Di Gaza Kami Rindu LemahlembutMu
di jalur ini
telah berabad-abad rakaat
kami rindu KemahalemahlembutanMu
melalui anak-anak manjaMu
melempari kami dari segala penjuru
dengan berbagai alat pemusnah
paling mutakhir
di jalur ini
telah lahir begitu banyak ratapan
ketika kehilangan demi kehilangan
menjadi mimpi selalu kami temui
dari kelam ke kelam
apakah kami benar-benar bebal
hingga tak dapat menangkap
isyarat kekerasanMu
selalu Engkau timpakan
selama berabad-abad khianat
diantara ratap-ratap
pada jalur-jalur pengap
oleh kefakiran kami
Januari 2009
Poster-Poster 2009
ini tentang wajah-wajah
terpampang ramah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan akting paling rupawan
berharap-harap sekali tikaman
di bagian manapun yang paling aman
ini tentang wajah-wajah
terpampang murah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan slogan-slogan semanis durian
berharap-harap sekali tusukan
buat nangkring di kursi nyaman
ah, ini hanya tentang muka-muka
dengan senyum paling ceria
seperti bersenandung dan meminta:
”pilihlah aku jadi……………….”
membuat aku berlagu pilu:
”how can I explain the sorrow and my pain…………….”
Januari 2009
Lembah Hijau
aku ingin berguru
kepada engkau, lembah hijau
tetap indah meski tempat ngalir
segala limbah segala resah
menuju rata tanah
aku ingin berburu
dalam engkau, lembah hijau
agar jiwaku menyatu
dengan onak dengan semak
ah, ternyata aku hanya bergurau
kepada engkau, lembah hijau
begitu banyak puncak-puncak
menjulang di gunung hatiku
mengharap dongakan dan tundukan
wajah-wajah ramah
Ujung Desember 2008
judul terinspirasi setelah mendengarkan lagu Lembah Damai – Ahmad Albar
Di Pasar Senggol
membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
sepanjang jalan Arif Rahman Hakim
sebuah surga bagi para pedagang kaki lima
pada jarak lintasan pipa dan rel kereta tua
semua ada semua tersedia
aku pesan pada seorang pelayan
wajah bening lumayan
dua porsi makanan
satu untukku satu untukmu
karena engkau tak ada disisiku
akupun menghabiskannya untukmu
membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
sepanjang jalan Arif Rahman Hakim
aku tak ingin seperti mereka,
seperti seorang kekasih tak setia
menunggu dan berharap-harap
hampiran lalu lalang orang-orang
untuk sebuah penghidupan
membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
duduk pada sebuah kursi jati berjajar rapi
aku hanya bisa meredam kata-kata hati
agar tak bergerak dan memberontak
seperti gerbong-gerbong kereta tua
berderak-derak ke stasiun kota
ketika aku saksikan berpasang para muda
saling bergenggaman dan bersuapan
mesra seperti tak ada siapa-siapa
menarik anganku pada suatu masa
ketika kita tak hirau sekitar kita
Gresik, 24 Desember 2008
