Seniman Organik: Sebuah Upaya Penyadaran

Matroni Muserang *
Radar Madura, 23 Sep 2018

“Orang yang tidak mampu menikmati merdunya suara dan indahnya notasi musik, maka adanya sama dengan tidak ada, sekali pun hidup, ia mati adanya”.

Rangkaian kata yang dilantunkan oleh Syaikh Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Hikmah fi Makhuqatillah sebagai pembuka tulisan saya yang ingin menanggapi tulisan Syah A. Lathif di Jawa Pos Radar Madura pada hari Minggu 2 September 2018 “dari ladang jagung; mencari Praktik seni Penyadaran” membuat pikiran gelisah dan risau akan eksistensi seni yang “ada” di tanah Sumenep. Continue reading “Seniman Organik: Sebuah Upaya Penyadaran”

PENYAKSI

Taufiq Wr. Hidayat *

Malam itu udara dingin mengantarkan saya ke rumah Kiai Sutara yang sederhana. Lingkungan pinggiran kota yang tak ramai. Surau kecil dekat rumah Kiai Sutara. Pohon-pohon. Jalan kecil yang sepi. Rumah kecil yang dipenuhi bonsai. Terdapat lampu tua. Dan di kursi dan meja kuno itu, tampak seorang tua duduk. Terdengar suara musik klasik dari pemutar lagunya. Saya sendiri tidak tahu musik apa itu. Continue reading “PENYAKSI”

Puisi, Bencana, Bisu

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 16 Feb 2014

“….di sinilah, saat syahadat ia gumamkan serupa sesayat kilat,
Di hatinya tumbuh burung-burung putih, seperti malaikat,
Menyeretnya serupa air bah, ke puncak seluruh gunung…”

“….makna kelahiran, katamu/ seperti benih-benih puisi/ yang panas dalam rahim
kata-kata/ dan yang gugur itu,/ asap debu dari ampas/ mimpi-mimpi mereka…”
Continue reading “Puisi, Bencana, Bisu”

Bahasa »