Politik Sastra: Sastra Sebagai Barang Biasa

Muhammad Taufiqurrohman *
http://bahas.multiply.com/

Sastra adalah sebuah produk kebudayaan ‘biasa’. Ia adalah makhluk biasa-biasa saja yang lahir dalam sebuah rentang peradaban umat manusia. Sebagaimana produk-produk kebudayaan yang lain —sebut saja politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya— ia datang ke dunia dengan segala karakteristik, kodrat, keperluan, kepentingan, kelemahan juga kekurangan yang dibawanya. Juga saya pikir, sebagai barang ia tak ubahnya tempe penyet, busway, batu-nya ponari, dan laptop. Continue reading “Politik Sastra: Sastra Sebagai Barang Biasa”

Perkawanan, Kawabata, dan Novel Terjemahan

Zakky Zulhazmi *

Di penghujung 2010 yang lalu, pada akhirnya, saya berhasil menamatkan satu novel terjemahan: Keindahan dan Kesedihan (Beauty and Sadness/Utshukushisa To Kanashimi To) karya Yasunari Kawabata. Novel terbitan Jalasutra dengan cover yang menurut saya eksotik ini saya khatamkan kurang dari seminggu. Atas novel ini saya punya cerita tersendiri bagiamana cara memperolehnya. Tapi sebelumnya izinkan saya bercerita bagiamana pandangan saya teradap novel terjemahan. Continue reading “Perkawanan, Kawabata, dan Novel Terjemahan”

‘Bumiputera’ dan Orang Indonesia

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 7 Nov 2011

Mohammad Hatta, seorang intelektual tenar, menyuguhkan esai bertajuk “Soal Bahasa Indonesia” di majalah Pemandangan (Nomor 239/240, 26-27 Oktober 1941). Pada 1930-an dan 1940-an, bahasa Indonesia adalah soal darurat dalam dunia jurnalistik dan politik. Bahasa Indonesia memang mulai hidup, tapi riuh dengan persoalan-persoalan pelik tentang linguistik, etik, estetik, dan politik. Keributan pemakaian istilah di pelbagai surat kabar memunculkan kecaman, apologi, dan perdebatan. Para ahli bahasa menamai bahasa Indonesia di sekian surat kabar kala itu sebagai bahasa sarap alias kotoran. Continue reading “‘Bumiputera’ dan Orang Indonesia”

Puisi-Puisi Nunung S. Sutrisno

http://www.lampungpost.com/
di sepanjang jalan di sebuah kota tak bernama

angin melambat lamat lamat mengucap lelaku bebayang pada pohon
hujan kian menggeliati tubuhnya
lampu padam sekitar sejam yang lalu
mencakar kenangan merah jambu yang begitu masygul bersemu biru
tak ada catatan yang kau buat di dinding dinding kota hari ini
hanya sisa cemas yang terus menggelantung di bibirmu Continue reading “Puisi-Puisi Nunung S. Sutrisno”

Berangkatlah di Hari Selasa

Indrian Koto
lampungpost.com

BEGITULAH. Inis yang sudah lama menghilang kini kembali ke rumah. Semua orang meributkan kejadian itu. Kedatangan dan kepergiannya sungguh jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Dulu ia pergi dengan keadaan paling murung dan dikutuk banyak orang: melompat jendela, di hari Selasa, di tengah malam pula. Kini dia pulang dengan kesempurnaan seorang wanita. Cantik dan kaya. Continue reading “Berangkatlah di Hari Selasa”

Bahasa »