
Fatah Anshori * Continue reading “F. Aziz Manna Playon”
Kato jadi Daging Tulang
Marhalim Zaini *
Sejak lama, banyak orang risau—termasuk para penyairnya—bahwa puisi susah sekali “diterima” oleh publik luas. Nasib puisi, “dianggap” kerap marjinal, secara popularitas, bahkan jika dibandingkan dengan sesama genre sastra sekalipun; cerpen atau novel misalnya. Orang, terkadang, berharap puisi dapat diterima seperti diterimanya mi instan oleh semua lidah lintas usia. Espektasi terlampau besar semacam itu, dengan cara pandang (teramat) umum, kadang, membuat kita kian hari kian tak percaya lagi pada kekuatan kata-kata dalam puisi. Puisi-puisi yang terlahir kemudian pun, selalu (dan berupaya keras) untuk “didekat-dekatkan” dengan publik. Seolah, berupaya untuk membuat puisi tak berjarak dengan publik. Continue reading “Kato jadi Daging Tulang”
Siapa Peduli Buku Sastra Medan?
J Anto
PENGALAMAN tak terlupakan bagi Yulhasni, beberapa hari setelah buku kumpulan cerpennya Bunga Layu di Bandar Baru terbit dan sampai ke tangannya dari sebuah penerbit di Jakarta, ia lalu bergegas mempromosikan bukunya. Pertama tentu ia memanfaatkan jaringan pertemanan yang ada. Continue reading “Siapa Peduli Buku Sastra Medan?”
Ziarah Lingkungan: Sebuah Ziarah Kebangsaan
Matroni Muserang *
Radar Madura/ 2019/3/4
Bangsa yang besar adalah yang bangsa yang mampu menghidupkan tanah dan jiwanya. Untuk menghidupkan itulah kita membutuhkan perangkat penghidup. Perangkat itulah bernama ilmu dan pengetahuan. Untuk mendapatkan Ilmu manusia harus belajar dan membaca. Untuk mendapatkan pengetahuan manusia harus hijrah dan ziarah. Namun untuk menghidupkan tanah Indonesia yang sangat subur itu tidak mudah, membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran yang tinggi. Manusia yang hanya memiliki kepentingan kemanusiaan dan ke-alam-an. Continue reading “Ziarah Lingkungan: Sebuah Ziarah Kebangsaan”
Pesan Umbu untuk ‘Em’ di Malam Ihtifal Maiyah

Helmi Mustofa * Continue reading “Pesan Umbu untuk ‘Em’ di Malam Ihtifal Maiyah”
