnya nafas kebudayaan, bagian dari (meminjam bahasa Victor Turner, 1966) “the ritual process” yang terjadi dalam kehidupan manusia itu sendiri. Sebuah ritual, yang tanpa kita sadari, fase demi fase, telah mengantar kita pada apa yang disebut sebagai liminality. Sebuah posisi in between, berada di ambang, tidak tradisi tidak juga modern, tidak lokal tidak juga global, serba paradoks. Anehnya, posisi liminal yang mestinya bersifat sementara ini, dan dengan waktu yang relatif singkat, justru membuat kita enjoy di dalamnya, enggan beranjak, dan bahkan kemudian jangan-jangan kita menemukan “identitas baru”, yang dalam konteks historis misalnya sempat juga kita mendengar sebutan “kacukan.”
Ihwal istilah “kacukan”, menjadi kian menarik bagi saya setelah membaca disertasi Timothy P Barnard yang diterbitkan dalam versi Indonesia oleh jurnal Kajian (P2KK Universitas Riau, September 2006).

Menarik karena, melalui kajiannya terhadap arsip-arsip VOC dan teks-teks Melayu tradisional (di antaranya Hikayat Siak dan Hikayat Hang Tuah), Timothy menunjukkan bahwa bagaimana metode-metode yang dipakai oleh para pemimpin kerajaan Siak pada masa akhir abad ke-17 dan abad ke-18 dapat menyatukan komunitas-komunitas multi-etnik, yang kemudian berujung pada puncak kemakmuran. Menarik bagi saya karena, terlebih soal sifat ‘kacuk’ (yang berarti campuran atau tidak murni) pada masyarakat Sumatera Timur di masa itu justru membawa mereka semua mengidentifikasikan diri mereka sebagai “Melayu.”

Ini artinya, secara lebih luas, kata “Melayu” harus dimaknai sebagai sebuah rumah yang terbuka. Terbuka, tidak berarti ia tidak berdaun pintu, yang sewaktu-waktu ia bisa ditutup saat dingin angin dari luar begitu menggigit, dan kembali dibuka saat matahari pagi merayap masuk.

Dan jika ada pertanyaan, apa yang sebenarnya menyebabkan kita (Riau) tiba-tiba menganggap penting untuk mempersoalkan (kembali) ihwal identitas, padahal sejak lama peradaban Melayu adalah sebuah rumah yang terbuka? Maka jawaban yang paling rasional adalah bahwa inilah reaksi logis Riau setelah puluhan tahun berada dalam derita diskriminasi, baik sosial, politik, ekonomi maupun kultural. Sehingga, ‘krisis identitas’ (kalau boleh saya menyebutnya begitu) yang kita alami hari ini, membuat kita kemudian berpikir bahwa perlu ada sebuah ‘gerakan kebudayaan’ yang meneguhkan kembali simbol-simbol yang khas dengan struktur nilai-nilai yang mencerminkan ekspresi puak, sebagai sebuah cara untuk berhadapan dengan ‘dunia luar.” Sebab melalui identitas-lah, kata Jonathan Rutherford (1990), mata rantai hubungan nilai-nilai sosial budaya masa lalu dan masa sekarang dapat dihubung-kaitkan.

Gerakan kebudayaan itu harus dilandasi oleh sebuah ideologi yang memiliki cara pandang bahwa ‘etnisitas itu bukan hasil dari proses isolasi, tapi dari proses hubungan,” (Dwyer, 1996). Proses hubungan atau interaksi sosial itu tentu tak dapat secara secepat-kilat menjelmakannya dalam kegiatan-kegiatan yang instant. Harus ada gerakan-gerakan yang secara intensif dan berkala mendampingi narasi besar itu. Harus ada upaya yang sinergis antara berbagai komponen yang meliputi negara dan rakyat, kekuasaan dan massa, pun media, untuk secara bersama menegakkan sejumlah pilar penyanggahnya.

Lalu bagaimana cara kita mendekati kebudayaan yang sudah terlanjur dipercayai sebagai sebuah ekspresi komunal dari sebuah masyarakat yang bergerak? Jawabannya adalah terus berproses untuk membuat Melayu (sebagai sebuah identitas budaya) menjadi terus bergerak, bahkan berlari. Sebab bukankah kini kita hidup di zaman yang serba berlari? Melayu harus berlari menemukan sebuah konsensus yang telah sejak lama tersedia dalam nilai-nilai tradisi. Kini banyak keyakinan bangkit tentang kuasa lokal dalam upaya melumpuhkan serbuan kekuatan dari luar. Dan itulah kekuatan ideologis kita.

Kenapa ideologi? Sebab, sistem ideologi itu menurut Nicos Hadjinicolaou (1978), tidak semata soal pengetahuan dan gagasan, akan tetapi juga soal simbol, mitos, gaya hidup, televisi, media massa, iklan, dan semua model kehidupan masyarakat. Artinya, begitu kita bicara soal ideologi maka serta merta pemahaman kita justru meluas ke berbagai seluk-beluk prilaku kehidupan manusia yang lebih kompleks. Tidak terjebak pada yang fragmentarisme semata, artifisial belaka.

Dalam sebait puisi saya yang berjudul “Di Daun Tingkap yang Patah Sebelah”, saya menulis begini:

….Tapi tak sesedap saat ter-sesat
dalam dekap, dalam rumah adat
yang tak bertingkap.
Sebuah keluarga, ia duga
telah ranab asal-usulnya.
Dan mereka terus berseru
dari balik tiang-tiang surau
dari perahu-perahu tak berhulu.
Akulah melayu! akulah me-layu!…
_____________________
*) Marhalim Zaini, Seniman Pilihan Sagang 2011. Tulisan ini adalah naskah orasi budayanya yang dibacakan saat menerima Anugerah Sagang di Pekanbaru, Ahad, 28 Oktober 2011. Saat ini sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana FIB Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/11/akulah-melayu-yang-berlari-percakapan.html