Penyair dan Puisinya

Marhalim Zaini *

“Apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata?
Pada hanya sebuah kata?”

Baris terakhir puisi Rida K Liamsi yang saya kutip di atas berjudul “Surat kepada GM.” Dalam puisi itu, dua kali, Rida bertanya, ihwal “apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata?” Andai yang bertanya semcam itu bukan seorang penyair, dan bukan dalam sebuah puisi, agaknya kita boleh maklum. Continue reading “Penyair dan Puisinya”

Mencari Tokoh Bagi Roman

Iwan Simatupang

Tokoh yang bagaimana saja bisa tampil dalam roman. Terserah teknik pengarang, mana didulukan. Tokoh dulu, baru menyusul cerita bersama persoalan gaya. Atau, sebaliknya.

Seorang Giraudoux memilih yang sebaliknya. Cari dulu gayanya, idenya menyusul kemudian, kata dia. Dengan ide antara lain maksudnya tokohnya, tokoh-tokohnya. Sedangkan Proust bertahun-tahun mencari tokohnya dulu. Sekali ketemu, tokohnya itu (walau ini dirinya sendiri) tak mudah lagi meninggalkannya. Hasilnya, A la Recherche du Temps Perdu,  berjilid-jilid. Dan berapa banyak pengarang atau calon pengarang lainnya, yang keburu mati tanpa kunjung menemu tokohnya, gayanya? Continue reading “Mencari Tokoh Bagi Roman”

Sastra Indonesia dan Predikat In Cognita

Khairul Mufid Jr

Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, kita pasti mengenal nama sastrawan seperti Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, W.S. Rendra, Y.B. Mangunwijaya, atau Gunawan Muhammad dan Sapardi Djoko Damono. Mereka adalah pelaku sastra Indonesia yang berjuang untuk mempromosikan budaya dan karya Indonesia di mata dunia. Namun usaha mereka tidak semulus yang dibayangkan, secara galib karya mereka hanya dikonsumsi oleh kalangan akademis atau universitas yang (kebetulan) memiliki program kajian bahasa dan sastra Indonesia, ketimbang di publik yang lebih luas. Continue reading “Sastra Indonesia dan Predikat In Cognita”

Bahasa »