Berangkatlah di Hari Selasa

Indrian Koto
http://www.lampungpost.com/

BEGITULAH. Inis yang sudah lama menghilang kini kembali ke rumah. Semua orang meributkan kejadian itu. Kedatangan dan kepergiannya sungguh jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Dulu ia pergi dengan keadaan paling murung dan dikutuk banyak orang: melompat jendela, di hari Selasa, di tengah malam pula. Kini dia pulang dengan kesempurnaan seorang wanita. Cantik dan kaya.

“Berubah sekali dia tampaknya. Jengatnya putih berkilat, gelang dan kalung bergelantungan di badannya. Senang benar tampaknya hidup dia,” kata Mak Tando pagi itu di kedai Guru Abek sambil mengunyah lontong gulai cubadak. Lepau itu tampak ramai sepagi ini, oleh orang tua dan gadis muda.

“Tak itu saja, Mak Tando. Kulitnya berminyak, bajunya bagus-bagus. Awak melihat benar dari dekat, dan bercakap-cakap barang sekejap,” ujar Tek Sidar tak mau kalah.

“Iyalah, jadi orang dia tampaknya. Tidak serupa anak gadis kita, yang kusut dan tampak hitam. Berpanas setiap hari. Aih, kulitnya tiada berdaki, mukanya bersih berkilat, tidak serupa kita yang dipenuhi bintik hitam dan jerawat batu meskipun sudah pakai bedak beras,” Ijui menyahut pula dari sebelah.

“Entah rantau mana yang dia tuju sehingga bisa hidup sesenang itu,” kata Mak Tando, sambil meletakkan piring makannya. Bersendawa besar dan segera meraih gelas minum.

“Itu yang belum sempat awak tanyakan. Bertemunya sebentar saja awak dengannya, kemarin pagi, ketika awak hendak ke mengatur air di sawah Munggu.” Tek Sidar mengusap mulut, menggigit kerupuk merah yang berderuk. “Awak cuma bertanya, ‘Kapan datang, Nak Gadis?’ dia menjawab sambil tersenyum, berseri-seri muka dia. ‘Tek Sidar, ya? Baru semalam’ begitu jawabnya. Masih ingat jua dia dengan orang gaek ni. ‘Ah, tidak akan lupa awak do, Tek’ katanya pula. Lalu dia bertanya soal anak-anakku. Ya kubilang saja apa adanya ‘Nde Nak, oi. Si Igus sudah beranak dua, Nan Tina alah meranda, Osep dan Kudil di Malaysia, mengekas mencari beras. Si Andi sudah tak tahu ke mana, hilang lenyap di rantau orang. Sangsai, Nak oi. Sangsai’ begitu kata awak. Nan dia tersenyum saja dan menyuruh awak bersabar saja.”

Selesai bercerita, Tek Sidar kembali mengunyah sisa lontongnya, lalu memesan bubur pulut hitam. “Pakai lupi,” Katanya pada Empol yang sibuk di belakang meja.

Idek mendengus. “Tapi, bagaimana pun dia pernah berbuat salah,” katanya. Semua perempuan yang ada di lepau itu terdiam sejenak. Ingatan mereka mundur ke belakang, beberapa tahun yang lalu.

“Ah.. apa yang dikerjakan di rantau coba sehingga bisa tampak sesenang itu. Siapa pula yang tidak mencoba merantau di kampung ini, tak ada yang tampak serupa dia. Masa merantau dengan ijazah SMA saja bisa pulang dengan emas sebanyak itu. Negeri mana malah yang dia pijak?” Idek kembali mencerocos. Semua orang diam mendengarkan. “Tak ada yang tahu bukan, ke mana dia menghilang lima tahun ini? Dan apa kerjanya di rantau orang?”

“Benar itu,” Ijai menyahut dari seberang meja. “Anak gadis merantau sendiri, tak lazim pula tanah yang dia pijak. Entah di negeri mana malah dia berdiam.”

Warung kecil yang terdiri dari pondok di depan rumah Guru Abek itu mendadak sepi. Para perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri juga beberapa anak sekolah memenuhi pondok kecil itu yang terletak di bawah pohon jambu air besar yang daunnya bertebaran di musim panas begini. Di seberang, di bengkel Sibe, Epen tampak memutar-mutar mesin dinamo. Sepagi ini tangannya sudah hitam oleh oli dan gomok. Di jalan, beberapa anak sekolah berjalan agak ke pinggir. Beberapa remaja SMP dan SMA bergerombol di depan pagar, menanti oto yang akan mengangkut mereka ke sekolah masing-masing. Beberapa oto tambang balai berhenti di depan mereka, sebagian masih tampak kosong, tapi tak satu pun dari mereka bergerak.

“Ndak, Da. Nanti saja,” jawab mereka setiap kali oto berhenti.

Selalu seperti itu, mereka menunggu angkutan yang lebih bagus, yang mesinnya masih halus, catnya belum menggelupas.

“Belum juga berangkat, Kau,” pekik Ni Janah pada anak gadisnya yang memakai seragam SMP.

“Amak ini. Nantilah. Menunggu oto Uda Ijal.”

Begitulah setiap pagi, kampung kecil itu telah berdenyut jauh sebelum embun pecah dan kabut terbuka. Subuh, mereka, para ibu dan anak gadisnya bersitungkin di dapur, merebus air, menghangatkan gulai semalam, memasak nasi, mencuci piring. Anak gadis memilih jalan aman, menyapu halaman. Ketika matahari baru tumbuh di balik Bukit Timbulun, laki mereka sudah bangun. Dengan sarung melilit mereka menyerbu kamar mandi. Segera segelas kopi terhidang di atas meja. Setelah itu anak-anak berebut mandi, siap-siap hendak sekolah. Si ibu menyerbu warung, membeli sabun dan keperluan dapur lalu masuk ke kedai lontong.

Pagi sepenuhnya milik perempuan. Laki-laki cukup menikmati segelas kopi dan beberapa potong kue yang dijajakan anak-anak sebelum berangkat ke sekolah, atau dibeli sang istri dari warung. Selalu tersedia godok kalau tidak onde-onde ubi, kue tepung tapai, kue talam, goreng pisang, ubi atau talas. Ritual pagi sebelum mereka menyantap nasi dan berhembus ke sawah dan ke ladang.

“Siapa yang bisa tahu kerjanya dia?” Suara Idek membuyarkan lamunan penghuni lapau kecil itu.

“Coba bayangkan, di negeri mana yang bisa membuat orang sesenang itu. Lihat dia, tinggi terurus, bersih dan ramping. Kesenangan terpancar benar dari wajahnya. Banyak pula uangnya. Tentu kerjanya bersenang-senang saja. Nah, kita tahu belaka, kata amaknya, Etek Rainas, dia belum juga berlaki. Lalu duit dari mana pula dia dapat? Dan usia setua itu belum berlaki? Tak percaya awak.” Ketus terdengar suaranya.

“Ho.. lihat saja pantatnya sudah kempes. Siapa yang ngasih uang pada dia untuk makan dan bersenang-senang kalau dia tidak…,” Ijai menjawab sambil mengusap bibirnya yang merah oleh gincu, sebagian lengket di tangan. Dia tak melanjutkan kata-katanya, memandang orang sekeliling.

“Melonte. Tentu saja melonte.” Suara Idek terdengar keras, sampai ke pinggir jalan, di mana para remaja masih bersitungkin menunggu mobil. Terdengar ke telinga Epen yang sedang memutar mesin dinamo.

***

INIS bukan tak tahu percakapan itu. Jauh sebelum kepulangannya kini, sudah dia duga kemungkinan-kemungkinan itu. Ia paham belaka bagaimana orang-orang di kampungnya mempercakapkan siapa saja, menyingkap aib siapa saja. “Mobil yang mendaki, mereka yang sesak napas,” begitu kata Amaknya berkata ketika dia pulang. “Tapi ndak usahlah diambil hati. Memang sudah begini perangai orang kita. Kita yang mengalami peristiwa baik-buruk, orang lain jualah yang meributkannya.”

Dan dia, dengan keberangkatan yang tidak wajar telah membuat aib keluarga itu serupa tak selesai-selesai. Kepergiannya di sebuah malam, di hari Selasa dengan melompati jendela telah membuat orang ribut dan menganggap tindakannya sudah keterlaluan.

Jika kini banyak orang mempercakapkannya dengan segala kebaikan dan keburukan dia tak lagi merisaukannya. Kampungnya, di mana hamparan sawah, gunung, dan pantai yang memanjang, serupa nasib orang-orang: retak di musim kemarau, bocor di musim hujan. Sawah tak lagi menjanjikan, bukit-bukit terbakar, ladang dibiarkan menjadi hutan. Waktu lebih banyak dihabiskan para ibu dan anak gadisnya di beranda, mencari kutu dan bercakap ini-itu. Kampung makin lengang, anak muda mencoba mengadu nasib ke negeri orang. Kepulangan tak membawa perubahan apa-apa. Jalan makin lengang, warung kopi hanya diisi oleh gerutuan-gerutuan dan obrolan-obrolan ringan, sebentuk kekalahan laki-laki di sawah-ladang. Laut tak pula bisa diharapkan. Debu berterbangan sepanjang siang.

Di musim-musim seperti itu Inis pulang, saat di mana orang-orang merayakan kekalahan gemilang. Kampung serupa penjara kecil saja. Dalam keadaan serupa itu, ia bisa membangunkan rumah buat keluarganya. Rumah yang sudah lama doyong dan lapuk. Sebagai anak tertua dia merasa berkewajiban membantu keluarganya. Tiga orang adiknya kali ini bisa memperlihatkan muka di depan banyak orang. Rumah mereka sudah berlistrik, motor bebek terparkir di depan rumah yang sepenuhnya baru: rumah batu beratap tinggi, lantai keramik, membuat siapa saja betah berteduh di sana.

Orang-orang kini tak lagi perlu bertanya apa yang dikerjakan di rantau orang. Hampir tak ada yang mempercakapkan lagi bagaimana dia bisa tidak terkena tulah oleh sikap nekat dan keterlaluannya dulu, yang pergi diam-diam dan tak layak dilakukan oleh seorang anak gadis: melompat jendela di malam buta, di hari Selasa pula. Selasa adalah hari api, tak baik melakukan perjalanan. Tapi Inis, dengan kenekatannya, dalam waktu beberapa tahun saja mampu memperlihatkan kepada orang sekampungnya, tak ada bala, tak ada apa-apa yang buruk terjadi padanya.

“Untung kau tidak menerima pinangan Epen dulu, Nak. Bakalan sengsara kau,” bisik Mak Tando padanya. Hampir sepanjang siang rumahnya dipenuhi ibu-ibu sekadar berbincang dan numpang berteduh di beranda yang dingin itu.

“Kenapa memangnya, Tek?”

“Wah.. lihat saja dia sekarang. Kapalnya habis terjual. Usaha kayunya tak jalan-jalan. Usaha penjualan terinya pun mengambang di tengah jalan. Kau lihat dia sekarang, orang kaya itu terlunta-lunta, menumpang kerja di tempat orang. Tiap hari tangannya bergomok, sepanjang siang membongkar dinamo dan mesin-mesin. Di sini Nak, hidup selalu menurun, tak pernah mendaki…”

Inis menarik napas. Ia ingat betul, keluarga Epen adalah orang kaya. Dia yang berkuasa atas teri dan ikan asin di pelabuhan batang Surantih. Dia punya kapal penangkap ikan, semua kini habis terjual.

“Orang kaya ternyata punya utang banyak pula. Seperti kita juga.” Balas Mak Itam sambil mengunyah sirih.

Tapi itu pula yang mencemaskannya. Kepulangannya kali ini hanyalah untuk menengok sang ibu yang sering sakit-sakitan dan sekadar melepas kerinduan. Tapi kepulangan ini pula yang membuatnya berat hati. Orang-orang semakin banyak berkeluh padanya. Orang tua tentang anak gadisnya, para dara yang mempercakapkan nasibnya. Kesimpulan dari itu semua adalah keinginan mereka mengikuti jejak Inis ke tanah rantau. Ke tanah lain yang tak terpikirkan oleh orang-orang, kecuali untuk melanjutkan sekolah. Tanah Jawa, negeri sendiri tetapi begitu asing di telinga.

“Bagaimana pula mencari kerja di sana. Sedang mereka berbondong-bondong datang ke sini, ke tempat terpencil dan tak tersentuh cangkul.” Kalimat Epen itu masih terngiang di telinganya ketika dia mencoba mendekati Inis.

“Siapa tahu, Da. Siapa tahu awak bisa mengadu untung ke sana. Belum terniat awak menikah,” elaknya.

“Apalagi yang kau pikir. Kalau kita sudah berkeluarga, tentu keluargamu tak morat-marit macam begini. Adik-adikmu bisa sekolah, dan amakmu tak perlu lagi jualan sayur ke pasar. Semua sudah ada. Semua sudah tersedia.”

“Tapi awak ingin merubah nasib dengan tangan sendiri, Da. Awak masih muda.”

Itu yang membuat Epen sakit hati. Alasan masih muda terasa tidak pantas didengarkan di sini. Kawan-kawan seusianya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Dia sudah tamat SMA dan sudah setahun pula menganggur. Tapi dasar dia keras kepala. Kenekatan itu pula yang membuatnya pergi jauh-jauh. Ke rantau, tempat di mana tak ada orang-orang kampung dan dikenal.

Kini, mata semua orang berharap padanya. Ingin mencoba peruntungan yang sama. Malaysia, tanah seberang sudah lama tak menjanjikan. Ringgit yang terkumpul tidak bertuah. Mereka yang berangkat hanya memperkaya para calo saja, dan ketakutan membantai mereka sepanjang hari. Pengusiran sepanjang waktu menguntit mereka. Pendatang haram, ah, tahulah bagaimana nasibnya.

Dan dia mendengar keluhan sepanjang hari dari mereka, para gadis dan orang tua tentang nasib mereka dan anaknya. Inis semakin gamang saja. Sepanjang waktu ini mereka tak lagi bertanya apa pekerjaannya Jakarta sana. Mereka tak lagi soal apakah hanya sekadar menjaga restoran padang, tukang cuci, pengasuh anak, dan sebagainya. Yang meraka inginkan hidup mereka bisa berubah dan pulang serupa Inis.

Malam itu, sehari sebelum keberangkatannya Inis tak bisa tidur. Bagaimana cara mengatakan pada mereka bahwa, memang di tanah ini, untuk kerja yang baik dan gaji yang besar bukan milik mereka, orang-orang kampung yang lugu. Dia tak ingin orang-orang kampungnya mengikuti jejaknya. Pekerjaan apa yang bisa didapat dengan mengandalkan tenaga saja? Ia tak tega jika para gadis kampungnya harus serupa dia, mengumpulkan uang dari keringat dan apak kasur, lewat desahan dan rintihan. Ia tak kuat membayangkan.

Satu yang terlintas di kepalanya adalah, barangkali akan melakukan kekonyolan yang sama serupa dulu. Melompati jendela dan berangkat dengan segera, tepat di hari Selasa.

2007-2011