Kritik Sastra Katrin Bandel

Zahir
banyuarum.blogspot.com

Tahun-tahun terakhir ini, dunia sastra Indonesia geger dengan datangnya dua isu “perempuan” dan seks. Isu perempuan dan seks dalam arti pengarang perempuan yang semakain menjamur, maupun isu tentang seks sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren sekarang ini. Meskipun tergolong muda tidak sedikit dari mereka (pengarang perempuan) mendapatkan penghargaan sastra dari pengamat dan kritikus sastra dan Klaim-klaim sebagai pendobrak tabu dan lain sebagainya. Continue reading “Kritik Sastra Katrin Bandel”

Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi

Katrin Bandel *
http://boemipoetra.wordpress.com/

Pramoedya Ananta Toer mungkin merupakan sastrawan Indonesia yang paling banyak dibahas dan dikaji di luar Indonesia. Bahkan, selama karyanya dilarang beredar di Indonesia, hanya peneliti di luar negeri – baik orang asing maupun orang Indonesia yang bermukim di negara lain – yang bebas membahas karya Pramoedya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi”

Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah

Ribut Wijoto

Lokomotif modernitas bermula dari gagasan Rene Descartes tentang “pikir”, tentang “kesadaran”. Lewat ungkapan masyur cogito ergo sum (terjemahan populernya, “aku berpikir, maka aku ada”). Rene Descartes meyakini diri “ada” melalui “pikiran” yang meragukan segala hal. Lalu muncul wacana antroposentrisme, manusia sebagai pusat alam semesta. Continue reading “Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah”

Sihir Rempah dan Nestapa Nusantara

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

Sejarah Rempah: Dari Erotisme ke Imperialisme. Jack Turner. Penerjemah: Julia Absari. Komunitas Bambu, Depok, 2011. 380 hlm.

TERNATE itu sihir untuk para penguasa dan petualang di dunia. Mereka penasaran untuk menikmati dan menguras rempah. Ternate dengan berlimpahnya rempah telah memberi pengaruh besar atas arus sejarah perubahan dunia. Continue reading “Sihir Rempah dan Nestapa Nusantara”

Bulan Bulat

Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

DIPERMAKLUM dengan hormat bahwa saya ini orang terhormat, terpandang dan terdengar. Kehormatanku ini disebabkan saya memiliki kemaluan—abstraksi dari /malu/ diberi awal /ke/ dan akhiran /an/—yang mana amat sangat luar biasa. Menjadi tanda citra yang kerap dijadikan cerita penduduk negeri. Bahkan seorang penyair istana tak segan mengulum kemaluanku untuk lahirkan syair bersperma tanah air: Continue reading “Bulan Bulat”

Bahasa »