Koper Ayah Saya, Pidaro Nobel Sastra Orhan Pamuk 2006

Penerjemah: Tia Setiadi
Majalah Sastra Horison, edisi Des 2014

Dua tahun sebelum kematiannya, ayah saya memberikan kepada saya sebuah koper kecil yang sarat dengan tulisan-tulisan, manuskrip-manuskrip, dan catatan-catatannya. Dengan separuh bercanda dan separuh mencemooh, dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin saya membacanya setelah dia “pergi”, yang artinya setelah dia wafat. Continue reading “Koper Ayah Saya, Pidaro Nobel Sastra Orhan Pamuk 2006”

DARI SA’DI KE BOCCACCIO: WARISAN SASTRA PANDEMI

Hamid Dabashi
Diterjemahkan oleh Dwi Pranoto

Kesusastraan dapat membantu kita bertahan dari pandemi ini dengan kekayaan konstelasi mental, moral, dan daya kritis.

Ketika kasus dan korban Covid-19 meningkat secara global, para pakar medis sangat khawatir tidak hanya mengenai virus itu sendiri, tapi juga mengenai meningkatnya kecemasan dan menajamnya ketakutan orang-orang yang sedang mengalami saat mereka berusaha menghadapi pandemi. Continue reading “DARI SA’DI KE BOCCACCIO: WARISAN SASTRA PANDEMI”

Suparto Brata Mencari Sarang Angin

Fatah Anshori *

Nama Suparto Brata pertama kali saya kenal ketika membaca Jurnal-jurnal Eka Kurniawan. Saya tidak tahu banyak tentang Suparto, saat saya mencoba mencari informasi dari Wikipedia, Suparto terkenal dengan sastrawan berbahasa Jawa. Ia lebih banyak menulis cerita fiksi dalam Bahasa Jawa. Dalam novel Mencari Sarang Angin, rasanya kepiawaiannya dalam menggunakan Bahasa Jawa memang sedikit banyak terlihat. Sehingga saya tak akan menyalahkan Wikipedia atas informasi tersebut. Continue reading “Suparto Brata Mencari Sarang Angin”

Bahasa »